Antonius Budi: Melatih dengan Melihat Kekurangan Atlet
Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Jumat, 09 Okt 2026 15:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Antonius Budi Ariantho punya peran penting di balik keberhasilan emas Indonesia di beregu putra dan ganda putra. (Arsip PBSI)
Jakarta, CNN Indonesia --
Indonesia merebut medali emas di nomor ganda putra dan beregu putra Asian Games 2026. Bagaimana pandangan pelatih ganda putra Antonius Budi Ariantho terkait hal tersebut? Simak wawancara CNN Indonesia dengan Antonius.
Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin berhasil meraih emas Asian Games 2026 sedangkan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri merebut medali perunggu. Selain itu, Tim Beregu Putra juga berhasil merebut emas di nomor beregu.
Bagaimana Antonius sebagai pelatih ganda putra melihat hal tersebut? Berikut wawancara CNN Indonesia dengan Antonius:
Apa yang terjadi di akhir pertandingan? Saya lihat anda tidak langsung berlari masuk ke lapangan untuk merayakan kemenangan. Apa karena masih tegang sehabis laga final?
Kemarin kan saya duduk dan di sebelahnya ada Eng Hian, Binpres PBSI. Jadi pasti saat kemenangan itu, saya merayakan dulu bareng dia, masa mau langsung saya tinggal? Hahaha...
Pastinya saya sangat senang, bangga sekali dengan hasil kemenangan yang dicapai Leo/Daniel.
Di laga final mendekati akhir pertandingan, Leo/Daniel sudah unggul 18-13 tetapi tiba-tiba dikejar jadi 17-18 dan kemudian berlanjut ke 18-19. Apa yang anda instruksikan di saat momen genting itu?
Yang pasti saya hanya bisa mengingatkan Leo/Daniel untuk lebih berani mengambil keputusan. Jangan ragu-ragu, baik itu saat menyerang atau saat melakukan pukulan drive, itu jangan ragu-ragu.
Saya ingatkan,'Coba lebih berani, fokusnya ditambah. 1-2 pukulan dijaga, jangan sampai lepas'.
Itu saja yang terus saya ingatkan. Karena sebenarnya saya syok juga, dari selisih lima poin dikejar sampai 17-18 dan 18-19.
Berarti saat itu apakah anda melihat Leo/Daniel tegang?
Pasti, pasti. Ganda China itu mengubah pola. Wang Chang itu mempercepat tempo di depan. Di situ, Leo/Daniel kalah cepat.
Lawan sudah nekat, karena kondisinya mau tak mau, dengan tertinggal lima poin, mainnya sudah spekulasi. Dia pilih main cepat terus, begitu. Ternyata pilihannya tepat, sampai dia dapat penambahan poin hingga 17-18.
Leo/Daniel merebut medali emas Asian Games 2026. (REUTERS/Eloisa Lopez)
Saat Daniel gagal mukul shuttlecock dan kedudukan jadi 19-18, masih untuk keunggulan Indonesia. Apakah anda makin pusing?
Itu terlalu cepat. Dia mungkin terlalu cepat lompat, saat mau smes, bolanya baru datang saat dia posisi sudah turun. Jadi tidak pas.
Pastilah makin pusing hahaha. Duduk di belakang, lebih dekat dengan lapangan pasti rasa tegangnya lebih terasa.
Tapi kembali lagi, saat pertandingan itu yang terpenting adalah bisa tidak atlet mengatasi kesulitan di lapangan saat dikejar, saat musuhnya ganti pola main. Semua kembali ke atletnya. Sebagai pelatih, saya cuma bisa mengingatkan.
Saat pertandingan beregu, Leo/Daniel sempat kalah dalam laga lawan Malaysia. Apa yang diperbaiki dari kekalahan itu?
Sebetulnya saat itu Leo/Daniel main baik, tidak jelek-jelek banget. Cuma sayang, di poin-poin kritis itu sedikit kehilangan fokus. Gim kedua dan ketiga, fokus mereka hilang, kurang agresif di depan. Musuhnya [Aaron Chia/Tee Kai Wun] juga tidak jelek. Secara individu mereka bagus.
Saat final beregu, Leo/Daniel main dalam kondisi Indonesia tertinggal 1-2. Apa yang anda lihat dari kondisi Leo/Daniel saat itu, gugup atau percaya diri?
Sebelum main kan kami juga sudah mengantisipasi. Tunggal pertama, Jonatan menang atau kalah lawan Shi Yuqi. Lalu ganda pertama Fajar/Fikri lawan Liang Weikeng/Wang Chang, itu fifty-fifty. Alwi Farhan lawan Li Shifeng, itu fifty-fifty juga.
Nah, yang ganda kedua, mereka mainkan pasangan baru. Saya memang berharap Leo/Daniel bisa ambil poin.
Tetapi di gim pertama, sempat ketinggalan 17-20? Apa yang disampaikan hingga akhirnya mereka menang?
Kembali lagi, kalau ada waktu sedikit, saya mengingatkan saja. Lawan lemahnya di mana. Contohnya Liu Yi. Dia kalau ditekan, sukanya mengembalikan dengan bola panjang. Jadi saya minta menjaga di situ [bersiap menyambut bola panjang]. Cuma itu saja karena kalau saya ngomong banyak, waktunya gak keburu kan? Hahahaha...
Setelah Indonesia memenangkan emas beregu, seberapa besar pengaruhnya terhadap kepercayaan diri Fajar/Fikri dan Leo/Daniel jelang tampil di nomor perorangan?
