VARgentina Menggema usai Argentina Dituduh Dibantu Wasit
Penerapan protokol baru terkait regulasi wasit dinilai telah memperkeruh persepsi publik mengenai asas keadilan di Piala Dunia 2026. Hal tersebut diungkapkan oleh mantan wasit FIFA pada Senin (13/7), menyusul rentetan kontroversi yang menemani kesuksesan timnas Argentina lolos semifinal.
Langkah sang juara bertahan untuk menantang Inggris di babak empat besar dipenuhi oleh protes keras dari tim-tim lawan. Di jagat maya, spekulasi liar netizen bahkan menuduh adanya konspirasi untuk memenangkan tim berjulukan La Albiceleste, hingga memunculkan sindiran baru: VARgentina.
Puncak perdebatan terjadi pada akhir pekan lalu saat Argentina mendepak Swiss di perempat final. Striker Swiss, Breel Embolo, diusir keluar lapangan akibat kartu kuning kedua setelah dinilai melakukan diving lewat intervensi VAR. Keputusan ini dikecam keras oleh pelatih Swiss, Murat Yakin, sebagai aturan yang 'tidak bisa diterima'.
Seperti dilansir Reuters, Selasa (14/7), pihak FIFA menolak berkomentar banyak dan hanya merujuk pada wawancara Ketua Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, pada 8 Juli lalu. Saat itu, Collina secara tegas membantah adanya keberpihakan wasit saat Argentina mengalahkan Mesir di babak 16 besar.
Protokol mengenai 'salah identitas' (mistaken identity) merupakan satu dari beberapa aturan baru yang diterapkan IFAB untuk musim 2026/2027 dan langsung dipakai di Piala Dunia 2026, namun implementasi regulasi yang belum teruji matang ini justru memicu polemik besar.
"Saya rasa aturan ini sejak awal tidak seharusnya diterapkan karena cakupannya terlalu luas," kritik Christina Unkel, mantan wasit FIFA yang kini menjadi analis regulasi Piala Dunia untuk stasiun televisi Inggris, ITV.
"Bagian yang membuat saya janggal adalah kita tidak hanya mengubah siapa pemain yang menerima kartu, tetapi kita mengubah keputusan mendasar. Dari yang awalnya memberikan pelanggaran ke arah A, diubah total menjadi arah sebaliknya. Jadi, kita mengubah basis keputusan awal wasit," jelasnya.
"Bagi saya, di sinilah kita secara resmi masuk ke area di mana VAR bertindak seperti 'wasit kedua' yang menganulir keputusan di lapangan-sesuatu yang selama ini justru mati-matian dihindari oleh filosofi dasar VAR," tegas Unkel.
Fakta bahwa celah aturan baru ini berulang kali menguntungkan Argentina dinilai menjadi pemantik utama kemarahan para suporter di dunia maya.
Narasi miring yang menyudutkan tim asuhan Lionel Scaloni sebenarnya sudah mulai terbangun sejak babak penyisihan grup Piala Dunia 2026:
Kubu Aljazair sempat mengamuk dan menuntut Messi dikartu merah langsung setelah kedapatan menginjak betis kapten mereka, Aissa Mandi, di babak pertama. Wasit mengabaikan insiden tersebut, dan Messi menyudahi laga dengan torehan hat-trick. Federasi Sepak Bola Aljazair bahkan mengajukan protes resmi ke FIFA akibat buruknya kepemimpinan wasit.
Kemudian pada babak 16 besar, Mesir sempat mencetak gol pada menit ke-62, namun gol tersebut dianulir VAR karena menganggap telah terjadi pelanggaran lebih dulu dalam proses membangun serangan. Protes penalti Mesir di akhir laga juga diabaikan wasit, sebelum akhirnya Argentina mencetak gol kemenangan 3-2 pada menit ke-92.
Meski demikian, Unkel secara objektif menilai tidak ada kesalahan fatal dari wasit dalam laga Argentina kontra Aljazair dan Mesir. Menurutnya, wasit kerap kali menjadi sasaran tembak paling mudah bagi para fans ketika tim kesayangan mereka menelan kekalahan.
(wiw/nva)