Nova Widianto Mulai dari Nol Lagi Benahi Ganda Campuran

CNN Indonesia
Kamis, 10 Sep 2026 16:20 WIB
Nova Widianto mengatakan ingin mengembalikan kepercayaan diri ganda campuran Indonesia.
Nova Widianto mengatakan ingin mengembalikan kepercayaan diri ganda campuran Indonesia. (Dok. PBSI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pelatih ganda campuran Indonesia, Nova Widianto berusaha memperbaiki dari nol lagi sektor binaannya setelah kembali menangani Pelatnas PBSI.

Nova Widianto kembali ditunjuk mengepalai sektor ganda campuran usai melatih timnas Malaysia pada 2022-2026. Per Agustus 2026, juru taktik 48 tahun itu pulang ke Tanah Air demi membangun bulu tangkis Merah Putih.

"Mungkin untuk awal saya ingin buka pola pikir atlet saja. Baru kemudian mengubah cara main mereka dan konsistensinya. Paling penting adalah mengembalikan kepercayaan diri mereka dulu. Ya, kami mulai dari nol lagi," kata Nova di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta, Kamis (10/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nova bertekad mengembalikan kejayaan ganda campuran Indonesia di tengah sulitnya menyabet gelar juara pada ajang bergengsi. Perlahan-lahan Nova menghadirkan gebrakan dengan merombak total sektor ini.

Teranyar PBSI mengumumkan tiga pasangan baru di ganda campuran. Mereka adalah Dejan Ferdinansyah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, Bagas Maulana/Apriyani Rahayu, dan M. Nawaf Khoiriyansyah/Indah Cahya Sari Jamil.

Sebelumnya PBSI juga berkreasi dengan memasangkan Nikolaus Joaquin dengan Siti Fadia Silva Ramadhanti untuk Asian Games 2026.

Pasangan Dejan/Apriyani menunjukkan hasil positif dengan menjuarai Pontianak International Challenge 2026 pada awal September. Pencapaian lain juga dipersembahkan oleh Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah dengan torehan perunggu di Kejuaraan Dunia BWF 2026.

"Ganda campuran Indonesia sempat bagus, tapi kami harus kembalikan kepercayaan diri mereka dan beri tahu bahwa mereka itu mampu," ujar Nova.

Lebih lanjut, Nova ingin perubahan di ganda campuran Indonesia sekaligus memupuk atlet untuk Olimpiade 2028 Los Angeles. Waktu dua tahun dianggap cukup untuk melangkah dari garis start menuju pesta olahraga dunia.

"Kami harus pikirkan Road to Olympic karena kalau terlambat dalam mencari pasangan, tidak bisa bersaing di level atas," ucapnya.

"Di awal memang kami berangkat dari International Challenge dulu, nanti kalau lebih bagus untuk perhitungan poin baru [naik] ke Super 750 atau bahkan 1000. Selain yang sudah ada Amri/Nita, kami lihat juga Dejan/Felisha paling tidak dan yang lain masih dilihat perkembangannya," ia menegaskan.

[Gambas:Video CNN]

(kw/nva)