Duel Panas Tim Samba Lawan Singa Atlas, Siapa Lebih Berkelas?
Muhammad Ikhwanuddin | CNN Indonesia
Sabtu, 13 Jun 2026 18:50 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Vinicius Jr tadi tumpuan brasil ketika Neymar cedera. (REUTERS/Jorge Silva)
Jakarta, CNN Indonesia --
Laga akbar langsung tersaji di awal Piala Dunia 2026. Kekuatan besar dari Benua Amerika, Brasil bakal bersua Maroko, kesebelasan pilih tanding dari Afrika Utara.
Sekitar 82 ribu pasang mata bakal jadi saksi langsung duel di Stadion New York New Jersey, Minggu (14/6) pukul 05.00 WIB tersebut. Pekik sorak dan gemuruh teriak diperkirakan jadi latar suara sepanjang laga.
Brasil dan Maroko sama-sama punya basis suporter masif. Tim Samba, sebagai satu-satunya kubu langganan peserta Piala Dunia, sudah pasti setiap gerak-geriknya jadi perhatian penonton di arena dan di layar kaca.
Tapi Singa Atlas, julukan timnas Maroko, dengan kualitas menanjak sepanjang dekade 2020-an, punya penggemar gila bola dan siap hadir kemanapun tim kesayangan berada. Bukan tak mungkin, suporter Brasil dan Maroko di gelanggang bakal sama banyaknya.
Sebab duel ini bak laga final di Grup C. Kedua kubu, Brasil dan Maroko, merupakan tim favorit untuk melangkah ke fase berikutnya alih-alih Haiti dan Skotlandia.
Tapi siapa tahu soal takdir. Sejarah mencatat, tak sedikit tim berlabel elite justru terjungkal di babak penyisihan. Sayangnya, skenario ini sudah lama tak dialami Brasil sepanjang penyelenggaraan.
Terakhir kali Brasil gagal melangkah lebih dari fase grup adalah di Piala Dunia 1966. Setelah itu, mereka selalu menapak babak berikutnya.
Di satu sisi, Brasil pernah membuat publik terkejut saat kalah 0-1 dari Kamerun di laga pemungkas Grup G Piala Dunia 2022. Ini jadi isyarat skuad Canarinho juga bisa ditaklukkan termasuk oleh Maroko.
Menghadapi tim besutan Carlo Ancelotti, kubu pimpinan Mohamed Ouahbi perlu ekstra percaya diri. Brasil memang duduk di peringkat keenam, tapi Maroko ada di peringkat ketujuh. Dari sini mestinya The Atlas Lions tak perlu rendah diri.
Maroko punya bintang berusia usia emas. Sang kapten, Achraf Hakimi kini 26 tahun dan Brahim Diaz 25 tahun. Belum lagi ditambah rising star seperti Nel Al Aynaoui (AS Roma) dan Amir Richardson (FC Copenhagen) dengan usia di bawah 24 tahun.
Kombinasi dengan pemain kaya asam-garam seperti Sofyan Amrabat, Yassine Bounou, dan Ayoub El Kaabi diharapkan dapat mempersulit efektivitas pola Christmas Tree racikan Ancelotti.
Dengan situasi ini, mestinya Brasil perlu lebih waspada. Meski secara head to head lebih unggul, bukan tak mungkin tim Samba justru terjerembap ke lubang nestapa.
Brasil dan Maroko sudah berjumpa tiga kali. Dari rekam jejak itu, tim Samba lebih unggul dengan dua kemenangan. Sedangkan wakil Afrika Utara satu kali mendulang hasil maksimal.
Kemenangan Maroko diperoleh dalam sebuah laga persahabatan pada 25 Maret 2023. Itu bisa jadi cerminan kekuatan Achraf Hakimi dan kawan-kawan menghadapi tim sekuat Brasil.
Baca lanjutan analisis ini di halaman selanjutnya>>>
Maroko dengan status juara Piala Afrika 2025 sementara jadi raja benua. Kans dominasi Brasil boleh jadi dapat diganggu oleh si 'Bos Kecil'.
Di sisi lain, kekalahan Brasil dari Maroko pada pertemuan terakhir adalah masa lalu. Saat itu, Brasil sedang dalam masa transisi setelah ditinggal Tite dari jabatan pelatih. Barulah setelah Ancelotti menduduki kursi, tim Samba menanjak lagi.
