Timnas Indonesia Patut Tiru Spirit Cape Verde di Piala Dunia
Kejutan manis yang ditampilkan Cape Verde di panggung Piala Dunia 2026 dinilai patut menjadi pelajaran berharga sekaligus rujukan bagi Timnas Indonesia.
Negara kepulauan kecil di Afrika tersebut sukses mencuri perhatian dunia lewat performa militan. Hasil-hasil pertandingannya pun mengejutkan.
Cape Verde tak terkalahkan di fase grup oleh Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi. Kemudian meski kalah di babak 32 besar, tim Hiu Biru membuat Argentina harus memeras keringat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun tidak hanya mengejutkan publik, penampilan impresif juga membuat Vozinha dan kawan-kawan mendadak dilirik oleh klub-klub elite.
Pengamat sepak bola Supriyono Prima menilai kunci utama keberhasilan tim-tim kejutan seperti Cape Verde bukanlah soal materi pemain bintang, melainkan spirit kebangsaan yang tertanam kuat.
"Kalau aku sih spirit kebangsaan ya. Orang tidak pernah melihat Cape Verde itu apa, orang selalu berpikir nanti juga digunduli, tapi faktanya dengan spirit kebangsaan luar biasa mereka bisa membuktikan punya tim yang kuat," kata Supriyono saat dihubungi pada Rabu (22/7) siang.
"Selain membuat bangga negara, momen di Piala Dunia itu kan juga jadi kesempatan jualan untuk individunya. Dan terbukti penjaga gawang Cape Verde langsung dapat kontrak baru," sambungnya.
Jebolan PSSI Primavera itu mengatakan bahwa spirit nasionalisme tinggi seperti itulah yang harus ditanamkan John Herdman ke dalam skuad Garuda. Menurutnya, seluruh pemain harus mengesampingkan dikotomi latar belakang saat mengenakan jersey Merah Putih.
"Nasionalisme itu harus dibangun. Eranya John Herdman itu sudah enggak ada lagi bicara ini pemain luar, ini lokal, ini dari Persib atau Persija. Cuma ada satu: Merah Putih, selesai," ujarnya.
Ia menambahkan, apabila para pemain yang dipanggil ke Timnas Indonesia memiliki visi nasionalisme yang sama, hal tersebut akan menjelma kekuatan dahsyat di lapangan.
"Setiap individu harus terpatri jiwa nasionalismenya. Karena sepak bola itu 11 orang, tapi harus satu kepala, enggak bisa 11-11 nya berjalan sendiri-sendiri. Ketika semuanya bersatu, bukan tidak mungkin kita bisa lebih dahsyat," tutup Supriyono dalam pernyataannya.
(afr/nva) Add
as a preferred source on Google