Piala Presiden dan Cek Raksasa untuk Pahlawan Sepak Bola Indonesia
Sore itu langit Surabaya terasa lebih teduh dari biasanya. Angin berhembus pelan menyisir pohon di Taman Surya, Balai Kota Surabaya, Minggu (2/8). Kursi-kursi terisi, kamera berjejer, namun yang menjadi pusat perhatian bukan jajaran pejabat yang duduk di barisan depan, melainkan nama-nama lama yang nyaris tenggelam oleh waktu.
Piala Presiden 2026 sudah sepekan lebih digelar di Kota Surabaya. Tapi, sebelum berlanjut ke babak semifinal dan berpindah kota lain, penyelenggara memilih untuk lebih dulu menoleh ke belakang.
Mereka mengingat orang-orang yang dulu berlari di bawah terik matahari, berkeringat demi lambang Garuda di dada. Tiga nama pelatih legendaris dihadirkan kembali dalam ingatan kolektif sore itu.
Nama pertama yang disebut adalah Bertje Matulapelwa, salah satu pelatih lokal terbaik dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Di tangannya, Timnas Indonesia melangkah hingga babak semifinal Asian Games 1986. Setahun berselang, mimpi itu berlanjut ketika Indonesia menjuarai Piala Kemerdekaan 1987. Namun puncak dari perjalanan itu ialah pencapaian medali emas SEA Games 1987.
Kisah berikutnya adalah tentang perjalanan milik Marundung Basri. Sebelum ia dikenal sebagai legenda di pinggir lapangan, ia dulu adalah seorang pelari cepat di tengah lapangan hijau, mengenakan seragam Timnas selama lebih dari satu dekade.
Semangatnya ikut mengantar Indonesia merebut juara Pesta Sepak Bola Merdeka Games tahun 1969, sebuah gelar yang menjadi penanda awal kiprahnya di level tertinggi.
Namun ceritanya tidak berhenti di situ. Ketika masa bermainnya usai, ia berpindah ke sisi lain lapangan, dari pemain menjadi arsitek permainan.
Ia membentuk sebuah tim yang kelak dijuluki The Dream Team, juara Perserikatan yang disegani. Bersama Niac Mitra, ia tiga kali mengangkat trofi juara. Ia juga yang memberi Arema gelar pertamanya, membawa PSM kembali berbicara di partai final, dan mengantar Merah Putih pulang membawa medali perunggu SEA Games 1989.
Nama ketiga yang dikenang sore itu adalah Sinyo Aliandoe. Menjadi Pelatih Timnas Indonesia, ia nyaris membawa Garuda menembus panggung Piala Dunia 1986. Timnya juara grup, melangkah hingga ke final kualifikasi Asia, sebuah pencapaian yang hingga kini masih dikenang sebagai salah satu momen terdekat Indonesia dengan mimpi tampil di pentas sepak bola dunia.
Tiga kisah itu, tiga perjalanan panjang yang penuh keringat dan pengabdian, akhirnya dihidupkan kembali di Surabaya sore itu. Untuk mengenang dan menghargai kontribusi luar biasa mereka, panitia Piala Presiden 2026 menyerahkan penghargaan berupa jersey Piala Presiden 2026 dan giant check senilai Rp100 juta untuk masing-masing legenda.
Sayang, keluarga Sinyo Aliandoe dan Bertje Matulapelwa tidak bisa hadir langsung karena berada jauh dari Surabaya. Penghargaan untuk keduanya pun diterima secara simbolis oleh keluarga Marundung Basri, dan bakal disampaikan oleh panitia ke pihak keluarga masing-masing.
Yang membuat momen ini terasa lebih haru, Marundung Basri sendiri baru saja berpulang, tak sampai dua minggu sebelum acara penghargaan ini digelar. Undangan yang seharusnya dihadiri langsung oleh sang pelatih legendaris, terpaksa harus diwakili oleh putra tertuanya, Ahmad Ridwan Basri.
"Saya sebagai anak tertua mewakili almarhum Bapak Marundung Basri yang beliau berpulang kurang lebih 10 hari yang lalu yaitu tepatnya tanggal 23 Juli 2026 hari Kamis ba'da subuh, menjelang umur 84 tahun," kata Ridwan.
Ia kemudian menjelaskan bahwa kehadirannya di panggung itu bukan hanya mewakili keluarga besar Muhammad Basri, tetapi juga keluarga dua legenda lain yang berhalangan hadir. Dia pun mengucapkan banyak terima kasih kepada penyelenggara Piala Presiden 2026.
"Kami mewakili mengucapkan terima kasih terutama yang sebesar-besarnya kepada Bapak Maruarar Sirait sebagai steering committee, juga kepada dari Bapak Presiden Prabowo, dan juga terima kasih kami ucapkan kepada Bapak Ketua PSSI sebagai induk organisasi dan kepada Bapak Wali Kota kami mengucapkan terima kasih. Semoga ini sebagai cambuk juga buat yang lainnya untuk bisa lebih berprestasi, klub-klub lokal," ucapnya.
Suasana yang sempat syahdu itu kemudian berubah menjadi lebih hangat ketika Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyampaikan sambutan singkat sebagai tuan rumah. Ia menyampaikan rasa terima kasih karena Surabaya dipercaya menjadi kota pembuka gelaran Piala Presiden 2026, sekaligus menitipkan harapan agar babak semifinal dan final turnamen mendatang juga digelar di kotanya.
Eri kemudian berbicara dengan nada yang lebih reflektif, membawa hadirin masuk ke dalam renungan tentang makna menghargai, jasa dan sejarah, sebuah tema yang jarang terdengar di tengah hiruk-pikuk seremoni olahraga.
"Bagaimana menghormati orang? Bagaimana menghargai orang yang pernah mengangkat nama sebuah kota? Nama yang selalu indah apalagi nama negara. Bagaimana orang yang berjasa tidak pernah dilupakan karena negara itu akan menjadi negara yang hebat," kata Eri.
Ia melanjutkan dengan sebuah pernyataan yang terasa seperti inti dari seluruh acara sore itu, tentang hubungan antara kebesaran sebuah bangsa dan caranya memperlakukan sejarah.
"Karena negara itu akan menjadi negara yang hebat ketika negara itu tidak pernah melupakan sejarah, dan orang itu tidak akan pernah menjadi orang hebat kalau orang itu selalu melupakan sejarah," katanya.
"Maka saya yakin Piala Presiden akan terus berjaya dan Piala Presiden ini akan memberi contoh kebaikan. Hari ini pun sudah diberikan bagaimana contoh kebaikan itu menghormati para pelatih, menghormati orang yang berjasa untuk membawa nama Indonesia harum di kancah internasional," tutur Eri, disambut anggukan dari beberapa hadirin.