Reaksi Trump Usai Wasit Terbaik Afrika Ditolak Masuk AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi kekhawatiran terkait masalah visa bagi peserta Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut muncul di tengah sorotan terhadap kasus wasit asal Somalia, Omar Artan yang akan bertugas pada ajang Piala Dunia dan telah memperoleh visa perjalanan ke AS pekan lalu, namun ditolak masuk saat tiba di Amerika Serikat.
Menurut Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS, keputusan tersebut diambil setelah pemeriksaan lebih lanjut menemukan adanya masalah verifikasi.
Saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval, Trump mengatakan pemerintahannya tengah meninjau berbagai persoalan yang muncul, sembari menegaskan bahwa pihaknya ingin memastikan keamanan perbatasan tetap terjaga.
"Kami bekerja sama dengan sangat cermat untuk memastikan orang-orang yang tepat datang ke negara kami," kata Trump dikutip dari The Hill.
FIFA juga menegaskan bahwa mereka tidak bisa terlibat dalam proses imigrasi dan menyatakan status Artan tidak berubah.
Artan yang dinobatkan sebagai wasit terbaik Afrika pada 2025 akhirnya harus kembali ke Mogadishu pada Rabu (10/6) dan mendapat sambutan luar biasa dari negaranya.
Namun, Artan menyampaikan tekadnya untuk tetap mengejar kesempatan tampil di Piala Dunia berikutnya.
"Saya berjanji, insya Allah, bahwa saya akan menghadiri event berikutnya. Saya ingin masyarakat Somalia tenang dan tetap percaya diri," kata Artan saat tiba di Mogadishu.
Isu visa juga menjadi perhatian sejumlah atlet lainnya. Penyerang Iran, Mehdi Taremi, mengaku suasana menjelang turnamen kali ini terasa berbeda dibandingkan pengalaman tiga Piala Dunia sebelumnya.
"Saya sudah tiga kali mengikuti Piala Dunia dan mereka selalu mengatakan begitu Anda turun dari pesawat dan memasuki negara tuan rumah, ada suasana unik yang penuh keramahan dan semangat global," ucap Taremi.
"Sayangnya, saya tidak merasakannya saat ini. Ada banyak ketegangan saat ini di Piala Dunia ini. Anda bisa merasakannya di atmosfer dan sayangnya, itu karena tindakan seperti [penolakan visa]. Mungkin itu hanya perasaan pribadi saya," ucap Taremi.
(rhr)