ANALISIS

Piala Dunia 2026: Saatnya Jerman Hapus Luka Lama

Askar Fatih Robbani | CNN Indonesia
Minggu, 07 Jun 2026 14:03 WIB
Soccer Football - International Friendly - Germany v Finland - MEWA Arena, Mainz, Germany - May 31, 2026 Germany's Deniz Undav celebrates scoring their first goal with teammates REUTERS/Kai Pfaffenbach
Pemain Jerman selebrasi usai cetak gol dalam sebuah pertandingan. (REUTERS/Kai Pfaffenbach)
Jakarta, CNN Indonesia --

Piala Dunia 2026 bukan sekadar ajang empat tahunan bagi Jerman. Ini adalah panggung penebusan. Dua kali gagal, dua kali menanggung malu. Kini giliran Julian Nagelsmann membuktikan bahwa Die Mannschaft bukan lagi tim pinggiran.

Sebagai pemegang empat gelar Piala Dunia, nama Jerman selalu identik dengan keangkuhan dan kekuatan. Namun dua edisi terakhir telah menyisakan luka mendalam.

Pada 2018 di Rusia, Jerman yang berstatus juara bertahan justru terjerembab. Tergabung di Grup F bersama Swedia, Korea Selatan, dan Meksiko, mereka berakhir sebagai juru kunci dan pulang lebih awal dari yang seharusnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Empat tahun berselang, sejarah terulang. Di Qatar 2022, Der Panzer lagi-lagi kandas di fase grup. Dari tiga pertandingan, mereka hanya menang sekali atas Kosta Rika, imbang lawan Spanyol, dan kalah memalukan dari Jepang.

Dengan hasil itu, Jerman pun bertengger di peringkat ketiga Grup E, di bawah Jepang dan Spanyol.

Hansi Flick yang menakhodai tim kala itu menanggung beban berat. Taktik yang terlalu pakem, regenerasi setengah hati, dan euforia sisa-sisa kejayaan 2014 menjadi kombinasi berbahaya yang menggerogoti fondasi Die Mannschaft dari dalam.

Flick pun akhirnya hengkang setelah tragedi di Qatar. Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) bergerak cepat, menunjuk Julian Nagelsmann pada 2023 sebagai nahkoda baru yang bertugas membangun ulang sistem permainan pasukan berbaju putih-hitam itu.

Nagelsmann bukan nama asing di dunia sepak bola Eropa. Pelatih muda ini segera membawa angin segar. Ia membangun identitas bermain yang lebih fleksibel, adaptif, dan memanfaatkan potensi generasi emas Jerman yang tengah mekar.

Dalam 33 pertandingan di bawah arahan Nagelsmann, Jerman meraih 21 kemenangan, enam kali imbang, dan enam kali kalah. Rekam jejak itu sudah cukup berbicara. Ada perbaikan nyata yang sedang berjalan di tubuh Der Panzer.

Di kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa, Der Panzer tampil mulus. Satu-satunya kekalahan terjadi di laga pembuka saat bersua Slovakia pada September 2025. Setelah itu, Jerman tak terbendung dan mengunci puncak Grup A dengan 15 poin.

Sembilan laga berikutnya setelah kekalahan dari Slovakia, disapu bersih oleh Jamal Musiala dan kolega. Ini bukan hanya statistik, melainkan sinyal kuat bahwa Jerman tengah dalam kondisi terbaik menuju Amerika Utara.

Walau begitu, Piala Dunia 2026 juga menjadi panggung pembuktian Nagelsmann secara lebih luas. Di Piala Eropa 2024, Jerman harus puas terhenti di perempat final. Di UEFA Nations League 2025, mereka melangkah sedikit lebih jauh, namun tetap berhenti di semifinal.

Dua pencapaian itu memperlihatkan progres yang nyata, namun juga menunjukkan bahwa jalan menuju podium juara masih membutuhkan lebih dari sekadar konsistensi. Nagelsmann paham betul, Piala Dunia adalah ujian sesungguhnya bagi seluruh kerja kerasnya selama ini.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Add as a preferred
source on Google
Finlandia dan Amerika Serikat Sudah Jadi Korban Tim Panzer Jerman BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2