ANALISIS

Final Liga Champions: Kawin Gelar Arsenal atau Dijegal PSG?

Muhammad Ikhwanuddin | CNN Indonesia
Selasa, 26 Mei 2026 09:00 WIB
Ousmane Dembele diharapkan pulih saat melawan Arsenal di final Liga Champions. (AFP/FRANCOIS LO PRESTI)
Ousmane Dembele diharapkan pulih saat melawan Arsenal di final Liga Champions. (AFP/FRANCOIS LO PRESTI)

Kedalaman skuad membuat Les Parisiens kuat. Ini jadi salah satu alasan PSG lebih diunggulkan menang atas Arsenal di final.

Tak ada Nuno Mendes di bek kiri, masih ada Lucas Hernandez. Sempat tak ada Vitinha di lini tengah, tapi hadir Joao Neves dan Warren Zaire-Emery.

Di bek kanan selama tak ada Achraf Hakimi, Zaire-Emery jadi pilihan. Marquinhos juga mampu ditempatkan di kanan. Keterampilan tambal sulam ini membuat PSG sulit terbendung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Itu belum bicara lini depan yang diperkuat Ousmane Dembele, Kvhicha Kvaratskhelia, Bradley Barcola, Desire Doue, dan Goncalo Ramos. Hilang satu nama, maka nama lain menggantikan dengan kualitas yang sepadan.

Belum lagi bicara rata-rata usia skuad PSG (24,1 tahun) membuat tim ini diproyeksikan bisa bersaing dalam waktu lama. Maka tak heran Les Parisiens kembali berada di top performa.

Sekarang bicara skuad Arsenal. Dengan rata-rata usia 26,3 tahun, komposisi pemain terlihat lebih matang. Namun Arteta kerap kesulitan dalam mencari alternatif dalam menghadapi badai cedera.

Ini terlihat dari tiga musim beruntun sebagai runner-up, Arsenal kedodoran di akhir musim kompetisi. Barulah di Premier League 2025/2026, The Gunners mampu belajar dari kesalahan.

Kini jumlah pemain cedera Arsenal tak lebih banyak dari sang lawan. Bahkan Jurrien Timber dan Mikel Merino diproyeksikan bisa kembali prima jika tak ada aral melintang.

Situasi ini mestinya menggugah Arteta untuk mengerahkan kekuatan lebih padu. Namun agaknya juru taktik Spanyol itu bakal bermain pragmatis dalam membendung gempuran PSG.

Bukan tanpa sebab, PSG di bawah kendali Luis Enrique menjelma sebagai tim atraktif. Pola 4-3-3 racikannya menerapkan high press ketat bahkan sesaat setelah sepak mula.

Cara unik pemain PSG melakukan kick off jadi buktinya. Bola dibuang jauh ke zona lawan agar gerombolan tim bisa maju ke zona lawan lebih cepat. Hal serupa diterapkan saat rival menguasai bola. Cara ini efektif berbuah deretan gelar, namun buyar kala berhadapan dengan Chelsea di final Piala Dunia Antarklub.

Arsenal bisa menyontoh cara Chelsea menjinakkan PSG dengan bermain hati-hati plus maksimal betul dalam memanfaatkan peluang. Niscaya, juara Liga Champions untuk pertama kalinya bukan lagi sekadar angan-angan.

(ikw/jun) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2