Pasti sangat besar sekali pengaruhnya. Di beregu, mereka bermain maksimal, mainnya bagus. Fajar/Fikri dan Leo/Daniel mainnya sangat bagus. Jadi mereka sangat yakin saat turun di perorangan.
Banyak yang bilang Leo/Daniel diuntungkan oleh drawing karena Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty ka;ah di babak awal. Bagaimana anda melihat pandangan tersebut?
Kalau saya sih mikirnya begini, kalau Rankireddy/Shetty kalah sama ganda Thailand, Peeratchai Sukphun/Pakkapon Teeraratsakul, berarti saat itu ganda Thailand nya lebih bagus dari ganda India dong?
Saat lawan Leo/Daniel juga ramai tapi Leo/Daniel bisa mengatasi. Saya rasa sih semua lawan yang ada sama-sama berat. Tinggal pemain jangan menganggap enteng atau main santai, meremehkan. Karena siapa pun lawan yang ada, mereka punya potensi mengalahkan pemain Indonesia.
Berarti saat melawan ganda Vietnam, Nguyen Dinh Hoang/Tran Dinh Manh, Leo/Daniel juga sama sekali tidak meremehkan?
Iya, mereka sama sekali tidak meremehkan. Cuma ya Asian Games itu uniknya adalah seeded-nya cuma 1 sampai 4. Berarti peringkat 5-8 diacak. Itu kan semua hoki-hokian.
Artinya drawing-nya memang harus diterima oleh pemain yang tidak masuk unggulan seperti Leo/Daniel. Bisa saja dapat pool yang berat, langsung ketemu pemain unggulan karena mereka tidak masuk daftar unggulan.
Podium ganda putra di Asian Games 2026. (REUTERS/Eloisa Lopez)
Lalu apa rahasianya Leo/Daniel bisa menang dengan skor meyakinkan atas Kim Won Ho/Seo Seung Jae di semifinal?
Saya juga tidak menyayangkan bisa menang dengan selisih skor yang jauh. Saat Leo/Daniel lawan Kim/Seo, mereka main rapi sekali, bagus banget. Permainan depannya, defense-nya, itu fokus banget.
Tidak ada celah untuk kesalahan sendiri, sangat minim sekali.
Itu penampilan terbaik Leo/Daniel sepanjang Asian Games?
Iya, itu bagus banget. Bukan Kim/Seo-nya yang jelek, tetapi Leo/Danielnya yang bisa tampil lebih bagus. Padahal tidak gampang mengalahkan Kim/Seo dengan selisih skor yang begitu jauh.
Apakah sebenarnya Leo/Daniel ini memang ditargetkan meraih medali emas di Asian Games?
Saya berharap Leo/Daniel menyumbang medali. Kalau soal emas, saya memang bilang saya tidak mau kasih target anak-anak sehingga mereka jadi terbebani.
Maksudnya, saya minta mereka bermain semaksimal mungkin, fokus tiap turnamen. Begitu saja menurut saya.
Kapan Leo/Daniel mulai diputuskan masuk skuad Asian Games?
Kurang lebih satu bulan sebelum pelaksanaan Asian Games.
Apa yang mendasari anda memilih Leo/Daniel padahal ada sejumlah ganda lain yang punya peringkat lebih baik dibanding mereka?
Berdasarkan penilaian, penampilan terakhir main di pertandingan. Leo/Daniel sempat juara di Taiwan. Di situ penampilan mereka bagus. Sedangkan Raymond/Joaquin agak menurun di tiga turnamen setelah Indonesia Open.
Juga terkait kebutuhan tim. Karena awalnya kami main beregu lebih dulu. Itu saya juga memikirkan target Indonesia di beregu, yaitu emas.
Kami berharap kepentingan tim yang utama. jadi kayak Daniel dimasukkan itu karena dia bisa fleksibel pasangan sama siapa saja.
Banyak kriteria dan pertimbangan yang saya lakukan sampai akhirnya memilih Leo/Daniel ke Asian Games.
Apa yang jadi pertimbangan anda mengembalikan Leo/Daniel jadi pasangan di tahun ini?
Saya melihatnya ada potensi yang baik. Mereka kan sebenarnya sudah lama berpasangan, hanya saja saat saya masuk jadi pelatih di PBSI, mereka sudah dipisahkan.
Dengan berjalannya waktu, banyak pertimbangan, akhirnya saya pasangkan kembali mereka. Tinggal kemudian saya membantu mengisi kekurangan teknik secara individu, juga non teknis dari segi komunikasi, saya coba perbaiki.
Mereka itu di klub sudah berpasangan jadi chemistry-nya itu sebenarnya sudah ada.
Apa ada unsur subjektif yang begitu besar di balik pemilihan Leo/Daniel kembali berpasangan karena anda juga yang memegang mereka saat masih jadi pemain junior di PB Djarum?
Waktu mereka junior, kan saya yang melatih. Lalu di Pelatnas masih pasangan awalnya dan kemudian akhirnya dipisah.
Di PB Djarum, saya pasangkan karena memang saya lihat potensi mereka dari segi individu, mereka adalah yang terbaik di PB Djarum, otomatis saya pasangkan.
Lalu saya bicara ke mereka, kan Leo/Daniel saat ini juga sudah dewasa. Saya bicarakan secara pribadi. Saya tanya ke mereka: 'Kenapa dipisah?'
Saya dalami, akhirnya kekurangan-kekurangan yang ada, saya komunikasikan ke mereka berdua. Saya coba benahi.
