SPORTS INSIDER

Timnas Futsal Bersinar di Waktu yang Tepat

Indra Kurnia Purnomo | CNN Indonesia
Selasa, 24 Feb 2026 17:00 WIB
Menjadi runner up AFC Futsal 2026 setelah kalah dari Iran melalui adu penalti 4-5 (5-5) merupakan hasil yang layak didapat Timnas Futsal Indonesia.
Indra Kurnia Purnomo ingatkan Timnas Futsal terus berbenah demi lolos Piala Dunia Futsal 2028. ( Dok. Pribadi)

Perbedaan futsal Indonesia atau Timnas Futsal Indonesia zaman dulu dengan sekarang, jauh. Sekarang ini perkembangan futsal sekarang luar biasa sekali.

Zaman dulu, termasuk saat era saya juara Piala AFF 2010, kan kita masih minim buat pelatih asing. Maksudnya mungkin perbedaan sekarang itu lebih secara taktikal, lebih ke detailnya. Dan mereka tuh ga pelit ilmu juga untuk menyampaikan ke kita gitu, pelatih-pelatih lokal disini.

Karena menurut saya pelatih asing itu, punya ilmu yang banyak. Mereka akan memperhatikan detail. Detail itu hal yang kecil-kecil, karena di futsal penting banget tuh. Hal-hal kecil itu akan jadi faktor pembeda buat di futsal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jadi makanya kenapa tim Hector Souto punya daftar pemain. Dia ingin pemain yang apa kan, dia tahu sesuai dengan kebutuhannya dia. Terus di tim stafnya juga mereka punya analisis juga kan, ada Amril (Daulay), ada yang lainnya juga. Dia menganalisis bagaimana cara bermain. Mau bermain seperti apa. Karakter Timnasnya seperti apa, jelas. Mereka sudah tahu lah harus berbuat apa di lapangan.

Dan memang teman-teman ini, karena sebelumnya Hector Souto juga dari Bintang Timur Surabaya, jadi kurang lebih sih teman-teman udah paham gitu cara bermainnya seperti apa.

Yang mungkin kata orang, oh ini kok bisa gini, ada yang mungkin gak memperhatikan, tapi kalau kita tahu itu detail-detail kecil penting banget. Contohnya ketika kita, Iran bikin skor 3-3 kan terus akhirnya yang nomor 7 pemain Iran (Mahdi Karimi) bikin kesalahan, akhirnya kita bisa bikin gol, itu menurut saya detail-detail kecil banget. Ketika kamu salah passing, atau kamu salah kontrol, itu bisa jadi kesalahan, dan kamu bisa dihukum dengan gol.

Sekarang pelatih-pelatih asing masuk di sini terus pemain-pemain asing juga udah datang semua. Jadi apa namanya, ilmu dan pengetahuan kita tentang futsal itu emang upgrade juga.

Sekarang kan teman-teman pelatih harus update, ya saya juga masih belajar juga harus update nih bagaimana, karena kan futsal terus berkembang ya dengan kondisi yang seperti ini.

Kalau kita lihat Iran, dari zaman saya, mereka memang lebih mengandalkan skill individu sih. Waktu AFC kemarin, ada beberapa pemain Iran seperti Salar (Aghapour) sama (Moslem) Oladghobad. Untuk bicara skill individu mereka di atas kita. Tapi kan yang saya bilang, futsal ini bicara permainan tim, kolektivitas tim, kerja sama tim.

Iran memang unggul dalam skill individu, tapi coba lihat pemain Jepang, mereka juga punya pemain yang unggul dalam skill individu, tapi mereka juga punya teknik dasar yang luar biasa, kontrol, passing, moving. Ya itu aja sebenarnya kan di futsal kan gitu kan, pergerakan, passing.

Pemain Timnas futsal Indonesia Dewa Rizki Amanda (kiri) berebut bola dengan pemain Timnas futsal Iran Hossein Tayebibidgoli (kanan) saat pertandingan final AFC Futsal Asian Cup 2026 di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, Sabtu (7/2/2026). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/agrIndonesia menunjukkan kerja sama tim bisa memberikan perlawanan ketat kepada Iran. (ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA)

Indonesia mungkin punya Brian Ick, yang skill individu-nya cukup menonjol. Tapi beberapa pemain kita yang lain juga bisa bikin gol. Proses terjadinya gol itu juga semuanya tadi dari passing mereka, terus after passing mereka harus kemana, mereka tau gerakannya ke mana.

Lalu first control. Sentuhan pertama yang mereka akan menentukan. Seperti yang golnya Firman (Adriansyah lawan Jepang), semua yang terjadi dari Samuel Eko itu kan proses dari mereka latihan. Jadi kolektivitas tim lebih utama di futsal.

Kalau bicara skill individu itu kan bakatnya, memang bakat alam lah yang emang dimiliki seorang pemain. Futsal ya mungkin butuh lah satu dua orang, tapi kan secara keseluruhan kalo mau saya liat sih ini bicara ya bicara kolektivitas tim, kerja sama tim.

Saat ini Timnas Futsal seperti punya pemain yang 'siap pakai'. Hector Souto sudah punya database 30-40 pemain. Waktu turnamen di China, saat kita juara, itu kan pemain lapis kedua yang diturunkan. Kemudian yang dikirim untuk yang AFC Futsal ini yang di atas.

