Piala Dunia 1978: Mario Kempes dan Pesta Argentina

CNN Indonesia
Senin, 25 Mei 2026 17:04 WIB
(FILES) Argentinian midfielder Mario Kempes (L), who just scored his second goal, and forward Daniel Bertoni celebrate in front of Dutch defenders Wim Suurbier (on ground) and Jan Poortvliet, on June 25, 1978 in Buenos Aires, during the extra time pe
Legenda Argentina Mario Kempes di Piala Dunia 1978. (AFP/STAFF)

Tiket final Argentina diraih dengan dugaan kontroversi. Untuk lolos, Argentina wajib mengalahkan Peru minimal empat gol di laga pamungkas babak kedua. Argentina kemudian menang 6-0 atas Peru. Padahal, saat itu Peru cukup impresif di fase grup.

Final Piala Dunia 1978 yang berlangsung pada 25 Juni di Buenos Aires mempertemukan tuan rumah Argentina dan Belanda. Kala itu, Belanda tampil tanpa Johan Cruyff yang absen karena alasan keamanan keluarga usai tragedi penculikan di Barcelona.

Kempes membuka keunggulan Argentina berkat kerja sama apik Luque dan Ardiles. Belanda membalas lewat sundulan Dirk Nanninga sepuluh menit sebelum peluit akhir, bahkan nyaris berbalik unggul jika bukan karena tembakan Robbie Rensenbrink yang membentur tiang di menit-menit terakhir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di babak tambahan waktu, Kempes kembali menjadi penentu. Ia melewati tiga bek Belanda sebelum melesakkan bola ke gawang Jan Jongbloed untuk menambah keunggulan Argentina. Lima menit jelang akhir laga, Kempes memberi umpan yang diselesaikan Daniel Bertoni untuk memastikan kemenangan Argentina 3-1.

Argentina pun berpesta sebagai juara dunia untuk pertama kalinya. Belanda menolak hadir dalam seremoni pasca laga sebagai bentuk protes atas taktik stalling Argentina sebelum laga.

Kempes menutup turnamen dengan enam gol dan berhak menyandang gelar sepatu emas turnamen. Ia juga dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Piala Dunia 1978 serta Pesepak Bola Terbaik Amerika Latin di tahun yang sama.

Catatan Kempes di final turut memperkuat posisinya sebagai salah satu penyerang paling klinis di era itu. Dua golnya ke gawang Belanda di final menjadikannya satu dari sedikit pemain yang mencetak lebih dari satu gol di partai puncak Piala Dunia.

Piala Dunia 1978 juga mencatatkan sejumlah perubahan aturan FIFA. Mulai Piala Dunia 1982, FIFA mengharuskan seluruh laga dalam satu grup di babak yang sama dimainkan secara serentak. Hal itu merespons keuntungan Argentina yang selalu mengetahui hasil laga lain sebelum bertanding.

(afr/afr/rhr) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2