"Kita saling terbuka, kita sudah dewasa. Kekurangan yang ada, ayo benahi. Apa kekurangan yang terlihat, itu kita komunikasikan supaya tidak ada miskomunikasi."
Itu yang saya katakan pada mereka.
Jadi saat Leo/Daniel dipisah, itu murni pertimbangan teknis atau ada aspek non teknis?
Saya waktu itu kan belum di Cipayung. Tapi mungkin juga karena ada penurunan prestasi, terus dipisah, dicoba lagi supaya bisa mendapatkan hasil terbaik. Tapi setahu saya, saat saya datang, mata Daniel itu bermasalah.
Nah makanya saya paksa dia untuk periksa matanya, terlepas saat itu dia masih cedera. Jadi sekalian saja saya paksa dia untuk berobat. Akhirnya dia bisa main dan matanya juga sudah tidak bermasalah.
Leo/Daniel kembali berpasangan di tahun 2026. (REUTERS/Eloisa Lopez)
Sebenarnya bagaimana kondisi mata Daniel?
Ada silinder dan minus. Silindernya juga sudah besar. Makanya harus pakai softlens. Daniel itu waktu dulu main tidak mau pakai softlens. Saya tidak mau hal itu berlanjut, jadi saya paksa.
Saya bilang: "Kamu tidak bisa main untung-untungan."
Ada bola yang posisinya cepat, posisi tertentu, itu Daniel hanya mengandalkan feeling saja. Saya pikir pemain profesional kelas dunia sampai seperti itu berarti ada risiko bsar saat main.
Berarti mata Daniel sempat mendapatkan penanganan juga atau hanya memakai softlens saja?
Ada pengobatannya juga, terus harus pakai softlens. Setelah itu memaksa Daniel untuk belajar sabar pakai softlens, untuk dibiasakan. Dulu kan dia tidak mau dan itu jelas jadi masalah.
Makanya saat dia cedera kemarin, saya minta sekalian untuk menyembuhkan matanya.
Bagaimana penampilan Fajar/Fikri di Asian Games kemarin?
Bagus, mereka mainnya bagus. Cuma memang ada sedikit penurunan saat main di perorangan karena kondisi tubuh mereka. Sebelum berangkat, Fajar sempat kena virus, jadi lima hari tidak latihan. Tapi dengan waktu yang mepet kami maksimalkan agar dia bisa mengembalikan kondisi.
Tentu ada pengaruhnya hal itu tetapi secara keseluruhan, saya rasa penampilan mereka cukup baik. Cuma agak turun powernya saat main di semifinal lawan Liang Weikeng/Wang Chang. Kan memang bolanya agak berat, jadi mereka kehabisan power di situ.
Liang/Wang tidak mau main adu drive dan adu cepat di depan. Mereka mainnya buka terus, lalu defense.
Berarti saat Fajar/Fikri kalah di gim ketiga, mereka memang sudah kehabisan tenaga karena main dari beregu lalu lanjut perorangan secara beruntun dari hari ke hari?
Iya. Karena kan dari beregu langsung main perorangan. Tidak ada istirahat, langsung main.
Fajar/Fikri merebut medali perunggu di nomor perorangan dan meraih emas di nomor beregu putra. (REUTERS/Eloisa Lopez)
Apakah Fajar/Fikri itu duet yang tercipta secara kebetulan atau memang ada rencana dari anda? Karena saat itu mereka main karena Rian sedang ada urusan keluarga dan Daniel sedang cedera.
Jujur, itu sebetulnya jalan Tuhan. Itu sudah jalannya, bukan kebetulan, jalannya memang ke situ. Memang pada saat itu Rian seperti kamu bilang ada urusan keuarga. Terus Daniel ada masalah cedera. Itu mau tidak mau dicoba supaya si Fikri tidak kehilangan suasana bertanding.
Karena Daniel kan agak lama istirahatnya. Kalau menunggu Daniel terus kan suasana bertanding, touch-nya Fikri hilang nanti.
Sementara kami coba di Jepang dan China, hasilnya baik. Ya, kami teruskan, coba. Mau tidak mau kan di PBSI targetnya juara, harus cari yang terbaik. Persaingannya seperti itu, secara individu atlet pun seperti itu, harus siap semua. Siapa tahu diganti atau cari pasangan yang terbaik, kan harus siap.
Berarti kalau saat itu Fajar juga tidak kosong, Fikri juga akan tetap dicarikan pasangan di periode akhir 2025?
Pasti, tidak mungkin saya biarkan menganggur. Karena masa mau menunggu Daniel selama setahun, nanti touch-nya hilang, suasana bertanding, feel-nya hilang. Makanya saya cari pasangan yang lain.
Tapi bila nanti Daniel kembali pulih, ya kami lihat, pasti bisa dicoba lagi sama Daniel. Tapi akhirnya kan memang jalannya Fikri sama si Fajar.
Anda membicarakan kesiapan dan fleksibilitas tukar pasangan. Apakah pasangan papan atas di Pelatnas Cipayung saat ini masih ada kemungkinan bongkar-pasang atau saat ini sudah tetap karena Race to Olympic sudah dekat?
Menurut saya, kalau sudah hampir sampai Race to Olympic, pasti saya tidak berani tukarf-tukar lagi karena waktunya tidak keburu. Kalau menurut saya, saya meyakini pasangan Fajar/Fikri, Leo/Daniel, terus Raymond/Joaquin [Raymond Indra/Nikolaus Joaquin], dan Ali/Devin [Ali Faathir Rayhan/Devin Artha Wahyudi] harus kami pertahankan. Dengan hasil-hasil seperti ini, masa kami mau bongkar pasangan lagi?
