ANALISIS

Lama Hibernasi, Reinkarnasi Liga Putri Indonesia Mau Dibawa ke Mana?

Askar Fatih Robbani | CNN Indonesia
Rabu, 12 Agu 2026 09:02 WIB
Pertandingan sepak bola putri babak penyisihan grup MilkLife Soccer Challenge All-Stars di Stadion Supersoccer Arena Kudus. Jawa Tengah, Jumat, 24 Januari 2025. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Sepak bola putri usia dini sudah mulai dihidupkan pihak swasta di luar PSSI. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Pertanyaannya , apakah modal awal yang disiapkan ini cukup untuk membawa sepak bola putri Indonesia bisa bicara hingga pentas Asia Asia?

CEO IWL Teddy Tjahjono sangat berkeyakinan juara Liga Putri Indonesia kelak bisa berlaga dalam Liga Champions Asia, mengikuti jejak klub-klub dari negara tetangga.

Beberapa negara di kawasan Asia Tenggara, seperti Timor Leste, Malaysia, Singapura, hingga Kamboja, sudah lebih dulu mengirimkan wakilnya ke kompetisi antarklub level Asia. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami berusaha maksimal karena pada akhirnya setiap juara kami ingin berkompetisi di level AFC," kata Teddy sambil menyebut wakil Indonesia baru bisa hadir setelah selesainya musim pertama.

Ketimbang buru-buru mengejar target besar tanpa fondasi, penyelenggara memilih menuntaskan dulu musim perdana sebagai pijakan sebelum bicara ekspansi ke level regional.

Aspek keterjangkauan penonton pun jadi perhatian. Teddy menyebut tiket pertandingan berpeluang digratiskan, atau setidaknya dijual jauh lebih murah dibanding harga tiket Super League.

Di balik optimisme itu, penyelenggara juga menyiapkan dana subsidi khusus bagi klub. Langkah ini penting mengingat sepak bola putri domestik belum mapan secara komersial.

Meski begitu, cakupan liga yang baru diikuti enam klub asal Jabodetabek juga jadi catatan tersendiri. Penyelenggara mengaku membuka peluang bagi klub dari daerah lain bergabung.

Pendekatan bertahap ini terasa lebih realistis ketimbang memaksakan skala nasional sejak musim pertama. Kegagalan liga putri terdahulu bisa jadi pelajaran agar tidak terulang.

Sistem grading 250 pemain dan kewajiban minimal satu pemain timnas per klub pun memperlihatkan niat membangun ekosistem. Kombinasi ini membedakan IWL 2026/2027 dari era sebelumnya.

Bila konsistensi ini terus dijaga hingga akhir musim, bukan tidak mungkin Liga Putri Indonesia benar-benar menjelma jadi fondasi jangka panjang yang lebih baik dan berprestasi.

Lantas, apakah PSSI dan I.League mampu menjaga komitmen ini hingga peluit panjang musim perdana berbunyi akhir Januari nanti, atau sejarah kelam hibernasi kembali terjadi? 

[Gambas:Video CNN]

(abs/sry)

HALAMAN:
1 2