Jakarta, CNN Indonesia --
Nasib tim nasional Iran di Piala Dunia 2026 jadi abu-abu menyusul perang di kawasan Asia Barat, yang membuat independensi FIFA dipertanyakan.
Gugurnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei jadi petir di siang bolong. Melebar ke urusan sepak bola, terselip kekhawatiran soal keikutsertaan Team Melli, julukan timnas Iran, di pentas dunia.
"Tidak mungkin mengatakan secara pasti, tetapi pasti akan ada respons. Hal ini akan dipelajari para pejabat olahraga di tingkat tinggi negara," kata Presiden federasi sepak bola Iran (FFIRI), Mehdi Taj.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun yang dapat kami katakan sekarang adalah bahwa karena serangan ini dan kekejamannya, jauh dari harapan kami untuk dapat menatap Piala Dunia dengan penuh optimisme."
Meski ada keraguan FFIRI untuk mengirim tim, sampai saat ini belum ada keputusan resmi. Sejarah mencatat, belum ada kontestan yang mundur dari Piala Dunia karena alasan politik.
Tim-tim yang pernah mundur dalam edisi-edisi sebelumnya selalu mengambil sikap di babak kualifikasi, baik karena persoalan politik atau hal lainnya.
Tentu bakal ada konsekuensi berat bagi Iran jika mundur dari Piala Dunia 2026. Namun, tak menutup kemungkinan pula, FIFA yang mencoret Iran dari daftar dan menggantinya dengan tim lain.
Berdasarkan regulasi Piala Dunia 2026, FIFA memegang penuh kendali terhadap tim yang di kemudian hari tidak bisa memenuhi tanggung jawab sebagai peserta.
Pada Pasal 6 tentang pengunduran diri, pertandingan yang tak bisa digelar, pertandingan yang batal, dan pergantian, FIFA punya hak, termasuk mengganti tim peserta.
Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom juga sudah angkat bicara. Namun suara yang disampaikan belum lugas. Ia menegaskan keamanan bakal jadi jaminan bagi peserta.
Sebagai badan sepak bola dunia, FIFA tentunya tidak bisa ambil sikap dengan tergesa-gesa. Pada saat yang sama, keteguhan FIFA dalam 'memisahkan' politik dan sepak bola juga diuji.
[Gambas:Video CNN]
Baca analisis selanjutnya di halaman kedua >>>
Standar ganda dalam sepak bola seharusnya tak pernah ada. Sebagai badan independen, FIFA harus berpegang pada azas setiap tim punya kesempatan setara untuk berada dalam panggung yang sama.
Tapi, sikap FIFA sempat jadi pertanyaan ketika memboikot Rusia usai menyerang Ukraina. Namun, abai saat Palestina digempur habis-habisan oleh rezim zionis Israel.
Kerenyit mata publik juga bisa terulang jika Iran kemudian kena sanksi juga. FIFA perlu berkaca pada masa lalu saat sejarah mencatat sepak bola berkali-kali jadi solusi damai.
Momen pertama yang tercatat adalah Christmas Truce pada 1914 silam.Tak ada peluru menyentak, tak ada pula tumpah darah. Adanya, sekelompok tentara Inggris dan Jerman justru main bola.
Meski tak ada catatan otentik bahwa ada pertandingan bola pada momen tersebut, foto yang dijepret tentara Inggris itu dianggap sebagai salah satu simbolisasi perdamaian dari sepak bola.
Dan, itu bukan satu-satunya cerita. Bintang timnas Pantai Gading, Didier Drogba, dipandang sebagai duta damai terhadap perang sipil yang terjadi di negaranya.
Konflik di negara bagian barat Afrika itu bahkan sempat berhenti kala Drogba berlutut dan memohon untuk pihak yang berselisih agar sejenak meletakkan senjata.
Pantai Gading yang kala itu mencetak sejarah lolos Piala Dunia untuk pertama kalinya, jadi simbol pemersatu. Sepak bola, lagi-lagi berhasil mengambil peran sebagai kunci perdamaian.
[Gambas:Photo CNN]
Apakah eksistensi di Iran di Piala Dunia 2026 bisa kembali menjadi pionir perdamaian? Waktu yang akan menjawab.
Pada sisi lain, Iran sempat memberi pesan menyentuh di Piala Dunia 1998, saat para pemain memberi bunga mawar putih kepada pemain Amerika Serikat.
Tensi tinggi geopolitik seketika mereda, kala dua kubu menghadirkan pesan damai. Momen manis itu sedianya bisa kembali terjadi. Amerika Serikat harus bisa menjamin keamanan pemain Iran.
Kebetulan Iran dijadwalkan menjalani babak penyisihan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. Ada di Grup G, tim asuhan Amir Ghalenoei bersaing dengan Belgia, Mesir, dan Selandia Baru.
Laga pertama Iran dijadwalkan melawan Selandia Baru di Stadion Sofi, Inglewood, California pada 15 Juni 2026. Pertandingan sebenarnya ini bisa jadi momen penuh damai.
Di tengah blokade warga Iran masuk wilayah negeri Paman Sam, pengecualian terhadap pemain, pelatih, dan ofisial Team Melli harus dilakukan. Keamanan juga harus diutamakan.
[Gambas:Video CNN]