Di tahun depan, ada perubahan sistem poin jadi 15. Sejauh mana hal itu bakal mempengaruhi persaingan?
Pasti ada perubahan ya. Semakin poinnya sedikit, apalagi dengan sistem rally point, berarti pemain harus mengurangi kesalahan sendiri. Ini yang harus disiasati.
Contoh kayak servis, itu kan penting sekali. Servis, terima servis, tidak boleh melakukan kesalahan sendiri. Ini yang perlu kami perhatikan, kami latih di area itu.
Tim pelatih harus mempersiapkan formula menghadapi sistem poin 3x15 di awal tahun 2027. (Arsip PBSI)
Dari segi beban mental berarti otomatis bakal lebih berat?
Mental pasti, akan mendorong pemain harus lebih berani lagi menghadapi poin-poin yang semakin cepat.
Jadi kalau pemain salah saja sedikit, atau kalau pemain tidak bisa menebak arah bola, gampang mati, error sendiri, semakin rugi. Karena semakin tertinggal poinnya, semakin terbebani. Kalau selisihnya lima poin bagaimana? Misal 0-5 di awal, tiba-tiba semakin panik pastinya.
Apakah berarti berpengaruh juga pada segi fisik yang tidak akan selelah sekarang saat masih sistem 21 poin?
Daya tahan saya rasa tetap perlu, tetapi yang lebih penting diasah itu kekuatannya, power-endurance, reaksinya. Itu yang penting. Karena dengan sistem poin 15, memerlukan kecepatan, daya serang.
Anda memegang nomor ganda putra yang merupakan salah satu nomor yang disebut tidak pernah kekurangan bakat di Indonesia. Bagaimana perasaaan anda dan seberapa besar bebannya?
Beban pasti ada. Apalagi sektor ganda putra dari dulu kan sangat baik prestasinya. Memang saat saya masuk, dengan materi yang ada, saya berusaha untuk berusaha berprestasi, lebih baik lagi dari sebelumnya, fokus saya ke situ.
Karena memang sektor ganda putra itu dari zaman saya main, zaman senior saya main, itu prestasinya bagus, regenerasinya bagus. Kami harus berusaha mempertahankan, kalau bisa lebih baik lagi.
Tetapi waktu anda datang, keadaan di ganda putra Indonesia tak begitu baik. Ahsan/Hendra dan Kevin/Marcus sudah pensiun, pemain-pemain di bawahnya pun mungkin sedang merasa stagnan dan jenuh dari segi prestasi karena gagal lolos atau gagal berprestasi di Olimpiade 2024. Bagaimana melihat hal itu?
Itu memang kondisi saya ketika saya datang, saya dikasih materi yang ada. Ditinggal pemain-pemain senior seperti Ahsan/Hendra, Kevin dan Sinyo [Marcus]. Itu setengah mati itu.
Itu kan dulunya mereka panutan banget. Paling senior hanya ada Fajar/Rian, itu satu saja. Bagaimana caranya saya bisa mempertahankan prestasi sektor ganda putra atau menjadikan lebih baik lagi? Itu tantangan saya di situ terbilang luar biasa.
Kalau kamu tadi bilang itu berat, saya sudah terima tugas dan keadaan yang seperti iini, jadi saya hadapi. Pelan-pelan saya mencoba total untuk berusaha paling tidak ganda Indonesia bisa bersaing di level atas dunia.
Saat Antonius datang, Fajar/Rian jadi ganda putra paling senior di Pelatnas Cipayung. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Lalu soal kejenuhan prestasi di nomor ganda saat anda datang karena prestasi sedang stagnan. Bagaimana situasi yang anda rasakan di awal?
Ada perbedaan pelatih, pasti gaya melatihnya berbeda. Saya, Aryono, atau Herry IP, itu kan pasti beda gaya kepelatihannya.
Mereka sudah lama tuh sama Aryono, pernah juga sama Herry IP. Di situ yang awal-awal sangat berat buat saya.
Maksudnya mengubah kebiasaan yang sudah berjalan lama dalam pola latihan keseharian?
Iya dong. Walaupun kurang lebih sama ya kayak stroke, drilling, pola main. Tapi dengan gaya saya, dengan cara saya, tujuan saya untuk menaikkan standarnya pemain, kan beda-beda. Gayanya beda, caranya beda. Itu yang buat saya selama 1-3 bulan awal jadi tantangan bagi saya saat itu.
Dari pendapat sejumlah orang yang beredar, ganda Indonesia kini disebut punya defense yang lebih solid. Apakah anda memang memberi perhatian lebih pada penguatan defense sehingga ganda Indonesia tidak hanya terkenal karena serangannya saja?
Ya itu tadi, makanya saya bilang gayanya beda. Saya selalu melihatnya dari kekurangan atlet. Oh, atlet ini kurangnya di defense. Oh dia lebihnya di sini. Jadi porsinya saya bedakan. Secara individu, tergantung kebutuhan masing-masing atlet.
Kayak Fikri, Fajar, Leo, Daniel, dan lain-lain kan punya kelemahan dan kelebihan yang berbeda. Di situ porsi yang saya tingkatkan. Jadi misal saya merasa pemain defensenya kurang nih, mungkin bisa hampir tiap hari saya latih pola defense.
Waktu tawaran jadi pelatih ganda putra Pelatnas Cipayung ini datang, apakah anda langsung mengiyakan?
