Pelatih Argentina Murka Jadwal Final Piala Dunia Untungkan Spanyol
Ketegangan menyelimuti kubu Argentina menjelang laga final Piala Dunia 2026. Pelatih La Albiceleste, Lionel Scaloni, melayangkan protes keras kepada FIFA terkait jadwal latihan dan pemulihan timnya yang dinilai tidak adil dan sangat menguntungkan Spanyol.
Argentina berhasil mengamankan tiket ke partai puncak usai menumbangkan Inggris 2-1 secara dramatis pada Rabu (15/7) malam di Atlanta. Gol telat dari Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez membalikkan keadaan sekaligus membawa sang juara bertahan ke final Piala Dunia ketujuh mereka.
Namun, Spanyol memiliki waktu istirahat yang lebih panjang. La Furia Roja sudah memastikan kelolosan mereka ke final di New Jersey setelah mengandaskan Prancis, 24 jam sebelum laga Argentina vs Inggris digelar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perbedaan waktu bertanding ini berbuntut pada ketimpangan proses logistik. Spanyol dilaporkan sudah terbang ke New Jersey sejak Rabu malam, tepat sehari setelah membungkam Prancis. Sementara itu, armada Scaloni baru bisa mendarat di wilayah timur laut Amerika Serikat tersebut pada Kamis (16/7) menjelang tengah malam.
Dalam sesi konferensi pers pada Jumat (17/7) malam waktu setempat, Scaloni tidak bisa menyembunyikan kekesalannya kepada FIFA yang dianggap tidak peka terhadap kondisi fisik para pemainnya.
Usai tiba pukul 11 malam pada hari Kamis, Lionel Messi dan kolega langsung diinstruksikan oleh FIFA untuk menjalani sesi latihan singkat pada Jumat siang di bawah cuaca kota New York yang sangat menyengat.
"Kami baru bisa beristirahat karena baru tiba tadi malam sekitar pukul 11. Hari ini, mereka [FIFA] memaksa kami berlatih di waktu yang sebenarnya tidak kami inginkan," semprot Scaloni, seperti dilansir Give Me Sport.
"Akibat jadwal konferensi pers dan urusan lainnya, kami terpaksa menjalani sesi latihan yang aneh dan terburu-buru. Kami bahkan hampir tidak sempat menguji taktik apa pun di lapangan," lanjutnya.
Scaloni menegaskan bahwa fokus utama timnya saat ini adalah mengembalikan kebugaran, mengingat beberapa pilar pentingnya tidak berada dalam kondisi 100 persen fit akibat jadwal yang padat.
Meski sebagian pihak menilai Scaloni hanya mencari-cari alasan sebelum laga dimulai, keluhan pelatih berusia 48 tahun itu nyatanya didukung oleh data historis yang valid.
Riset dari The Athletic mengungkapkan sebuah tren krusial: dalam 13 dari 14 edisi terakhir Piala Dunia dan Piala Eropa, tim yang memainkan laga semifinal lebih awal selalu keluar sebagai juara.
Fakta bahwa Spanyol mengantongi waktu istirahat tambahan dan memiliki waktu lebih banyak untuk mematangkan taktik jelas menjadi keuntungan masif di turnamen singkat seperti ini.
Scaloni juga menilai seharusnya FIFA mengizinkan Argentina berlatih pada sore atau malam hari saat cuaca lebih sejuk dan memindahkan agenda konferensi pers ke waktu siang hari.
(wiw/jun) Add
as a preferred source on Google
