ANALISIS

PBSI 75 Tahun: Semakin Tua, Semakin Sering Puasa Juara

Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Selasa, 05 Mei 2026 18:55 WIB
PBSI resmi berusia 75 tahun hari ini, 5 Mei 2026. Semakin tua, PBSI justru semakin sering membawa bulu tangkis Indonesia puasa gelar-gelar bergengsi di dunia.
Raymond Indra/Nikolaus Joaquin jadi salah satu harapan Indonesia untuk masa depan. (Dok. PBSI)

Kegagalan hari ini jelas merupakan dampak panjang dalam beberapa tahun terakhir terkait pembinaan dan regenerasi. Tidak semua kesalahan ada di era kepengurusan PBSI saat ini di bawah Muhammad Fadil Imran, melainkan juga ada dampak dari tidak berjalan baiknya program PBSI di bawah Agung Firman.

Namun dengan kondisi sudah lebih dari satu tahun kepengurusan berjalan, memang PBSI era saat ini tidak bisa terus-menerus melihat ke belakang dan menunjuk sumber kesalahan. Yang perlu dilakukan adalah secepatnya memperlancar proses regenerasi sehingga muncul pemain-pemain generasi baru Indonesia yang ada di level elite dunia.

Karena bila merujuk daftar peringkat yang ada, Jonatan dan Fajar sudah merupakan pemain veteran yang sudah lebih dari satu dekade jadi andalan. Butuh tambahan amunisi sehingga Indonesia punya peluang lebih bagus untuk mengejar prestasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masalahnya, pemain-pemain yang saat ini diproyeksi jadi andalan, karena minimnya pemain senior di atas mereka, sudah langsung berhadapan dengan target dan tekanan besar. Terutama di nomor tunggal putra, ganda putri, dan ganda campuran.

Dengan status Jonatan Christie saat ini merupakan pemain independen, pemain senior seperti Fajar/Fikri dan Putri KW juga terus dibebani status andalan. Mereka jadi tumpuan harapan di tuap kejuaraan penting dalam waktu dekat.

Contohnya saja di tahun ini ketika Kejuaraan Dunia dan Asian Games akan datang. Nama Fajar/Fikri pasti akan dimajukan sebagai tumpuan untuk merebut target meraih satu medali emas. Karena status Indonesia sebagai negara besar di dunia bulu tangkis, mustahil bila berangkat ke Asian Games atau Kejuaraan Dunia tanpa satu gelar di tangan.

Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri saat tampil di BAC 2026. (Arsip PBSI)Fajar/Fikri bakal terus jadi andalan untuk meraih emas di kejuaraan penting tahun ini seperti Kejuaraan Dunia dan Asian Games. (Arsip PBSI)

Memang target akhir kepengurusan ini adalah Olimpiade 2028. Namun target-target penting seperti Kejuaraan Dunia dan Asian Games tahun ini juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Tekanan besar akan makin datang yang turut menghantui langkah-langkah pemain Indonesia di kesempatan berikutnya.

Melihat situasi yang ada, PBSI tak punya cara lain selain memaksimalkan potensi-potensi yang ada dari barisan pemain muda yang saat ini masih jauh dair lingkaran ranking elite. PBSI harus mendorong pemain-pemain muda untuk selekasnya masuk papan atas, dengan mengirim mereka lebih rutin ke turnamen-turnamen yang ada di BWF Tour.

Tentu juga meningkatkan intensitas latihan dalam keseharian, sambil terus memperhatikan hal-hal yang bisa menjadi penunjang. Memang terkesan sebagai sebuah solusi yang klasik, namun memang cara itu yang bisa jadi solusi jitu menghadapi masalah pelik.

Satu hal penting yang tak boleh terlupa adalah aspek mental bertanding. Hal ini yang jelas hilang saat Indonesia kalah dari Prancis di Thomas Cup 2026. Dan itu jadi tugas utama PBSI yang penting untuk selekasnya diperbaiki.

Tanpa mental bertanding yang kuat, segala kemampuan atlet yang sudah ditempa dalam hari-hari latihan tidak bisa keluar ketika tiba hari pertandingan.

Bila PBSI bisa kembali mendorong banyak pemain ke level elite, PBSI bisa kembali berharap puasa gelar juara tidak makin melekat dengan diri mereka.

(ptr) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2