Spanyol vs Argentina: Genetika Gergaji Kayu Menguji 'Demigod' Messi
Rata-rata ball possession Spanyol di Piala Dunia 2026 adalah 66,0 persen. Rinciannya, di atas 70 persen saat babak grup, di atas 60 persen di babak besar, dan 51 persen pada semifinal.
Penguasaan bola Rodri dan kawan-kawan lebih baik dibanding generasi emas yang juara Piala Dunia 2010. Saat itu ada Andres Iniesta, Xavi Hernandez, dan Sergio Busquets, tetapi lebih dominan tim 2026.
Titik temunya, penguasaan bola tim Matador sama-sama 51 persen pada babak semifinal. Ini semacam pola, untuk kembali tampil dominan, cepat, dan lincah pada partai final.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya saja, Argentina juga tim yang suka bermain-main di taman. Argentina bukan tim pragmatis yang langsung menusuk ke ulu hati. Argentina juga tim penyiksa; mendominasi.
Selama Piala Dunia 2026 hanya sekali Argentina kalah penguasaan bola. Yakni saat melawan Aljazair. Sisanya, dikuasai. Bahkan, Inggris dipaksa bermain seperti katak dalam tempurung. Sempit di pertahanan.
Genetika atau DNA Spanyol dalam asuhan Luis de la Fuente memang tiki taka. Bola-bola pendek terkalibrasi. Hanya saja, kali ini Spanyol bermain seperti para penggergaji kayu.
Pau Cubarsi (kiri) menjadi salah satu bek Spanyol yang tampil impresif di Piala Dunia 2026. (REUTERS/Kai Pfaffenbach) |
Spanyol maju mundur dengan intensitas konstan. Gerakannya ritmik; berirama; penuh ketukan. Prancis yang bertabur bintang, jago olah bola, dan cepat, saja dibuat mati gaya.
Filosofi permainan yang biasa terlihat dalam gaya Barcelona ini tentu pula ada di kepala Lionel Messi. La Pulga, si kutu adalah anak baptis dari taktik bola yang fenomenal tersebut.
Spanyol tak bisa arogan di hadapan Messi. Sudah banyak korbannya. Kepercayaan diri berlebihan tak ada gunanya di muka Argentina. Ujungnya selalu sama, submisif; pasrah.
Lamine Yamal (kiri) sudah menemukan permainan terbaiknya dan bisa menjadi ancaman Argentina pada laga final Piala Dunia 2026. (REUTERS/Matthew Childs) |
Namun Spanyol bukan seperti itu. Psywar angkuh khas sepak bola tak muncul. Lamine Yamal misalnya, dengan jujur berkata ikhlas jika akhirnya kalah dari Argentina di laga final.
Spanyol kembali rendah hati. Spanyol tak lagi meledak-ledak. Hanya saja ini psikologi sebelum perang. Spanyol tak ingin perang kata. Memantik api dikurangi. Inilah mentalitas gergaji kayu.
(ptr) Add
as a preferred source on Google

