ANALISIS

Brasil vs Jepang: Adu Sniper 2 Raja Benua di Tanah Koboi Texas

Muhammad Ikhwanuddin | CNN Indonesia
Senin, 29 Jun 2026 18:10 WIB
Soccer Football - FIFA World Cup 2026 - Group F - Tunisia v Japan - Estadio Monterrey, Monterrey, Mexico - June 20, 2026
Japan's Junya Ito celebrates scoring their third goal REUTERS/Daniel Becerril     TPX IMAGES OF THE DAY
Junya Ito bisa mengejutkan Brasil dalam duel 32 besar Piala Dunia 2026. (REUTERS/Daniel Becerril)

Timnas Jepang punya banyak cara untuk berjuang. Kolektivitas dan kualitas seimbang jadi dua contoh Samurai Biru bisa merebut kesempatan untuk menang. 

Jepang konsisten jadi kontestan sejak Piala Dunia 1998. Mereka punya rekam jejak konstan menantang lawan, bukan sekadar peramai keadaan. Jepang kekuatan besar Piala Dunia. 

Debut di Piala Dunia 1998 memang berbuah duka dengan tiga kekalahan. Namun pencapaian meningkat saat jadi tuan rumah Piala Dunia 2002 dengan dua kemenangan. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sempat merosot di Piala Dunia 2006, mereka bangkit di Piala Dunia 2010 dengan lolos babak 16 besar. Sayangnya mereka gagal lagi pada fase grup Piala Dunia 2014. 

Namun, di Piala Dunia 2018 dan 2022, konstan menembus 16 besar. Jumlah kemenangan dan level lawan pun meningkat. Spanyol dan Jerman pernah jadi korban di Piala Dunia 2022. 

Usut punya usut, Brasil juga pernah jadi bulan-bulanan Jepang. Momen itu terjadi dalam laga persahabatan di Tokyo, Oktober 2025, dalam ajang Kirin Challenge Cup. 

Kala itu, Jepang melancarkan comeback epik usai tertinggal 0-2. Rentetan tiga gol di babak kedua membuktikan semangat juang Negeri Sakura senantiasa membara. 

Pelatih Jepang, Hajime Moriyasu, menerapkan sepak bola pragmatis kala itu. Pola tiga bek tengah dengan dua bek sayap memaksimalkan lini pertahanan, sekaligus mendukung skema serangan balik. 

Satu hal menarik dari Jepang dalam laga itu adalah menerapkan high press meski sedang tertinggal dua gol. Pola itu terbukti membuahkan angka dengan proses identik, kesalahan sendiri pemain Brasil.  

Banner Gempita Bola 2026

Sedangkan gol ketiga sekaligus penutup kemenangan Jepang hadir dari sepak pojok. Ini jadi isyarat skema bola mati juga jadi senjata Ritsu Doan dan kawan-kawan. 

Faktor ini membuat Brasil harus benar-benar belajar dari kesalahan. Sebab saat dikalahkan Jepang, Ancelotti sudah memimpin Vinicius Jr dan kawan-kawan. 

Namun Jepang diyakini juga membaca peta kekuatan Brasil sebelum pertandingan. Bukan tak mungkin wakil Asia bakal menghadirkan kejutan dengan kemenangan.

[Gambas:Video CNN]

(abs) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2