Saya ditawari Pak Waketum [Taufik Hidayat], istilahnya disuruh bantu di dalam PBSI. Terus saya merasa saya kan juga dibesarkan di PBSI. Saya rasa tidak ada salahnya saya membantu, mencoba di Pelatnas Cipayung. Tetapi kan pada saat itu saya belum tahu mau ditaruh di mana.
Berarti tidak langsung dibilang posisi pelatih ganda putra secara detail?
Enggak, tidak tahu saya. Tidak tahu ditaruh di mana. Tetapi ya masa saya ditaruh di tunggal putra? Kan gak mungkin, ya? Hahahaha
Jadi langsung mengiyakan tawaran tersebut?
Saya tidak langsung, saya bilang kasih saya waktu untuk berpikir. Karena saya butuh konsultasi dengan keluarga, sama klub PB Djarum, pimpinan klub. Saya juga harus izin, pamitan, diskusi juga sama keluarga.
Antonius menilai sukses di Asian Games berpengaruh besar terhadap sektor ganda putra. (Arsip PBSI)
Apakah anda sebelumnya pernah jadi pelatih di Pelatnas Cipayung?
Saya belum pernah. Setelah Thomas Cup tahun 2000, saya resign. Lalu saya kembali ke klub PB Djarum. Di sana saya melatih pemain-pemain junior kayak Ribka [Sugiarto], Ana [Febriana Dwipuji Kusuma], Masita [Mahmudin], terus Leo/Daniel, banyaklah. Anak didik saya semua itu.
Apa target terbesar anda sebagai pelatih ganda putra?
Pastinya saya ingin memastikan atlet saya bisa main di Olimpiade 2028 mendatang di Los Angeles. Saya berharap kalau sudah masuk Olimpiade, pasti targetnya juara, dapat medali. Target terbesar ya itu.
Seberapa besar pengaruh prestasi di Asian Games terhadap keyakinan anda dan tim ganda putra untuk menatap Olimpiade 2028?
Momen Asian Games ini sangat positif bagi atlet, agar supaya bisa dijaga. Prestasi di Asian Games bisa menambah motivasi, agar saya juga semakin banyak belajar lagi, semakin fokus lagi, dan saya juga lebih meningkatkan kualitas saya sebagai pelatih.
Indonesia merebut medali emas di nomor ganda putra dan beregu putra Asian Games 2026. Bagaimana pandangan pelatih ganda putra Antonius Budi Ariantho terkait hal tersebut? Simak wawancara CNN Indonesia dengan Antonius.
Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin berhasil meraih emas Asian Games 2026 sedangkan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri merebut medali perunggu. Selain itu, Tim Beregu Putra juga berhasil merebut emas di nomor beregu.
Bagaimana Antonius sebagai pelatih ganda putra melihat hal tersebut? Berikut wawancara CNN Indonesia dengan Antonius:
Apa yang terjadi di akhir pertandingan? Saya lihat anda tidak langsung berlari masuk ke lapangan untuk merayakan kemenangan. Apa karena masih tegang sehabis laga final?
Kemarin kan saya duduk dan di sebelahnya ada Eng Hian, Binpres PBSI. Jadi pasti saat kemenangan itu, saya merayakan dulu bareng dia, masa mau langsung saya tinggal? Hahaha...
Pastinya saya sangat senang, bangga sekali dengan hasil kemenangan yang dicapai Leo/Daniel.
Di laga final mendekati akhir pertandingan, Leo/Daniel sudah unggul 18-13 tetapi tiba-tiba dikejar jadi 17-18 dan kemudian berlanjut ke 18-19. Apa yang anda instruksikan di saat momen genting itu?
Yang pasti saya hanya bisa mengingatkan Leo/Daniel untuk lebih berani mengambil keputusan. Jangan ragu-ragu, baik itu saat menyerang atau saat melakukan pukulan drive, itu jangan ragu-ragu.
Saya ingatkan,'Coba lebih berani, fokusnya ditambah. 1-2 pukulan dijaga, jangan sampai lepas'.
Itu saja yang terus saya ingatkan. Karena sebenarnya saya syok juga, dari selisih lima poin dikejar sampai 17-18 dan 18-19.
Berarti saat itu apakah anda melihat Leo/Daniel tegang?
Pasti, pasti. Ganda China itu mengubah pola. Wang Chang itu mempercepat tempo di depan. Di situ, Leo/Daniel kalah cepat.
Lawan sudah nekat, karena kondisinya mau tak mau, dengan tertinggal lima poin, mainnya sudah spekulasi. Dia pilih main cepat terus, begitu. Ternyata pilihannya tepat, sampai dia dapat penambahan poin hingga 17-18.
Leo/Daniel merebut medali emas Asian Games 2026. (REUTERS/Eloisa Lopez)
Saat Daniel gagal mukul shuttlecock dan kedudukan jadi 19-18, masih untuk keunggulan Indonesia. Apakah anda makin pusing?
Itu terlalu cepat. Dia mungkin terlalu cepat lompat, saat mau smes, bolanya baru datang saat dia posisi sudah turun. Jadi tidak pas.
Pastilah makin pusing hahaha. Duduk di belakang, lebih dekat dengan lapangan pasti rasa tegangnya lebih terasa.
Tapi kembali lagi, saat pertandingan itu yang terpenting adalah bisa tidak atlet mengatasi kesulitan di lapangan saat dikejar, saat musuhnya ganti pola main. Semua kembali ke atletnya. Sebagai pelatih, saya cuma bisa mengingatkan.
Saat pertandingan beregu, Leo/Daniel sempat kalah dalam laga lawan Malaysia. Apa yang diperbaiki dari kekalahan itu?
