Rapor Merah untuk Indonesia yang Muram di Thomas Cup 2026
Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Rabu, 29 Apr 2026 19:30 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Indonesia untuk pertama kalinya gagal lolos dari fase grup. (Arsip PBSI)
Jakarta, CNN Indonesia --
M. Reza Pahlevi bersiap melakukan servis ke arah Eloi Adam/Leo Rossi dengan papan skor menunjukkan angka 20-19 untuk Adam/Rossi di gim kedua. Gim pertama sudah lebih dulu mereka menangkan dengan skor tipis, 21-19.
Shuttlecock akhirnya diluncurkan dan ternyata shuttlecock tidak sampai ke kotak tempat lawan berada. Servis Reza dinyatakan out.
Adam dan Rossi berteriak keras. Pemain-pemain dan staf tim Prancis yang ada di boks pemain ikut bersorak keras dan bergembira. Skor yang berubah jadi 4-0 itu memastikan Prancis lolos ke perempat final Thomas Cup 2026.
Sebuah hal yang spektakuler! Bagi Prancis, mengalahkan Indonesia di Thomas Cup saja sudah luar biasa. Masuk ke perempat final Thomas Cup itu juga 'catatan gila'. Dan Prancis melakukan kedua hal tersebut di waktu yang sama.
Sebelum laga ini dimulai, kondisinya adalah Indonesia sudah mengantongi dua kemenangan, 5-0 atas Aljazair dan 3-2 atas Thailand. Sedangkan Prancis baru mengantongi satu kemenangan atas Aljazair dan kalah 1-4 dari Thailand.
Kondisi itu membuat Indonesia tetap bisa lolos ke perempat final meski kalah dengan skor 2-3 atas Prancis. Dalam situasi seperti itu, Indonesia yang justru datang ke lapangan dengan kondisi penuh tekanan, tidak seperti tim yang sudah mengantongi dua kemenangan di tangan dan percaya diri atas kemampuan di lapangan.
Sabar/Reza kalah di partai keempat Indonesia vs Prancis di Thomas Cup 2026. (Arsip PBSI)
Sejak awal, tim pelatih Indonesia pasti sudah menduga Prancis akan menjalankan strategi memainkan tiga partai tunggal terlebih dulu. Caranya dengan membuat Christo Popov dan Toma Junior Popov juga berpasangan di nomor ganda.
Dengan demikian, tiga nomor tunggal yang diperkuat oleh Christo, Alex Lanier, dan Toma Junior Popov akan dimainkan lebih dulu. Tak hanya itu, Popov bersaudara yang jadi ganda putra nomor satu Prancis juga bertarung di partai kelima yang artinya ganda putra terbaik Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri baru turun bermain di partai terakhir.
Formula dan susunan formasi yang diciptakan lewat strategi komposisi pemain Prancis tidak bisa dicegah lewat skema susunan formasi Indonesia. Yang bisa dilakukan adalah mempersiapkan pemain tunggal untuk meladeni tantangan Prancis. Dan hal itu yang tidak bisa diwujudkan.
Jelas kegagalan lolos ke perempat final alias untuk kali pertama terhenti di fase grup adalah catatan kelam bagi Tim Thomas Indonesia. Ini kali pertama torehan buruk itu terjadi.
Rapor merah jelas pantas dialamatkan pada Tim Indonesia kali ini. Penilaian negatif atas penampilan pemain yang berlaga dengan lebih banyak kekhawatiran hingga kehilangan ketenangan dan keyakinan.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Bila berbicara peringkat BWF, seluruh tunggal Prancis punya posisi lebih baik dari tiap pebulutangkis yang jadi lawan mereka. Namun bukan berarti perbedaan yang ada benar-benar signifikan.
Sejatinya, peluang duel tiga partai tunggal yang dimainkan adalah 50-50. Jonatan hanya berjarak satu posisi dari Christo Popov, Alwi Farhan satu angkatan dengan Alex Lanier sejak junior, dan Anthony Ginting peringkatnya merosot lantaran faktor cedera panjang yang sempat dialaminya tahun lalu.
Dari rekor pertemuan sebelum laga Thomas Cup 2026, Jonatan tertinggal 1-2 dari Christo Popov, Alwi vs Lanier 2-2, dan Ginting vs Toma Junior Popov juga imbang 2-2. Jelas menggambarkan peluang yang ada sejatinya 50-50.
