Jalan Panjang Try Sutrisno Bawa Indonesia Raih Emas Olimpiade 1992
Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno meninggal dunia. Try Sutrisno juga punya jejak manis saat memimpin PBSI memenangkan medali emas Barcelona 1992.
Begitu bulu tangkis resmi dipertandingkan di Olimpiade pada 1992, Indonesia sadar bahwa ini adalah kesempatan terbaik untuk meraih medali emas. Prestasi Indonesia di level dunia sejak era 50-an jadi modal kuat untuk percaya diri.
Karena itu, PBSI sebagai induk organisasi bulu tangkis di Indonesia mulai bergerak. Sejak Try Sutrisno terpilih sebagai Ketua PBSI pada 1985, ia sadar bahwa waktu tujuh tahun bukanlah waktu yang panjang.
Tujuh tahun adalah waktu yang singkat dan ia sudah harus mulai memimpin program PBSI untuk memburu emas di Olimpiade Barcelona 1992. Rentang waktu tujuh tahun itu pula yang membuat PBSI sadar tidak akan bisa lagi sepenuhnya bertumpu pada pemain generasi 80-an yang bakal melewati usia puncak kariernya.
PBSI lalu memanggil pemain-pemain muda macam Ardy B. Wiranata, Sarwendah Kusumawardhani, dan Susy Susanti. Mereka masih usia belasan dan lebih dulu masuk kategori pratama tapi diyakini bakal mencapai puncak karier ketika Olimpiade 1992 tiba.
Di tahun pertama, 1985, hanya ada tiga orang yang masuk proyeksi Olimpiade, termasuk Alan Budikusuma dan Hermawan Susanto yang memang sudah ada di Pelatnas Cipayung. Tahun berikutnya, pemain yang dipanggil mencapai 20-an orang.
Pemain-pemain ini benar-benar ditempa dan dibina lewat program-program yang terukur, juga ditangani pelatih-pelatih berkualitas seperti Indra Gunawan, Rudy Hartono, Tong Sinfu, dan Liong Chiu Sia. Persaingan antaratlet yang masuk dalam program ini juga luar biasa ketat.
Seiring tahun berjalan, mendekati akhir era 80-an, pemain-pemain muda yang dimiliki oleh Indonesia mulai mentas dan meraih gelar juara. Mereka pun mulai menapak naik ke papan atas sesuai proyeksi dan rencana awal.
Jelang Olimpiade Barcelona 1992, Susy Susanti jadi pemain yang paling diharapkan meraih emas. Performa Susy Susanti di IBF Tour membuat dirinya dijagokan meraih emas pertama Indonesia di Olimpiade. Sarwendah juga tampil sebagai pemain papan atas di nomor tunggal putri.
Sedangkan di nomor putra, Ardy yang lebih diharapkan karena saat itu ia jadi tunggal putra nomor satu Indonesia. Selain itu ada Alan dan Hermawan yang juga ikut tampil di Barcelona 1992.
Meski punya sejumlah pemain andalan, misi meraih emas tak lantas jadi mudah bagi skuad Indonesia. Ada banyak lawan yang siap mengadang seperti Zhao Jinhua, Thomas Stuer Lauridsen, Huang Hua, Bang Soo Hyun, Tang Jiuhong.
Beban pemain-pemain Indonesia juga bisa dibilang tidak ringan. Keberangkatan mereka ke Barcelona diiringi harapan besar untuk meraih emas pertama dalam sejarah.
Lewat perjuangan keras, Indonesia akhirnya bisa meraih dua medali emas lewat Alan dan Susy. Semarak keberhasilan Indonesia bertambah lantaran Alan dan Susy saat itu merupakan sepasang kekasih sehingga disebut 'Pengantin Olimpiade'.
Selain dua emas, Indonesia juga meraih dua perak lewat Ardy dan Eddy Hartono/Gunawan serta satu perunggu lewat Hermawan. Catatan tersebut membuat Indonesia sukses besar di debut badminton di Olimpiade.
Try Sutrisno berhasil memimpin PBSI mengakhiri misi Barcelona 1992 dengan keberhasilan besar. Warisan Try Sutrisno setelah ia tak lagi menjabat sebagai Ketua PBSI juga masih bisa dirasakan dengan baik.
Indonesia menuai sukses luar biasa di era 90-an berkat pemain-pemain yang ditempa sejak era Try Sutrisno. Emas Olimpiade, Piala Thomas, Piala Uber, hingga gelar juara dunia dimenangkan oleh pemain-pemain Indonesia di era 90-an.
Try Sutrisno yang juga sempat jadi Wakil Presiden Republik Indonesia meninggal dunia Senin (2/3) pada usia 90 tahun.
Berdasarkan kabar dari eks Kepala RSPAD Gatot Soebroto, Albertus Budi Sulistya, almarhum menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 06.58 WIB.
"Jenderal TNI Purn Try Sutrisno wafat Senin, 02 Maret 2026 pkl 06.58 di RSPAD Gatot Soebroto," ujar pria yang sebelumnya dikenal sebagai dokter kepresidenan tersebut lewat pesan singkat.
(ptr/ptr/sry)