Sebetulnya saat itu Leo/Daniel main baik, tidak jelek-jelek banget. Cuma sayang, di poin-poin kritis itu sedikit kehilangan fokus. Gim kedua dan ketiga, fokus mereka hilang, kurang agresif di depan. Musuhnya [Aaron Chia/Tee Kai Wun] juga tidak jelek. Secara individu mereka bagus.
Saat final beregu, Leo/Daniel main dalam kondisi Indonesia tertinggal 1-2. Apa yang anda lihat dari kondisi Leo/Daniel saat itu, gugup atau percaya diri?
Sebelum main kan kami juga sudah mengantisipasi. Tunggal pertama, Jonatan menang atau kalah lawan Shi Yuqi. Lalu ganda pertama Fajar/Fikri lawan Liang Weikeng/Wang Chang, itu fifty-fifty. Alwi Farhan lawan Li Shifeng, itu fifty-fifty juga.
Nah, yang ganda kedua, mereka mainkan pasangan baru. Saya memang berharap Leo/Daniel bisa ambil poin.
Tetapi di gim pertama, sempat ketinggalan 17-20? Apa yang disampaikan hingga akhirnya mereka menang?
Kembali lagi, kalau ada waktu sedikit, saya mengingatkan saja. Lawan lemahnya di mana. Contohnya Liu Yi. Dia kalau ditekan, sukanya mengembalikan dengan bola panjang. Jadi saya minta menjaga di situ [bersiap menyambut bola panjang]. Cuma itu saja karena kalau saya ngomong banyak, waktunya gak keburu kan? Hahahaha...
Setelah Indonesia memenangkan emas beregu, seberapa besar pengaruhnya terhadap kepercayaan diri Fajar/Fikri dan Leo/Daniel jelang tampil di nomor perorangan?
Pasti sangat besar sekali pengaruhnya. Di beregu, mereka bermain maksimal, mainnya bagus. Fajar/Fikri dan Leo/Daniel mainnya sangat bagus. Jadi mereka sangat yakin saat turun di perorangan.
Banyak yang bilang Leo/Daniel diuntungkan oleh drawing karena Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty ka;ah di babak awal. Bagaimana anda melihat pandangan tersebut?
Kalau saya sih mikirnya begini, kalau Rankireddy/Shetty kalah sama ganda Thailand, Peeratchai Sukphun/Pakkapon Teeraratsakul, berarti saat itu ganda Thailand nya lebih bagus dari ganda India dong?
Saat lawan Leo/Daniel juga ramai tapi Leo/Daniel bisa mengatasi. Saya rasa sih semua lawan yang ada sama-sama berat. Tinggal pemain jangan menganggap enteng atau main santai, meremehkan. Karena siapa pun lawan yang ada, mereka punya potensi mengalahkan pemain Indonesia.
Berarti saat melawan ganda Vietnam, Nguyen Dinh Hoang/Tran Dinh Manh, Leo/Daniel juga sama sekali tidak meremehkan?
Iya, mereka sama sekali tidak meremehkan. Cuma ya Asian Games itu uniknya adalah seeded-nya cuma 1 sampai 4. Berarti peringkat 5-8 diacak. Itu kan semua hoki-hokian.
Artinya drawing-nya memang harus diterima oleh pemain yang tidak masuk unggulan seperti Leo/Daniel. Bisa saja dapat pool yang berat, langsung ketemu pemain unggulan karena mereka tidak masuk daftar unggulan.
Podium ganda putra di Asian Games 2026. (REUTERS/Eloisa Lopez)
Lalu apa rahasianya Leo/Daniel bisa menang dengan skor meyakinkan atas Kim Won Ho/Seo Seung Jae di semifinal?
Saya juga tidak menyayangkan bisa menang dengan selisih skor yang jauh. Saat Leo/Daniel lawan Kim/Seo, mereka main rapi sekali, bagus banget. Permainan depannya, defense-nya, itu fokus banget.
Tidak ada celah untuk kesalahan sendiri, sangat minim sekali.
Itu penampilan terbaik Leo/Daniel sepanjang Asian Games?
Iya, itu bagus banget. Bukan Kim/Seo-nya yang jelek, tetapi Leo/Danielnya yang bisa tampil lebih bagus. Padahal tidak gampang mengalahkan Kim/Seo dengan selisih skor yang begitu jauh.
Apakah sebenarnya Leo/Daniel ini memang ditargetkan meraih medali emas di Asian Games?
Saya berharap Leo/Daniel menyumbang medali. Kalau soal emas, saya memang bilang saya tidak mau kasih target anak-anak sehingga mereka jadi terbebani.
Maksudnya, saya minta mereka bermain semaksimal mungkin, fokus tiap turnamen. Begitu saja menurut saya.
Kapan Leo/Daniel mulai diputuskan masuk skuad Asian Games?
Kurang lebih satu bulan sebelum pelaksanaan Asian Games.
Apa yang mendasari anda memilih Leo/Daniel padahal ada sejumlah ganda lain yang punya peringkat lebih baik dibanding mereka?
Berdasarkan penilaian, penampilan terakhir main di pertandingan. Leo/Daniel sempat juara di Taiwan. Di situ penampilan mereka bagus. Sedangkan Raymond/Joaquin agak menurun di tiga turnamen setelah Indonesia Open.
Juga terkait kebutuhan tim. Karena awalnya kami main beregu lebih dulu. Itu saya juga memikirkan target Indonesia di beregu, yaitu emas.
