Presiden FA Palestina: Tanpa Standar Ganda, Israel Seharusnya Dihukum

CNN Indonesia
Kamis, 07 Mei 2026 12:41 WIB
Presiden Federasi Sepak Bola Palestina (PFA), Jibril Rajoub, menyebut Israel semestinya dihukum dari sepak bola internasional jika tidak ada standar ganda.
Jibril Rajoub menyebut Israel semestinya dihukum FIFA jika tidak ada standar ganda. (AFP/THIBAUD MORITZ)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Federasi Sepak Bola Palestina (PFA), Jibril Rajoub, menyebut Israel semestinya dihukum dari sepak bola internasional jika tidak ada standar ganda dari setiap pemangku kepentingan.

Menurut Jibril saat ini tidak ada keadilan dalam dunia olahraga terkait Palestina dan Israel. Sampai saat ini, Israel terus menyerang wilayah Palestina. Akan tetapi, Federasi Sepak Bola Israel maupun tim nasionalnya tetap mendapatkan 'panggung'.

Palestina terus berupaya kepada FIFA meminta pertanggungjawaban Israel atas pelanggaran sistematis terhadap warga Palestina, infrastruktur, dan hak berolahraga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami tidak sedang berjuang dalam pertempuran hubungan masyarakat atau membuat pernyataan politik," kata Rajoub kepada Anadolu.

"Kami berjuang berdasarkan berkas hukum yang jelas, dan jika ditangani sesuai dengan hukum dan peraturan tanpa standar ganda, itu cukup untuk menjatuhkan sanksi kepada federasi Israel, termasuk menangguhkan atau mengusirnya."

Rajoud menyebut sejumlah faktor bisa menjadi landasan utama bagi FIFA memberikan hukuman kepada Israel.

Yang pertama, Rajoub menyebut klub-klub Israel beroperasi di lokasi ilegal karena dibangun di tanah Palestina. Menurut Rajoub itu pelanggaran nyata terhadap peraturan FIFA yang melarang asosiasi mana pun menyelenggarakan kompetisi di luar wilayah geografis yang diakui.

"Yang kedua berkaitan dengan dukungan dan pembenaran oleh tokoh-tokoh olahraga Israel terhadap serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur, yang bertentangan dengan nilai-nilai inti gerakan olahraga global, yang menyerukan penolakan kekerasan dan promosi perdamaian," tutur Rajoub.

"Yang ketiga menyangkut kebijakan pendudukan yang telah menempatkan olahraga Palestina dalam daftar sasaran, melalui penghancuran fasilitas, pembunuhan pemain, dan pembatasan pergerakan yang ketat yang membuat penyelenggaraan aktivitas olahraga normal hampir mustahil," ucap Rajoub menambahkan.

Pelanggaran yang dilakukan Israel seluruhnya masuk ke dalam agenda FIFA. Hanya saja tidak bisa diselesaikan. Meski begitu Rajoub bersyukur terlihat perubahan secara bertahap.

"Namun, kami mulai melihat perubahan bertahap dalam cara masalah-masalah ini ditangani, meskipun perlahan," ujar Rajoub.

"Meskipun langkah-langkahnya terbatas, langkah-langkah tersebut merupakan pengakuan resmi yang penting, dan kami akan membangunnya di fase berikutnya," ucap Rajoub melanjutkan.

[Gambas:Video CNN]

(sry/ptr) Add as a preferred
source on Google