Viktor Axelsen, Tokoh Musuh yang Terlalu Tangguh
Viktor Axelsen adalah bayangan ideal sebagai tokoh musuh dalam perjalanan cerita pebulutangkis Indonesia. Namun ia kemudian menjadi musuh yang terlalu tangguh.
Saat nama Axelsen pertama kali terdengar namanya di level junior, banyak yang sudah meyakini bahwa hanya tinggal menunggu waktu saja ia akan jadi pemain di level elite ketika beranjak ke level senior.
Dianugerahi tubuh yang tinggi menjulang, Axelsen juga punya teknik dan cara main yang apik. Tak butuh waktu lama, namanya pun lantas meramaikan persaingan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alhasil, Axelsen pun naik ke permukaan. Ketika Axelsen mulai muncul dan wara-wiri di turnamen internasional, di situlah bibit-bibit muda Indonesia juga bermunculan.
Jonatan Christie, Anthony Ginting, Ihsan Maulana Mustofa, Bayu Pangisthu hingga Firman Abdul Kholik membanjiri skuad tunggal putra Indonesia era baru di Pelatnas Cipayung. Mereka lebih muda 1-3 tahun dari Axelsen yang kelahiran 1994.
Karena itu, dalam bayangan saya, Axelsen jelas jadi gambaran yang sangat cocok untuk jadi tokoh musuh dalam cerita kejayaan pebulutangkis Indonesia generasi berikutnya.
Memang ada lagi sosok lain yang juga layak dijadikan sebagai tokoh musuh yaitu Kento Momota. Namun dari segi perawakan dan gesture, meski ini terlalu subjektif, Axelsen sepertinya yang lebih layak jadi musuh utama.
Bayangan pemain Indonesia merebut gelar-gelar bergengsi dengan mengalahkan Axelsen di partai final jadi angan-angan yang indah dan menggoda.
Pada akhirnya, bayangan itu tak pernah terwujud dengan sempurna. Dua pemain Indonesia dari generasi itu yaitu Jonatan Christie dan Anthony Ginting memang berhasil melejit ke kategori elite, ada di kelompok yang sama dengan Viktor Axelsen.
Axelsen memang kemudian jadi musuh utama di cerita pemain-pemain Indonesia. Namun dia pada akhirnya tidak jadi musuh dalam gambaran ideal suporter Indonesia yaitu "Musuh yang menakutkan tapi selalu bisa dikalahkan".
Yang ada kemudian, dalam banyak cerita yang ada, bila diibaratkan dalam cerita film, Viktor Axelsen adalah musuh yang terlalu tangguh, sosok 'raja terakhir' yang terlalu mahir, dan bahkan tokoh antagonis yang terlalu sadis.
Viktor Axelsen berhasil mendominasi persaingan di generasinya. (CNN Indonesia/Adi Maulana Ibrahim) |
Dalam persaingan keras itu, memang ada sejumlah keberhasilan yang diraih seperti medali perunggu Ginting di Olimpiade Tokyo saat Axelsen atau catatan spektakuler All Indonesian Final antara Jonatan vs Ginting di All England 2024.
Selain itu yang paling mengesankan adalah keberhasilan Indonesia memenangkan Thomas Cup 2020 di 2021 dengan menyingkirkan Denmark yang diperkuat Viktor Axelsen di Aarhus, Denmark di babka semifinal. Kemenangan itu mengakhiri penantian panjang Indonesia merebut Thomas Cup setelah 19 tahun.
Di luar keberhasilan-keberhasilan menggembirakan itu, Axelsen adalah poros utama persaingan. Perburuan gelar juara selalu berputar pada dirinya.
Bahkan ketika Kento Momota mengalami kecelakaan dan penampilannya menurun drastis, praktis tidak ada lagi pebulutangkis yang benar-benar ada di level Axelsen secara konsisten.
Perubahan drastis Axelsen juga bisa dilihat dari keputusannya pindah ke Dubai. Di Dubai, Axelsen mendapatkan keuntungan berupa alerginya yang hilang sehingga tak mengganggu latihan dan performa pertandingan. Selain itu, ia juga memangkas jarak dan tidak melakukan perjalanan sejauh saat ia masih harus latihan di Denmark.
Masuk ke dekade 2020-an itu pula, jarak head to head antara Axelsen dengan pemain Indonesia jadi membesar. Ginting sempat memimpin 4-2 hingga 2020 lalu semua berubah drastis memasuki 2021. Axelsen akhirnya menutup rekor pertemuan dengan Ginting jadi 14-5.
Jonatan pun demikian. Sampai 2019, Jonatan masih bisa dibilang berimbang dan hanya tertinggal 2-3 dari Axelsen. Namun kemudian memasuki 2021, rekor bertanding berubah drastis dan Axelsen menutupnya dengan keunggulan 11-2 atas Jonatan.
Anthony Ginting (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Sampai akhirnya Axelsen memutuskan pensiun pada 15 April lantaran faktor cedera yang mengganggu penampilan dan sudah membuatnya absen lama, Axelsen benar-benar mewujudkan bayangan saya tentang dirinya sebagai sosok musuh utama.
Namun Axelsen juga melampaui batas-batas yang saya tetapkan dalam bayangan saya, yaitu musuh perkasa yang akhirnya tak berdaya di tangan pemain Indonesia. Ia jelas berdiri sebagai musuh utama yang terlalu sempurna, sampai akhirnya memutuskan gantung raket dan pamit dari arena.
Selamat pensiun, Viktor Axelsen!
(abs) Add
as a preferred source on Google
Viktor Axelsen berhasil mendominasi persaingan di generasinya. (CNN Indonesia/Adi Maulana Ibrahim)
Anthony Ginting (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)