Kami berharap kepentingan tim yang utama. jadi kayak Daniel dimasukkan itu karena dia bisa fleksibel pasangan sama siapa saja.
Banyak kriteria dan pertimbangan yang saya lakukan sampai akhirnya memilih Leo/Daniel ke Asian Games.
Apa yang jadi pertimbangan anda mengembalikan Leo/Daniel jadi pasangan di tahun ini?
Saya melihatnya ada potensi yang baik. Mereka kan sebenarnya sudah lama berpasangan, hanya saja saat saya masuk jadi pelatih di PBSI, mereka sudah dipisahkan.
Dengan berjalannya waktu, banyak pertimbangan, akhirnya saya pasangkan kembali mereka. Tinggal kemudian saya membantu mengisi kekurangan teknik secara individu, juga non teknis dari segi komunikasi, saya coba perbaiki.
Mereka itu di klub sudah berpasangan jadi chemistry-nya itu sebenarnya sudah ada.
Apa ada unsur subjektif yang begitu besar di balik pemilihan Leo/Daniel kembali berpasangan karena anda juga yang memegang mereka saat masih jadi pemain junior di PB Djarum?
Waktu mereka junior, kan saya yang melatih. Lalu di Pelatnas masih pasangan awalnya dan kemudian akhirnya dipisah.
Di PB Djarum, saya pasangkan karena memang saya lihat potensi mereka dari segi individu, mereka adalah yang terbaik di PB Djarum, otomatis saya pasangkan.
Lalu saya bicara ke mereka, kan Leo/Daniel saat ini juga sudah dewasa. Saya bicarakan secara pribadi. Saya tanya ke mereka: 'Kenapa dipisah?'
Saya dalami, akhirnya kekurangan-kekurangan yang ada, saya komunikasikan ke mereka berdua. Saya coba benahi.
"Kita saling terbuka, kita sudah dewasa. Kekurangan yang ada, ayo benahi. Apa kekurangan yang terlihat, itu kita komunikasikan supaya tidak ada miskomunikasi."
Itu yang saya katakan pada mereka.
Jadi saat Leo/Daniel dipisah, itu murni pertimbangan teknis atau ada aspek non teknis?
Saya waktu itu kan belum di Cipayung. Tapi mungkin juga karena ada penurunan prestasi, terus dipisah, dicoba lagi supaya bisa mendapatkan hasil terbaik. Tapi setahu saya, saat saya datang, mata Daniel itu bermasalah.
Nah makanya saya paksa dia untuk periksa matanya, terlepas saat itu dia masih cedera. Jadi sekalian saja saya paksa dia untuk berobat. Akhirnya dia bisa main dan matanya juga sudah tidak bermasalah.
Leo/Daniel kembali berpasangan di tahun 2026. (REUTERS/Eloisa Lopez)
Sebenarnya bagaimana kondisi mata Daniel?
Ada silinder dan minus. Silindernya juga sudah besar. Makanya harus pakai softlens. Daniel itu waktu dulu main tidak mau pakai softlens. Saya tidak mau hal itu berlanjut, jadi saya paksa.
Saya bilang: "Kamu tidak bisa main untung-untungan."
Ada bola yang posisinya cepat, posisi tertentu, itu Daniel hanya mengandalkan feeling saja. Saya pikir pemain profesional kelas dunia sampai seperti itu berarti ada risiko bsar saat main.
Berarti mata Daniel sempat mendapatkan penanganan juga atau hanya memakai softlens saja?
Ada pengobatannya juga, terus harus pakai softlens. Setelah itu memaksa Daniel untuk belajar sabar pakai softlens, untuk dibiasakan. Dulu kan dia tidak mau dan itu jelas jadi masalah.
Makanya saat dia cedera kemarin, saya minta sekalian untuk menyembuhkan matanya.
Fajar/Fikri Tampil Bagus, Sempat Terkendala Sakit di Asian Games
Antonius Budi Ariantho punya tugas berat di nomor ganda putra. (Arsip PBSI)
Bagaimana penampilan Fajar/Fikri di Asian Games kemarin?
Bagus, mereka mainnya bagus. Cuma memang ada sedikit penurunan saat main di perorangan karena kondisi tubuh mereka. Sebelum berangkat, Fajar sempat kena virus, jadi lima hari tidak latihan. Tapi dengan waktu yang mepet kami maksimalkan agar dia bisa mengembalikan kondisi.
Tentu ada pengaruhnya hal itu tetapi secara keseluruhan, saya rasa penampilan mereka cukup baik. Cuma agak turun powernya saat main di semifinal lawan Liang Weikeng/Wang Chang. Kan memang bolanya agak berat, jadi mereka kehabisan power di situ.
Liang/Wang tidak mau main adu drive dan adu cepat di depan. Mereka mainnya buka terus, lalu defense.
Berarti saat Fajar/Fikri kalah di gim ketiga, mereka memang sudah kehabisan tenaga karena main dari beregu lalu lanjut perorangan secara beruntun dari hari ke hari?
Iya. Karena kan dari beregu langsung main perorangan. Tidak ada istirahat, langsung main.
Fajar/Fikri merebut medali perunggu di nomor perorangan dan meraih emas di nomor beregu putra. (REUTERS/Eloisa Lopez)
Apakah Fajar/Fikri itu duet yang tercipta secara kebetulan atau memang ada rencana dari anda? Karena saat itu mereka main karena Rian sedang ada urusan keluarga dan Daniel sedang cedera.