Kendati nyawa nampak kembali, Brasil sebenarnya belum sempurna. Dari 12 pertandingan di bawah kendali Ancelotti, mereka kalah tiga kali di antara dua hasil imbang dan tujuh kemenangan.
Dua dari tiga kekalahan diterima saat berhadapan dengan tim Kuda Hitam, Bolivia (Kualifikasi Piala Dunia 2026) dan Jepang (Laga Persahabatan). Sedangkan satu kali kalah sisanya saat melawan Prancis di laga ujicoba.
Ada satu benang merah dari tiga kekalahan itu, yakni Brasil keok saat bertindak sebagai tim tamu. Di sinilah Ancelotti mesti jeli. Perlu ada evaluasi dalam aspek teknis dan non teknis dalam laga tandang.
Termasuk di Piala Dunia 2026 karena seluruh laga adalah tandang bagi Brasil. Mereka harus benar-benar adaptif terhadap lingkungan. Kebetulan laga babak penyisihan mereka bergulir di Amerika Serikat seluruhnya.
Ini tanggungjawab besar bagi Ancelotti di tugas pertamanya sebagai pelatih sebuah negara. Plus, baru kali ini pula Brasil dilatih oleh sosok dengan paspor berbeda.
Ancelotti diyakini sudah menyusun kekuatan penuh jelang laga perdana di Piala Dunia 2026. Agaknya kali ini Neymar tak ikut serta karena masih berkutat dengan cedera.
Beruntung lini depan Brasil kaya sumber daya. Juru gedor bisa dipercaya pada sosok Cunha. Aliran bola dapat menugaskan Lucas Paqueta.
Di sektor flank, sayap kiri akan permanen milik Vinicius Jr. Kemudian di sisi kanan, bintang Barcelona Raphinha hampir dipastikan jadi tokoh utama.
Lini tengah Brasil juga mumpuni. Duet Casemiro dan Bruno Guimaraes bakal jadi tandem mematikan. Benteng pertahanan dengan kehadiran Danilo, Marquinhos, Gabriel Magalhaes, dan Sandro diprediksi bakal aman. Plus kehadiran Alisson Becker sebagai penjaga gawang.
Daftar pemain bergelimang kualitas ini mesti dimaksimalkan oleh Ancelotti. Meski Maroko pasti bakal memberi perlawanan berarti, kemenangan agaknya bakal jadi milik Brasil.
Laga akbar langsung tersaji di awal Piala Dunia 2026. Kekuatan besar dari Benua Amerika, Brasil bakal bersua Maroko, kesebelasan pilih tanding dari Afrika Utara.
Sekitar 82 ribu pasang mata bakal jadi saksi langsung duel di Stadion New York New Jersey, Minggu (14/6) pukul 05.00 WIB tersebut. Pekik sorak dan gemuruh teriak diperkirakan jadi latar suara sepanjang laga.
Brasil dan Maroko sama-sama punya basis suporter masif. Tim Samba, sebagai satu-satunya kubu langganan peserta Piala Dunia, sudah pasti setiap gerak-geriknya jadi perhatian penonton di arena dan di layar kaca.
Tapi Singa Atlas, julukan timnas Maroko, dengan kualitas menanjak sepanjang dekade 2020-an, punya penggemar gila bola dan siap hadir kemanapun tim kesayangan berada. Bukan tak mungkin, suporter Brasil dan Maroko di gelanggang bakal sama banyaknya.
Sebab duel ini bak laga final di Grup C. Kedua kubu, Brasil dan Maroko, merupakan tim favorit untuk melangkah ke fase berikutnya alih-alih Haiti dan Skotlandia.
Tapi siapa tahu soal takdir. Sejarah mencatat, tak sedikit tim berlabel elite justru terjungkal di babak penyisihan. Sayangnya, skenario ini sudah lama tak dialami Brasil sepanjang penyelenggaraan.
Terakhir kali Brasil gagal melangkah lebih dari fase grup adalah di Piala Dunia 1966. Setelah itu, mereka selalu menapak babak berikutnya.
Di satu sisi, Brasil pernah membuat publik terkejut saat kalah 0-1 dari Kamerun di laga pemungkas Grup G Piala Dunia 2022. Ini jadi isyarat skuad Canarinho juga bisa ditaklukkan termasuk oleh Maroko.
Menghadapi tim besutan Carlo Ancelotti, kubu pimpinan Mohamed Ouahbi perlu ekstra percaya diri. Brasil memang duduk di peringkat keenam, tapi Maroko ada di peringkat ketujuh. Dari sini mestinya The Atlas Lions tak perlu rendah diri.
