Mimpi di Siang Bolong Timnas Indonesia Lolos Piala Dunia 2026
Sebagai negara berkembang, yang sepak bolanya juga berkembang, kalau tidak dibilang terbelakang, Piala Dunia memang belum level Timnas Indonesia.
Mendapat durian runtuh, misalnya, tiba-tiba diminta FIFA tampil di Piala Dunia 2026, yang itu seperti masturbasi pikiran di tengah frustrasi keadaan, sangat tak pantas diimajinasikan.
Harkat dan martabat Indonesia tidak sepantasnya berada di sana. Indonesia tak lolos Piala Dunia 2026. Titik. Ini realita dan realitas yang harus diterima dengan lapang dada.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PSSI yang dipimpin Erick Thohir pun telah 'mereset' memori mesin perjuangan. Sisa-sisa perjuangan di kualifikasi, yakni Shin Tae Yong dan Patrick Kluivert bersama rombongan, telah dilepas.
Kini Indonesia akan memulai kisah baru bersama John Herdman. Pria Inggris yang lama menangani sepak bola Selandia Baru dan Kanada ini akan mempersiapkan perburuan tiket Piala Dunia 2030.
Bisakah Herdman mewujudkan ambisi main di edisi satu abad Piala Jules Rimet tersebut? Tak ada yang pasti. Namun probabilitasnya ada. Minimal, Jay Idzes dan Rizky Ridho percaya.
Jika dua sosok itu percaya, suporter Indonesia juga pantas percaya. Kualifikasi menuju Piala Dunia 2030 pun masih panjang. Masih ada Piala AFF dan Piala Asia sebagai titik toloknya.
Akan banyak dinamika yang terjadi ke depan. Contoh, akan ada pemilihan Ketua Umum PSSI yang baru pada 2027 nanti, yang mungkin bakal menentukan arah baru kebijakan federasi.
Kalau Erick maju lagi, kalau tidak bagaimana?
Kalaupun maju apakah jaminan akan menang?
Apakah pemerintah akan kembali jor-joran seperti 2024-2025 lalu untuk Piala Dunia 2030?
Juga, apakah naturalisasi tetap menjadi jalan pintas untuk ambisi 2030?
Apapun yang nanti terjadi, satu yang pasti, sudahi mimpi di siang bolong ini. Jangan tidur terlalu telentang, agar mimpi berbunga dengan matang. Piala Dunia 2026 sudah mati, kini saatnya menari memburu Piala Dunia 2030.
(ptr) Add
as a preferred source on Google