Argentina vs Cape Verde: Panggung Miami dan Dansa Senja Lionel Messi
Saat waktu memaksa para legenda meletakkan senjata, Lionel Messi memilih jalan berbeda. Di usia 39 tahun, ia justru kembali ke Miami. Misinya saat ini, membersamai Argentina di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Laga fase gugur perdana Piala Dunia 2026 melawan Cape Verde bukan sekadar urusan lolos ke fase berikutnya. Bagi La Pulga, pertandingan di Stadion Miami terasa personal karena digelar di kota tempat ia bernaung saat ini.
Meski stadion dengan nama Hard Rock Stadium ini bukan markas utama Messi di Inter Miami, dirinya terasa akrab lantaran pernah membukukan dua gol di sini.
Sejak kepindahannya ke Inter Miami pada 2023, kota di pesisir Florida bertransformasi menjadi episentrum pemujaan terhadap sang megabintang. Publik Miami dipastikan akan mengokupasi stadion demi menciptakan atmosfer laga kandang masif bagi Albiceleste.
Dunia maya kerap menyebutnya sebagai 'The Messi Effect'. Gelombang dukungan dari publik lokal sehari-hari yang dekat dengan sang ikon budaya pop baru Miami akan menjadi bahan bakar tambahan masif.
Takdir Piala Dunia format baru ini seolah sengaja membawa Messi kembali ke bawah lampu sorot kota Miami untuk berdansa di panggung dunia. Bedanya, kali ini ia datang bukan sebagai pelengkap sejarah masa lalu, melainkan mesin gol utama tim.
Melihat performanya di fase grup, usia 39 tahun tampak seperti angka belaka. Superstar Inter Miami tersebut secara luar biasa memimpin daftar top skor turnamen dengan torehan enam gol dari tiga laga.
Catatan tersebut setara dengan 75 persen dari total gol yang dilesakkan Argentina sepanjang fase grup. Anomali statistik ini membuktikan ketergantungan skuad asuhan Lionel Scaloni terhadap sang kapten masih berada di level ekstrem.
Aspek taktis inilah yang kerap diulas oleh super komputer. Di usia senjanya, Messi tidak lagi membuang energi untuk berlari menjemput bola, melainkan hanya jalan kaki lebih dari separuh jarak tempuhnya di lapangan.
Tetapi, begitu bola berada di sepertiga akhir lapangan, kesadaran akan ruang serta akurasi kaki kirinya tetap menjadi paling mematikan. Ia menolak tua dengan bermain menggunakan otak, bukan otot.
Ketajaman di babak grup sekaligus membawa misi istimewa bagi Messi. Tambahan enam gol tersebut membuatnya makin kukuh di puncak top skor Piala Dunia sepanjang masa.
Jika magisnya kembali memakan korban di Miami, 'hilal' bagi Argentina untuk meraih gelar back-to-back juara dunia mulai terlihat nyata. Langkah menuju podium juara di Amerika Serikat kini berada di jalur tepat.
Kendati demikian, Argentina tidak boleh menutup mata terhadap realitas dibawa oleh sang lawan. Cape Verde datang ke Florida bukan untuk menjadi penonton kenyamanan dansa senja Messi.