Singapura vs Indonesia: Relevansi Lee-Hatta, Uji Kreativitas Herdman
Sejarah sepak bola Indonesia atas Singapura adalah histori kemenangan. Pernah kalah, tetapi dominan menang. Tak hanya di AFF, tetapi di semua ajang.
Lawatan Timnas Indonesia ke Singapura pada Agustus 2026 ini pun diwarnai keunggulan. Dari segi manapun Indonesia unggul atas Singapura. John Herdman didukung realita.
Dalam ranking FIFA, Indonesia di atas Singapura. Kisaran harga pasar atau market value skuad Garuda juga lebih mahal dari The Lions. Kualitas individu Indonesia pun lebih baik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam hal cocokologi atau permainan angka, Indonesia selalu lolos babak grup pada edisi berakhiran enam:1996 dan 2016. Seyogyanya Indonesia juga lolos grup di edisi 2026.
Namun sepak bola bukan tentang itu semua. Sepak bola selalu tentang kondisi terkini, kebugaran terbaru, mentalitas saat ini, dan juga psikolgis menjelang pertandingan.
Kekalahan 0-3 dari Vietnam menunjukkan hal-hal tersebut tidak baik-baik saja. Ternyata, kebugaran pemain Indonesia tidak terlalu prima. Lebih tepatnya tidak semua pemain.
Sesumbar 'Indonesia bukan lagi level ASEAN' pun hanya kesombongan pikiran. Jauh panggang dari api. Dan, psikologis pemain akan diuji apakah bener-benar punya mental juara atau tidak.
Di Kallang, Indonesia pernah menangis tidak lolos grup pada edisi 2007, tetapi pada 2021 Indonesia juga pernah bersuka cita lolos ke babak berikutnya usai membantai Malaysia.
Tinggal kini John Herdman dan para pemain menatap pertandingan ini seperti apa. Kalau persepsinya cuma piala kecil, api yang berkobar akan redup. Kalau begitu, tidak ada yang bisa diharapkan.
Dan, pada akhirnya, ini tentang perjuangan. Seberapa besar yang bisa dikorbankan untuk mencapai tujuan. Memperjuangkan idealisme sepak bola: menjadi pemenang.
"Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata membela cita-cita." Begitu petuah Bung Hatta, founding fathers atau bapak pendiri bangsa Indonesia.
(abs/abs)