ANALISIS

Ole Romeny: Persimpangan Fantasista dan Masalah Striker Indonesia

Muhammad Ikhwanuddin | CNN Indonesia
Rabu, 01 Apr 2026 08:21 WIB
Ole Romeny jadi salah satu striker yang bisa diandalkan Timnas Indonesia. (CNNIndonesia/Adi Maulana Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sosok Ole Romeny di Timnas Indonesia bertemu jalan simpang. Tanggung jawabnya kini melintang, tak hanya sebatas penyerang.

Fantasista, istilah beken dalam sepak bola yang berarti pusat perhatian dalam sebuah laga. Biasanya, pemegang peran ini berorientasi pada proses serangan sebagai penjemput bola hingga pemantik peluang emas.

Dalam sepak bola modern, tanggung jawab fantasista meluas. Ia tak hanya berkutat di sepertiga zona lawan, melainkan menjelajah hingga ke wilayah sendir. Tujuannya sama-sama demi menimbulkan daya rusak yang signifikan.

Tugas ini diberikan kepada Ole Romeny oleh pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, di FIFA Series 2026 utamanya pada laga pertama kontra Saint Kitts and Nevis. Dua assist dan satu gol dari Ole membuktikan pilihan tepat sang juru taktik.

Di laga yang berbuah kemenangan 4-0 itu, maksimalnya performa Ole tak lepas dari kehadiran Beckham Putra yang dinamis sebagai penyerang sayap kiri merangkap gelandang serang. Keduanya saling mengisi, sama-sama melengkapi.

Kebetulan kubu St Kitts and Nevis tertinggal dalam aspek teknis dan fisik. Ini membuat Timnas Indonesia mampu mendikte permainan lawan tim asal Karibia tersebut.

Ini terlihat dari dua gol awal Timnas Indonesia. Brace yang dicetak Beckham Putra tak lepas dari kegemilangan Ole dalam urusan visibilitas dan akurasi umpan.

Dominasi ditunjukkan Jay Idzes dan rekan-rekan dengan total 15 kali tembakan yang 10 di antaranya mengarah ke sasaran. Debut John Herdman membuahkan kemenangan meyakinkan dan catatan menjanjikan.

Di laga kedua, John Herdman mencoba alternatif dalam menyusun pemain. Ole Romeny masih memegang tugas yang sama, namun yang berubah adalah posisi yang semula diisi Beckham Putra ditempati Ragnar Oratmangoen.

Di sinilah terasa perbedaannya. Indonesia tetap dominan dalam urusan penguasaan bola hingga 70 persen, namun jumlah sepakan hanya tiga kali.

Gerak-gerik Ole Romeny tak leluasa. Begitu juga Ragnar yang kesulitan mencari ruang. Bulgaria sadar Indonesia perlu dibendung dengan garis pertahanan yang rapat.

Efek domino terjadi ketika Ramadhan Sananta tak berdaya sebagai umpan maupun juru gedor. Keadaan ini sekaligus mempertegas Timnas Indonesia ketergantungan dengan sosok semacam Ole Romeny.

Persoalan variasi serangan ikut diakui John Herdman selepas laga. Mencetak gol dari bola mati dan peningkatan ketajaman dalam menyerang jadi perhatian juru taktik asal Inggris itu.

Pertanyaannya, haruskah bertumpu hanya pada Ole Romeny?

Baca kelanjutan berita ini di halaman berikutnya>>

Indonesia Masih Butuh Striker Lagi?


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :