Piala Presiden dan Cek Raksasa untuk Pahlawan Sepak Bola Indonesia
Bila sesi pertama tadi dipenuhi haru karena mengenang mereka yang telah tiada atau tak bisa hadir, sesi berikutnya membawa energi yang berbeda, yakni kehadiran dan suara dari para legenda yang masih ada, meski usia mereka kini sudah jauh melampaui masa jaya di lapangan hijau. Panggung berganti fokus ke penghargaan untuk tiga pemain legendaris, Boaz Solossa, Ferril Raymond Hattu dan Heri Kiswanto.
Dari ketiganya, hanya Ferril Raymond Hattu yang bisa hadir secara langsung di Surabaya. Ia naik ke panggung menerima giant check senilai Rp100 juta, yang kemudian ditambah lagi Rp100 juta secara spontan oleh Steering Commitee Piala Presiden 2026 Maruarar Sirait, sehingga total yang ia terima menjadi Rp200 juta. Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan begitu jumlah tersebut diumumkan.
Namun yang membuat momen itu benar-benar mengharukan bukanlah angka nominalnya, melainkan getar suara Ferril ketika ia mulai berbicara. Sebagai mantan pemain nasional yang sudah lama tidak lagi berada di sorotan, ia mengaku sulit menyembunyikan keharuannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sebagai mantan pemain nasional sepak bola khususnya itu saya agak gemeter ini. Karena saya betul-betul terharu ya, bahwa baru kali ini, Pak, ya, panitia yang sedang mengurus [turnamen] ini itu memperhatikan kami," ujarnya, sempat terhenti sejenak sebelum melanjutkan.
Ia lalu membawa hadirin mundur ke masa lalu, ke era ketika negara masih memberi ruang bagi para pahlawan olahraga untuk hidup layak setelah gantung sepatu, sebuah era yang menurutnya kini telah lama berlalu.
"Kami ini dulu zaman Almarhum Pak Kardono, Pak, itu ada Yayasan Sepak Bola Indonesia dan kita yang punya prestasi juara, medali emas SEA Games itu dapat bulanan seumur hidup. Nah, sekarang kita sudah enggak ada ada lagi, enggak jelas itu," katanya, nada suaranya getir.
Ia melanjutkan dengan menceritakan betapa besar pengorbanan generasi mereka, jauh sebelum sepak bola Indonesia mengenal sistem pembinaan modern seperti sekarang.
"Kami pagi, siang, sore itu di lapangan, kami mengorbankan masa muda kita, kami untuk tidak sekolah, mungkin tidak bergaul dengan bermain dengan teman sebaya karena TC itu sepanjang tahun dulu, Pak," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dirinya termasuk yang beruntung, sempat menjadi direktur di anak perusahaan Petrokimia Gresik setelah pensiun, meski tidak semua rekan seangkatannya seberuntung itu di masa tua mereka.
Karena itu, Ferril tidak mau penghargaan ini hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk rekan-rekan lain yang jauh dari sorotan, terutama yang berasal dari luar Pulau Jawa.
"Kalau Jawa ini lebih lebih gampang kita komunikasinya. Kalau yang di luar Jawa itu dia juga mungkin malu hati untuk minta tolong. Tapi itu orang dulu kibarkan bendera merah putih dan Indonesia Raya itu berkumandang di negara orang," ucapnya.
Sementara itu, dari layar Zoom yang terpasang di sudut panggung, dua legenda lain ikut menyampaikan pesan mereka meski tak bisa hadir secara fisik. Boaz Solossa, yang suaranya sempat tersendat karena gangguan sinyal, akhirnya berhasil menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Presiden dan seluruh jajaran panitia penyelenggara Piala Presiden 2026.
"Yang mungkin ingin saya ucapkan, banyak terima kasih kepada Bapak Presiden yang sudah menyelenggarakan pertandingan Piala Presiden dan juga kepada seluruh panitia yang menyelenggarakan Piala Presiden. Semoga semua berjalan dengan baik dan juga bisa bertanding dari awal sampai berakhir pada partai final nanti dengan baik. Semoga Bapak-bapak bisa mengurus sepak bola Indonesia ke depannya lebih baik lagi," ujar Boaz melalui sambungan video.
Giliran Heri Kiswanto yang juga bergabung lewat Zoom, suaranya terdengar bergetar sejak kalimat pertama. Sebagai bagian dari generasi emas 1987 yang dulu berjuang bersama Bertje Matulapelwa, penghargaan ini rupanya menjadi sesuatu yang tak pernah ia bayangkan akan datang.
"Saya agak sulit bicara lagi karena merasa gemetar ya. Selama ini enggak pernah dapat apa-apa tiba-tiba dapat ini. Alhamdulillah ya, saya ucapkan terima kasih," kata Heri, bergetar.
Ia pun menitipkan harapan yang sama seperti Ferril, agar rekan-rekan seangkatannya yang lain juga mendapat perhatian serupa.
"Saya juga terenyuh juga kalau bisa teman-teman yang lain yang sudah mengibarkan bendera merah putih yang lainnya tentu mendapat perhatian juga sebaik mungkin sesuai keadaan kas Piala Presiden," ujarnya.
Mendengar rangkaian kesaksian yang penuh emosi itu, Ketua Steering Committe Maruarar Sirait pun mengambil mikrofon. Dengan nada bicara yang tegas, dia seolah ingin menjawab langsung keresahan yang baru saja disampaikan tiga legenda tersebut.
"Kami bangga dengan perjuangan Bapak mengibarkan merah putih. Dan tadi Bapak sudah menyampaikan masih banyak teman-teman yang berjuang bersama Bapak dan kami tidak mau lihat ke belakang, akan kita lihat ke depan saja," ujar Maruarar, disambut anggukan dari hadirin di barisan depan.
Tanpa berlama-lama, ia kemudian mengumumkan sebuah keputusan yang seketika mengubah suasana haru menjadi berbalut lega.
"Saya anggarkan, saya siapkan Rp500 juta untuk teman-teman yang pernah membela nama bangsa kita," katanya, disusul tepuk tangan panjang dari seluruh ruangan.
Ia menegaskan bahwa keputusan itu bukan sekadar simbolis, tapi bentuk nyata penghormatan yang sengaja ia umumkan di Surabaya, kota yang dikenal dengan julukan Kota Pahlawan.
"Sebagai Steering Committee, saya putuskan hari ini di Surabaya di Kota Pahlawan, pahlawan pejuang-pejuang yang mempertaruhkan segalanya di kota ini untuk bangsa ini ya, kami putuskan Rp500 juta dan akan diserahkan dalam waktu segera," ujarnya.
Di akhir, suasana yang sejak awal dipenuhi haru dan syukur itu ditutup dengan permintaan maaf yang tulus dari Maruarar, mewakili seluruh panitia penyelenggara, atas segala kekurangan yang mungkin masih ada dalam pelaksanaan turnamen tahun ini.
"Terima kasih banyak hal-hal baik sore hari ini yang kita bisa dapatkan. Dan terima kasih kepada Tuhan, hari ini kita bisa bahagia kalau membuat orang lain bahagia. Terima kasih di Kota Surabaya ini kita bisa bahagia karena kita bisa membuat orang lain, para pahlawan kita bahagia," ucap Maruarar menutup rangkaian sore itu.
Seiring dengan pernyataan Maruarar itu, ada rasa lega yang terpancar dari wajah keluarga Muhammad Basri, ada getar suara yang masih membekas dari Ferril, Boaz, dan Heri, dan ada satu pesan yang tersirat kuat sore itu di Surabaya, bahwa sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah lupa pada mereka yang pernah membawanya berjaya.
(farid rahman/rhr/rhr)