ANALISIS

Amuk Trump: Abu-abu Nasib Iran di Piala Dunia 2026, di Mana FIFA?

Muhammad Ikhwanuddin | CNN Indonesia
Rabu, 04 Mar 2026 07:58 WIB
Nasib timnas Iran di Piala Dunia 2026 terancam akibat perang dengan Amerika Serikat dan Israel. Bagaimana FIFA bersikap?
Pemimpin tuan rumah Piala Dunia 2026 saat menghadiri undian putaran final. (IMAGN IMAGES via Reuters Connect/Amber Searls)

Standar ganda dalam sepak bola seharusnya tak pernah ada. Sebagai badan independen, FIFA harus berpegang pada azas setiap tim punya kesempatan setara untuk berada dalam panggung yang sama.

Tapi, sikap FIFA sempat jadi pertanyaan ketika memboikot Rusia usai menyerang Ukraina. Namun, abai saat Palestina digempur habis-habisan oleh rezim zionis Israel.

Kerenyit mata publik juga bisa terulang jika Iran kemudian kena sanksi juga. FIFA perlu berkaca pada masa lalu saat sejarah mencatat sepak bola berkali-kali jadi solusi damai. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Momen pertama yang tercatat adalah Christmas Truce pada 1914 silam.Tak ada peluru menyentak, tak ada pula tumpah darah. Adanya, sekelompok tentara Inggris dan Jerman justru main bola.

Meski tak ada catatan otentik bahwa ada pertandingan bola pada momen tersebut, foto yang dijepret tentara Inggris itu dianggap sebagai salah satu simbolisasi perdamaian dari sepak bola.

Dan, itu bukan satu-satunya cerita. Bintang timnas Pantai Gading, Didier Drogba, dipandang sebagai duta damai terhadap perang sipil yang terjadi di negaranya.

Konflik di negara bagian barat Afrika itu bahkan sempat berhenti kala Drogba berlutut dan memohon untuk pihak yang berselisih agar sejenak meletakkan senjata. 

Pantai Gading yang kala itu mencetak sejarah lolos Piala Dunia untuk pertama kalinya, jadi simbol pemersatu. Sepak bola, lagi-lagi berhasil mengambil peran sebagai kunci perdamaian.

Apakah eksistensi di Iran di Piala Dunia 2026 bisa kembali menjadi pionir perdamaian? Waktu yang akan menjawab.

Pada sisi lain, Iran sempat memberi pesan menyentuh di Piala Dunia 1998, saat para pemain memberi bunga mawar putih kepada pemain Amerika Serikat.

Tensi tinggi geopolitik seketika mereda, kala dua kubu menghadirkan pesan damai. Momen manis itu sedianya bisa kembali terjadi. Amerika Serikat harus bisa menjamin keamanan pemain Iran.

Kebetulan Iran dijadwalkan menjalani babak penyisihan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. Ada di Grup G, tim asuhan Amir Ghalenoei bersaing dengan Belgia, Mesir, dan Selandia Baru.

Laga pertama Iran dijadwalkan melawan Selandia Baru di Stadion Sofi, Inglewood, California pada 15 Juni 2026. Pertandingan sebenarnya ini bisa jadi momen penuh damai.

Di tengah blokade warga Iran masuk wilayah negeri Paman Sam, pengecualian terhadap pemain, pelatih, dan ofisial Team Melli harus dilakukan. Keamanan juga harus diutamakan. 

(abs/abs)

HALAMAN:
1 2