Suporter Prancis Sebut Infantino Pembunuh Sepak Bola dan Mafia FIFA

CNN Indonesia
Kamis, 13 Agu 2026 22:15 WIB
FIFA president Gianni Infantino reacts during the 2026 World Cup Group D football match between USA and Paraguay at the Los Angeles Stadium in Inglewood on June 12, 2026. (Photo by Frederic J. BROWN / AFP)
Gianni Infantino dicap sebagai pembunuh sepak bola dan mafia FIFA oleh suporter Prancis. (AFP/Frederic J. Brown)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden FIFA Gianni Infantino mendapat kritik dari kelompok suporter Prancis, Bad Gones, sebagai pembunuh sepak bola dan Mafia FIFA.

Kritik ultras tersebut disampaikan melalui spanduk yang dibentangkan Bad Gones dalam pertandingan Kualifikasi Liga Champions antara Lyons versus Sparta Praha di Stadion Groupama, Selasa (11/8).

Dua spanduk dibentangkan Bad Gones bertuliskan 'Infantino Assasino' dan 'FIFA Mafia'. Ini menjadi aksi pertama suporter yang menentang Infantino setelah bersitegang dengan UEFA. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini Infantino memang sedang dalam tekanan besar. Ia mendapat perlawanan dari UEFA, UFC, dan CONCACAF setelah merilis proposal penjualan sebagian saham Piala Dunia.

Aksi infantino yang hendak menjual hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta mendapat penolakan dari banyak pihak. Infantino lantas menarik proposal tersebut.

Rencana Infantino itu dikenal sebagai FIFA Forward Enterprise (FFE). Proposal tersebut mendapat kritik karena dinilai dibuat tanpa konsultasi yang cukup dengan anggota FIFA. 

Infantino kini mendapat tekanan besar sebagai Presiden FIFA. Pemimpin UEFA, AFC, dan CONCACAF bahkan disebut tengah membahas kemungkinan membentuk kompetisi tandingan Piala Dunia. 

Sebelumnya Infantino diperkirakan terpilih tanpa lawan dalam pemilihan presiden FIFA pada Maret 2027. Namun, situasi berubah setelah sejumlah pihak mulai menarik dukungan.

Hingga kini belum ada kandidat yang secara resmi maju menantang Infantino. Berdasarkan laporan The Telegraph, 73 negara disebut masih mendukung Infantino, sementara 124 negara menentang.

[Gambas:Video CNN]

(nam/abs/sry)