Persija vs Persib: '0 Matematika 9 Logika' di Derbi Indonesia
Persija, sudah dibuktikan dalam 31 pertandingan, bukan tim yang pragmatis. Persija adalah tim yang bermain paling menyerang pada musim ini.
Dari sudut statistik, Persija kalah dari Persib dalam hal pertahanan. Persib baru kebobolan 20 kali, sedang Persija sudah 26. Persija juga keok enam kali, sedang Persib hanya tiga.
Mauricio Souza, sekilas, kalah cerdik dari Hodak. Pria Brasil ini sensitif. Ia muda terbawa suasana. Karena itu permainan Persija musim ini lebih berirama rock, sesekali pop.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemain-pemain Persija juga masih muda. Gairahnya tinggi. Rizky Ridho, Dony Tri Pamungkas, Rayhan Hannan, hingga Arlyansyah Abdulmanan merupakan tulang muda yang kukuh.
Yang lebih matang, seperti Jordi Amat, Bruno Tubarao, Allamo Lima, hingga Fabio Calonego, bisa menjadi pembimbing, tetapi sering kali meledak-ledak karena terpancing emosinya.
Psikologi pemain Persija cenderung mudah disusupi. Pancing sedikit, emosi mereka akan meluap. Efeknya permainan Persija jadi tak berirama. Estetika di permainan Persija mudah dirusak.
Itulah faktanya. Persib tentu saja sadar dengan hal tersebut. Hodak bukan konduktor yang suka dengan drama, tetapi tak anti dengan permainan psikologi. Sesekali diterapkan juga.
Karena itu pertandingan Persija kontra Persib pada pekan ke-32 Super League ini tak bisa dianalisis dengan matematika. Nilai statistik hanya tolok ukur sebelum laga.
Yang akan menentukan dalam duel 'klasik' ini adalah logika. Yang paling filosofis dalam bertarung akan keluar sebagai pemenang. Yang paling keras dan cadas akan diremukkan yang cerdas.
Ketenangan dan kematangan melangkah seperti biasa dilakukan Rizky Ridho akan menjadi kunci. Dalam hal ini lini tengah Persija butuh sosok yang berarus dalam; tenang menghanyutkan.
Pertarungan sayap juga krusial. Pemain seperti Kurzawa atau Berguinho akan meneror sisi samping Persija. Jika pemain yang dipilih bukan yang tepat, Carlos Eduardo bisa merana.
Pada akhirnya sesi ruang ganti akan menjadi pengubah situasi. Persija dan Persib sama-sama butuh motivator, agar hafalan-hafalan dalam latihan bisa dikeluarkan.
Ya, tak ada matematika dalam duel Persija versus Persib. Namun demikian matematika adalah logika paling jujur. Dan, yang bisa mengolah angka jadi senjata niscaya akan jaya.
(ptr) Add
as a preferred source on Google