Kemudian, yang di bawah ini yang di tim kedua ini, ketika mereka perform di tim kedua ini, mereka bisa naik tuh ke atas. Seperti Dewa Rizky masih di tim kedua waktu di China, ada Reza Gunawan juga. Tapi ketika mereka perform, mereka akhirnya bisa naik ke atas.

Kemarin di Piala AFF, ada Rio (Pangestu) juga gak ikut, di SEA Games Rio juga ga ikut. Lalu ketika di AFC dia masuk lagi kan seperti itu. Sebelumnya Romi (Humandri) ada, kemarin gak masuk. Syaiful (Muhammad Syaifullah) masuk di SEA Games, kemarin gak ada. Evan (Soumilena) ga ada karena cedera juga.

Ini sih bagus ya, jadi ada sistem degradasi ketika pemain ini memang gak perform atau cedera, ya diganti yang lain. Gak perform itu bukan arti hal jelek ya, tapi emang performanya mungkin kurang bagus atau apa. Mereka mungkin ditaruh dulu gitu kan di bawah, tapi ketika memang mereka perform selama di liga terus di Timnas, akan masuk dalam tim utama menurut saya seperti itu.

Pemain Timnas futsal Indonesia Syauqi Saud (kiri) berebut bola dengan pemain Timnas futsal Jepang Shunta Uchimura (kedua kiri) pada pertandingan semifinal AFC Futsal Asian Cup 2026 di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, Kamis (5/2/2026). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/foc.Saat melawan Jepang, Indonesia menunjukkan detail kecil yang dibutuhkan dalam pertandingan futsal. (ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA)

Sebenarnya balik lagi ke kebutuhan tim, karena tim ini kan semua pelatih yang menentukan, dia butuh pemain seperti apa, kita mau bermain seperti apa, tapi secara keseluruhan sih gambarannya pasti akan digabung juga sih.

Kondisi seperti ini membuat persaingan di antara pemain lebih sehat. Jadi gak ada jaminan garansi. Selama ini juga gak ada garansi, tapi ketika memang bisa perform, kasih permainan yang bagus, stabil, menurut saya ya akan tetap di Timnas.

Saat ini kita punya generasi penerus yang bagus. Sekarang kalau bicara Thailand. Mereka setelah zamannya Kritsada (Wongkaeo) dan Suphawut (Thueanklang) dan teman-temannya. Mereka ga ada penerusnya lagi gitu. Paling cuman yang (Muhammad) Osamanmusa saja kan.

Selebihnya ya menurut saya, standar saja lah. Enggak yang wah banget gitu. Terus Vietnam pun sama juga gitu. Maksudnya walaupun mereka liganya sudah bagus, sudah jalan, mereka juga. Setahu saya mereka juga pembinaannya bagus juga tuh. Karena kan pemain mereka gak ada yang terlalu istimewa. Kalau menurut saya untuk di Asia Tenggara sih. Kita masih nomor 1 dengan kondisi seperti ini ya.

Tapi pasti gini, pasti bicara untuk berikutnya.
Bicara ada Kualifikasi Piala dunia. Pasti tim-tim ini akan lebih prepare lagi. Lebih persiapan lagi. Karena bicara, oh ya saya di sini hari ini gagal. Mungkin kan defense-nya gagal.

Terus besok berarti Piala Dunia harus bagaimana? Vietnam pernah lolos Piala Dunia kan, Thailand sudah langganan juga. Mereka persiapannya bagus juga kan waktu itu. Kita juga melihat mereka superior juga.

Timnas Futsal Indonesia mengalahkan Thailand dan berhasil merebut medali emas SEA Games 2025. (Dok. Hector Souto)Kehadiran Hector Souto dan pelatih asing lain di liga futsal Indonesia turun mendongkrak kualitas Timnas Futsal Indonesia. (Dok. Hector Souto)

Sedangkan untuk Thailand saat ini, saya melihat karena faktor pergantian pelatih dari Rodrigo ke Coach Hamee. Ada progresnya juga dipegang Coach Hamee, ya walaupun ketemu Irak, akhirnya mereka kalah. Komposisi pemain Thailand juga biasa saja, gak ada generasi penerus.

Semoga saja kita bisa ambil momentum itu. Karena hal yang susah jadi pemain itu, kita menjaga kondisi dan stabil kita ketika bermain kan. Itu sulit banget menjaga performa kita.

Ditambah lagi gairah penonton Timnas Futsal juga banyak juga yang nonton. Walaupun kalau saya lihat saat ini kan euforianya memang berbarengan sama Timnas Indonesia yang vibes-nya masih kencang banget.

Saat Timnas sepak bola memiliki beberapa problem, Timnas Futsal punya prestasi, juara juga. Ya kan? Mulanya kan kita berharap sepak bola bisa lolos Piala Dunia, tiba-tiba tidak lolos.

Terus ada pengobatnya di futsal, menurut saya sih itu faktor juga sih. Faktor yang akhirnya orang jadi mendukung buat futsal. Indonesia jadi tuan rumah pulak, main di Indonesia Arena juga, akhirnya dukungan atmosfernya luar biasa.

Jadi mereka yang mungkin masih kecewa dengan Timnas sepak bola, tiba-tiba sekarang ada futsal kan, dan akhirnya dukung futsal yang memang sebenarnya juga berprestasi.

Dukungan itu yang akhirnya jadi spirit ada tambahan moral buat kita sebagai pemain Timnas, ketika penonton banyak, saya akan kasih yang terbaik dan lebih.

(ptr)

HALAMAN:
1 2