Liverpool Kian Merana, Bangkit atau Bye-bye Panggung Eropa
Sosok Arne Slot begitu menjanjikan di awal kedatangannya. Namun di musim keduanya, kepercayaan publik perlahan memudar dengan rentetan hasil yang tak mengesankan.
Awal paruh kedua musim 2025/2026 seakan jadi barisan cerita mengecewakan bagi penggemar. Hanya satu kemenangan yang diraih Liverpool dari tujuh laga Premier League terakhir.
Meski sempat menang 4-1 atas Newcastle pada 1 Februari, kalah 1-2 dari Man City 'bak bisul pecah'. Tumbang dari rival kuat membuat Si Merah gagal memanfaatkan momentum untuk kembali ke jalur hijau.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arne Slot jadi sasaran amarah. Komentar pedas mengarah ke juru taktik asal Belanda itu dalam manajemen pemain. Terlebih Liverpool begitu pasif di bursa transfer musim dingin padahal jor-joran di tengah tahun.
Liverpool merekrut enam pemain baru dengan skema transfer. Angkanya fantastis, mencapai 482 juta Euro atau Rp9 triliun. Namun secara individu, banyak pemain anyar yang belum paten betul.
Utamanya Jeremie Frimpong, Alexander Isak, dan Giovanni Leoni. Datang dengan harga mahal, Liverpool harus berurusan dengan cedera parah nama-nama tersebut.
Padahal posisi yang ditinggalkan begitu vital. Beruntung di lini depan, absennya Alexander Isak dijawab kegemilangan Hugo Ekitike yang langsung nyetel dengan 33 penampilan dan 16 gol.
Tapi di lini pertahanan Liverpool kepayahan betul. Dua bek kanan, Jeremie Frimpong dan Conor Bradley sama-sama cedera. Ini membuat Dominik Szoboszlai yang notabene gelandang terpaksa mengisi kekosongan.
Dengan kartu merah yang diterima Szoboszlai. Siapa yang harus dipaksa lagi jadi bek kanan lawan Sunderland pada tengah pekan ini? Nama yang memungkinkan mengarah ke sosok Wataru Endo atau pemain muda Calvin Ramsay.
Dengan kehilangan bek kanan utama plus alternatifnya, ada kans pula masalah lain bisa muncul di kemudian hari. Arne Slot harus putar otak dengan stok pemain yang ada.
Dengan hanya berkompetisi di Premier League dan FA Cup saat ini, mestinya Liverpool bisa lebih fokus dalam menentukan prioritas. Jika ingin mengincar Liga Champions, maka konsistensi berada di empat besar jadi kunci.
Bisakah mereka melakukannya?
(ikw/rhr)