Masalah yang kemudian terjadi adalah, tidak ada satu pun dari tiga duel 50-50 itu yang bisa dimenangkan oleh Indonesia. Strategi Prancis untuk menekan berhasil tanpa Indonesia bisa mencegahnya.
Jonatan hanya bisa memberikan perlawanan sengit di gim pertama. Setelah kalah tipis di gim pembuka, Jonatan tak bisa berbuat apa-apa di gim berikutnya.
Alwi Farhan datang ke lapangan tanpa membawa dirinya yang dikenal banyak orang. Alwi Farhan bermain diiringi dengan banyak kekhawatiran dan rasa gugup berlebihan.
Alwi Farhan tidak bisa menampilkan permainan seperti yang biasa ia lakukan karena berlaga dalam kondisi tertekan. (Arsip PBSI)
Bayangan Indonesia tertinggal 0-1 sudah membuat langkah Alwi Farhan terlihat berat di lapangan. Alwi yang percaya diri, di laga itu seperti hilang ditelan bumi.
Hanya ada kilatan penampilan bagus Alwi di pengujung gim kedua. Namun hal itu terlambat setelah Alwi Farhan mati langkah terkena tipuan deception shot dari Lanier.
Masuk ke laga ketiga, Anthony Ginting sempat memberikan harapan. Ia terlihat bisa tampil tanpa terbebani fakta Indonesia sedang ketinggalan 0-2.
Gim pertama dimenangkan Ginting dengan 22-20 meski sempat dilalui drama nyaris tersusul dan terkena comeback. Masalah kemudian terlihat di gim kedua.
Ginting tidak bisa menampilkan permainan seperti halnya di gim pertama di sisi lapangan yang ia mainkan di gim kedua. Ginting kalah di gim kedua dan kemudian laga harus ditentukan lewat gim ketiga.
Hal serupa kembali tergambar jelas di gim ketiga. Di sisi lapangan yang ia tempati seperti halnya di gim pertama, Ginting bisa unggul 11-6.
Namun begitu pindah ke sisi lapangan yang ditempati di gim kedua, Ginting mulai tersusul oleh Toma Junior Popov. Belum lagi ditambah insiden Ginting yang terjatuh yang membuatnya sempat mengalami kram.
Ginting menghidupkan harapan besar ketika ia mendapat match point di angka 20-19. Namun frasa 'nyaris menang' tidaklah berarti apa-apa dan tidak akan berwujud tambahan satu angka bagi Indonesia.
Anthony Ginting tak berhasil menyelesaikan kesempatan match point yang ia dapat, yang mungkin bisa mengubah alur pertandingan Indonesia vs Prancis. (Arsip PBSI)
Dalam kondisi 0-3, Indonesia sudah dipastikan kalah dari Prancis. Tetapi Indonesia belum tersingkir dari Thomas Cup 2026. Indonesia masih bisa lolos asal memenangkan dua partai ganda yang tersisa.
Namun sepertinya situasi di lapangan dan angin kemenangan sudah terlalu kencang berembus ke kubu Prancis. Adam/Rossi tak lagi mempedulikan rekor pertemuan saat mereka kalah di dua laga sebelumnya.
Yang ada di pikiran mereka, kemenangan yang bisa mereka buat akan mengantar Prancis mencatat sejarah besar. Hal itulah yang kemudian diwujudkan Adam/Rossi dengan benar. Keunggulan 4-0 untuk sementara sudah cukup untuk mengunci tiket perempat final bagi Prancis. Mimpi indah yang terwujud bagi Prancis adalah mimpi buruk yang hadir di depan nyata bagi Indonesia.
Aura kesedihan yang terlihat dari Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri saat menjalani pertandingan kelima saat mereka mengalahkan Popov bersaudara seolah melengkapi gambaran kesedihan dan penderitaan Indonesia.
Ini adalah kegagalan yang harus benar-benar diakui oleh Tim Indonesia dan PBSI. Tanpa ada hal yang bisa diajukan sebagai pembelaan diri.
Tim Indonesia, dari segi prestasi individual, memang sedang tidak meyakinkan. Harapan meraih gelar juara Thomas Cup tahun ini juga masih bisa diperdebatkan. Namun terhenti di fase grup, saat Indonesia berstatus sebagai unggulan kedua, mutlak merupakan sebuah kegagalan.