PBSI 75 Tahun: Semakin Tua, Semakin Sering Puasa Juara
Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Selasa, 05 Mei 2026 18:55 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
PBSI punya tugas berat untuk mengembalikan prestasi bulu tangkis Indonesia. (Arsip PBSI)
Jakarta, CNN Indonesia --
Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) resmi berusia 75 tahun hari ini, 5 Mei 2026. Semakin tua, PBSI justru semakin sering membawa bulu tangkis Indonesia puasa gelar-gelar bergengsi di dunia.
Seminggu sebelum PBSI menginjak usia 75 tahun, Indonesia mendapat kejutan besar. Indonesia gagal lolos ke perempat final Thomas Cup 2026 meskipun berstatus sebagai unggulan kedua. Seperti menabur garam di atas luka, Indonesia tersingkir usai kalah dari Prancis, negara yang tidak punya riwayat sebagai tim kuat di gelaran Thomas Cup sebelumnya.
Kegagalan Indonesia di Thomas Cup 2026 adalah bukti terakhir bahwa bulu tangkis Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Kering gelar, gagal juara, dan tak punya wakil di final makin sering terdengar dalam perjalanan Tim Badminton Indonesia di sejumlah turnamen BWF Tour beberapa waktu belakangan.
Hal ini membuat PBSI yang sudah berusia 75 tahun, justru sering membawa Indonesia makin rutin menjalani puasa gelar juara.
Bulu tangkis gagal menyumbangkan medali emas di Olimpiade 2024, mengulang catatan di 2012.
Sejak Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan jadi juara dunia 2019, Indonesia belum lagi memiliki juara dunia hingga saat ini.
Indonesia gagal total di Asian Games 2022, tanpa medali apapun yang dibawa pulang.
Dalam dua edisi terakhir, tak ada pemenang asal Indonesia di Kejuaraan Asia.
Sedangkan sejak 2025, hanya Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri yang bisa jadi pemenang di turnamen Super 750 ke atas, tepatnya di China Open yang merupakan kategori Super 1000.
Deret kegagalan ini bukan semata hanya karena kalah di lapangan atau lawan tampil lebih baik. Namun memang ada kemunduran dari para pebulutangkis Indonesia.
Sehingga pada akhirnya, gagal juara menjadi sebuah hal biasa dan bisa diduga sebelumnya. Karena bahkan di atas kertas pun, Indonesia sudah tidak diperhitungkan.
Putri Kusuma Wardani jadi salah satu dari sedikit pemain Indonesia yang masuk 10 besar. (Arsip PBSI)
Yang di maksud di atas kertas adalah kondisi pebulutangkis Indonesia saat ini. Terhitung ranking per 5 Mei, hanya Jonatan Christie dan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri yang ada di posisi lima besar. Sedangkan untuk zona 10 besar, nama itu bertambah oleh Putri Kusuma Wardani, Sabar Karyaman/M. Reza Pahlevi, dan Jafar Hidayatullah/Felisha Pasaribu.
Bahkan jumlah wakil yang dikirim ke turnamen level atas bisa jadi gambaran. Saat ini, jumlah pemain Indonesia yang bisa tembus kualifikasi turnamen level atas makin terbatas.
Dengan tipisnya jumlah pemain yang beredar di level elite, jelas kemudian terasa jadi normal ketika tidak ada pemain yang bisa membawa pulang gelar.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Kegagalan hari ini jelas merupakan dampak panjang dalam beberapa tahun terakhir terkait pembinaan dan regenerasi. Tidak semua kesalahan ada di era kepengurusan PBSI saat ini di bawah Muhammad Fadil Imran, melainkan juga ada dampak dari tidak berjalan baiknya program PBSI di bawah Agung Firman.
Namun dengan kondisi sudah lebih dari satu tahun kepengurusan berjalan, memang PBSI era saat ini tidak bisa terus-menerus melihat ke belakang dan menunjuk sumber kesalahan. Yang perlu dilakukan adalah secepatnya memperlancar proses regenerasi sehingga muncul pemain-pemain generasi baru Indonesia yang ada di level elite dunia.
Karena bila merujuk daftar peringkat yang ada, Jonatan dan Fajar sudah merupakan pemain veteran yang sudah lebih dari satu dekade jadi andalan. Butuh tambahan amunisi sehingga Indonesia punya peluang lebih bagus untuk mengejar prestasi.
Masalahnya, pemain-pemain yang saat ini diproyeksi jadi andalan, karena minimnya pemain senior di atas mereka, sudah langsung berhadapan dengan target dan tekanan besar. Terutama di nomor tunggal putra, ganda putri, dan ganda campuran.
Dengan status Jonatan Christie saat ini merupakan pemain independen, pemain senior seperti Fajar/Fikri dan Putri KW juga terus dibebani status andalan. Mereka jadi tumpuan harapan di tuap kejuaraan penting dalam waktu dekat.
Contohnya saja di tahun ini ketika Kejuaraan Dunia dan Asian Games akan datang. Nama Fajar/Fikri pasti akan dimajukan sebagai tumpuan untuk merebut target meraih satu medali emas. Karena status Indonesia sebagai negara besar di dunia bulu tangkis, mustahil bila berangkat ke Asian Games atau Kejuaraan Dunia tanpa satu gelar di tangan.
Fajar/Fikri bakal terus jadi andalan untuk meraih emas di kejuaraan penting tahun ini seperti Kejuaraan Dunia dan Asian Games. (Arsip PBSI)
Memang target akhir kepengurusan ini adalah Olimpiade 2028. Namun target-target penting seperti Kejuaraan Dunia dan Asian Games tahun ini juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Tekanan besar akan makin datang yang turut menghantui langkah-langkah pemain Indonesia di kesempatan berikutnya.
Melihat situasi yang ada, PBSI tak punya cara lain selain memaksimalkan potensi-potensi yang ada dari barisan pemain muda yang saat ini masih jauh dair lingkaran ranking elite. PBSI harus mendorong pemain-pemain muda untuk selekasnya masuk papan atas, dengan mengirim mereka lebih rutin ke turnamen-turnamen yang ada di BWF Tour.
Tentu juga meningkatkan intensitas latihan dalam keseharian, sambil terus memperhatikan hal-hal yang bisa menjadi penunjang. Memang terkesan sebagai sebuah solusi yang klasik, namun memang cara itu yang bisa jadi solusi jitu menghadapi masalah pelik.
Satu hal penting yang tak boleh terlupa adalah aspek mental bertanding. Hal ini yang jelas hilang saat Indonesia kalah dari Prancis di Thomas Cup 2026. Dan itu jadi tugas utama PBSI yang penting untuk selekasnya diperbaiki.
Tanpa mental bertanding yang kuat, segala kemampuan atlet yang sudah ditempa dalam hari-hari latihan tidak bisa keluar ketika tiba hari pertandingan.
Bila PBSI bisa kembali mendorong banyak pemain ke level elite, PBSI bisa kembali berharap puasa gelar juara tidak makin melekat dengan diri mereka.