Maroko punya bintang berusia usia emas. Sang kapten, Achraf Hakimi kini 26 tahun dan Brahim Diaz 25 tahun. Belum lagi ditambah rising star seperti Nel Al Aynaoui (AS Roma) dan Amir Richardson (FC Copenhagen) dengan usia di bawah 24 tahun.
Kombinasi dengan pemain kaya asam-garam seperti Sofyan Amrabat, Yassine Bounou, dan Ayoub El Kaabi diharapkan dapat mempersulit efektivitas pola Christmas Tree racikan Ancelotti.
Dengan situasi ini, mestinya Brasil perlu lebih waspada. Meski secara head to head lebih unggul, bukan tak mungkin tim Samba justru terjerembap ke lubang nestapa.
Brasil dan Maroko sudah berjumpa tiga kali. Dari rekam jejak itu, tim Samba lebih unggul dengan dua kemenangan. Sedangkan wakil Afrika Utara satu kali mendulang hasil maksimal.
Kemenangan Maroko diperoleh dalam sebuah laga persahabatan pada 25 Maret 2023. Itu bisa jadi cerminan kekuatan Achraf Hakimi dan kawan-kawan menghadapi tim sekuat Brasil.
Baca lanjutan analisis ini di halaman selanjutnya>>>
Dominasi Raksasa Amerika Bisa Diganggu 'Bos Kecil' Afrika
Timnas Maroko mencoba buat kejutan lawan Brasil di Piala Dunia 2026. (AFP/CHARLY TRIBALLEAU)
Maroko dengan status juara Piala Afrika 2025 sementara jadi raja benua. Kans dominasi Brasil boleh jadi dapat diganggu oleh si 'Bos Kecil'.
Di sisi lain, kekalahan Brasil dari Maroko pada pertemuan terakhir adalah masa lalu. Saat itu, Brasil sedang dalam masa transisi setelah ditinggal Tite dari jabatan pelatih. Barulah setelah Ancelotti menduduki kursi, tim Samba menanjak lagi.
Kendati nyawa nampak kembali, Brasil sebenarnya belum sempurna. Dari 12 pertandingan di bawah kendali Ancelotti, mereka kalah tiga kali di antara dua hasil imbang dan tujuh kemenangan.
Dua dari tiga kekalahan diterima saat berhadapan dengan tim Kuda Hitam, Bolivia (Kualifikasi Piala Dunia 2026) dan Jepang (Laga Persahabatan). Sedangkan satu kali kalah sisanya saat melawan Prancis di laga ujicoba.
Ada satu benang merah dari tiga kekalahan itu, yakni Brasil keok saat bertindak sebagai tim tamu. Di sinilah Ancelotti mesti jeli. Perlu ada evaluasi dalam aspek teknis dan non teknis dalam laga tandang.
Termasuk di Piala Dunia 2026 karena seluruh laga adalah tandang bagi Brasil. Mereka harus benar-benar adaptif terhadap lingkungan. Kebetulan laga babak penyisihan mereka bergulir di Amerika Serikat seluruhnya.
Ini tanggungjawab besar bagi Ancelotti di tugas pertamanya sebagai pelatih sebuah negara. Plus, baru kali ini pula Brasil dilatih oleh sosok dengan paspor berbeda.
Ancelotti diyakini sudah menyusun kekuatan penuh jelang laga perdana di Piala Dunia 2026. Agaknya kali ini Neymar tak ikut serta karena masih berkutat dengan cedera.
Beruntung lini depan Brasil kaya sumber daya. Juru gedor bisa dipercaya pada sosok Cunha. Aliran bola dapat menugaskan Lucas Paqueta.
Di sektor flank, sayap kiri akan permanen milik Vinicius Jr. Kemudian di sisi kanan, bintang Barcelona Raphinha hampir dipastikan jadi tokoh utama.
Lini tengah Brasil juga mumpuni. Duet Casemiro dan Bruno Guimaraes bakal jadi tandem mematikan. Benteng pertahanan dengan kehadiran Danilo, Marquinhos, Gabriel Magalhaes, dan Sandro diprediksi bakal aman. Plus kehadiran Alisson Becker sebagai penjaga gawang.
Daftar pemain bergelimang kualitas ini mesti dimaksimalkan oleh Ancelotti. Meski Maroko pasti bakal memberi perlawanan berarti, kemenangan agaknya bakal jadi milik Brasil.