Jujur, itu sebetulnya jalan Tuhan. Itu sudah jalannya, bukan kebetulan, jalannya memang ke situ. Memang pada saat itu Rian seperti kamu bilang ada urusan keuarga. Terus Daniel ada masalah cedera. Itu mau tidak mau dicoba supaya si Fikri tidak kehilangan suasana bertanding.
Karena Daniel kan agak lama istirahatnya. Kalau menunggu Daniel terus kan suasana bertanding, touch-nya Fikri hilang nanti.
Sementara kami coba di Jepang dan China, hasilnya baik. Ya, kami teruskan, coba. Mau tidak mau kan di PBSI targetnya juara, harus cari yang terbaik. Persaingannya seperti itu, secara individu atlet pun seperti itu, harus siap semua. Siapa tahu diganti atau cari pasangan yang terbaik, kan harus siap.
Berarti kalau saat itu Fajar juga tidak kosong, Fikri juga akan tetap dicarikan pasangan di periode akhir 2025?
Pasti, tidak mungkin saya biarkan menganggur. Karena masa mau menunggu Daniel selama setahun, nanti touch-nya hilang, suasana bertanding, feel-nya hilang. Makanya saya cari pasangan yang lain.
Tapi bila nanti Daniel kembali pulih, ya kami lihat, pasti bisa dicoba lagi sama Daniel. Tapi akhirnya kan memang jalannya Fikri sama si Fajar.
Anda membicarakan kesiapan dan fleksibilitas tukar pasangan. Apakah pasangan papan atas di Pelatnas Cipayung saat ini masih ada kemungkinan bongkar-pasang atau saat ini sudah tetap karena Race to Olympic sudah dekat?
Menurut saya, kalau sudah hampir sampai Race to Olympic, pasti saya tidak berani tukarf-tukar lagi karena waktunya tidak keburu. Kalau menurut saya, saya meyakini pasangan Fajar/Fikri, Leo/Daniel, terus Raymond/Joaquin [Raymond Indra/Nikolaus Joaquin], dan Ali/Devin [Ali Faathir Rayhan/Devin Artha Wahyudi] harus kami pertahankan. Dengan hasil-hasil seperti ini, masa kami mau bongkar pasangan lagi?
Di tahun depan, ada perubahan sistem poin jadi 15. Sejauh mana hal itu bakal mempengaruhi persaingan?
Pasti ada perubahan ya. Semakin poinnya sedikit, apalagi dengan sistem rally point, berarti pemain harus mengurangi kesalahan sendiri. Ini yang harus disiasati.
Contoh kayak servis, itu kan penting sekali. Servis, terima servis, tidak boleh melakukan kesalahan sendiri. Ini yang perlu kami perhatikan, kami latih di area itu.
Tim pelatih harus mempersiapkan formula menghadapi sistem poin 3x15 di awal tahun 2027. (Arsip PBSI)
Dari segi beban mental berarti otomatis bakal lebih berat?
Mental pasti, akan mendorong pemain harus lebih berani lagi menghadapi poin-poin yang semakin cepat.
Jadi kalau pemain salah saja sedikit, atau kalau pemain tidak bisa menebak arah bola, gampang mati, error sendiri, semakin rugi. Karena semakin tertinggal poinnya, semakin terbebani. Kalau selisihnya lima poin bagaimana? Misal 0-5 di awal, tiba-tiba semakin panik pastinya.
Apakah berarti berpengaruh juga pada segi fisik yang tidak akan selelah sekarang saat masih sistem 21 poin?
Daya tahan saya rasa tetap perlu, tetapi yang lebih penting diasah itu kekuatannya, power-endurance, reaksinya. Itu yang penting. Karena dengan sistem poin 15, memerlukan kecepatan, daya serang.
Tantangan Antonius Melatih Ganda Putra
Antonius bertekad untuk bisa membawa ganda putra Indonesia berprestasi di Olimpiade. (Arsip PBSI)
Anda memegang nomor ganda putra yang merupakan salah satu nomor yang disebut tidak pernah kekurangan bakat di Indonesia. Bagaimana perasaaan anda dan seberapa besar bebannya?
Beban pasti ada. Apalagi sektor ganda putra dari dulu kan sangat baik prestasinya. Memang saat saya masuk, dengan materi yang ada, saya berusaha untuk berusaha berprestasi, lebih baik lagi dari sebelumnya, fokus saya ke situ.
Karena memang sektor ganda putra itu dari zaman saya main, zaman senior saya main, itu prestasinya bagus, regenerasinya bagus. Kami harus berusaha mempertahankan, kalau bisa lebih baik lagi.
Tetapi waktu anda datang, keadaan di ganda putra Indonesia tak begitu baik. Ahsan/Hendra dan Kevin/Marcus sudah pensiun, pemain-pemain di bawahnya pun mungkin sedang merasa stagnan dan jenuh dari segi prestasi karena gagal lolos atau gagal berprestasi di Olimpiade 2024. Bagaimana melihat hal itu?
Itu memang kondisi saya ketika saya datang, saya dikasih materi yang ada. Ditinggal pemain-pemain senior seperti Ahsan/Hendra, Kevin dan Sinyo [Marcus]. Itu setengah mati itu.
Itu kan dulunya mereka panutan banget. Paling senior hanya ada Fajar/Rian, itu satu saja. Bagaimana caranya saya bisa mempertahankan prestasi sektor ganda putra atau menjadikan lebih baik lagi? Itu tantangan saya di situ terbilang luar biasa.
Kalau kamu tadi bilang itu berat, saya sudah terima tugas dan keadaan yang seperti iini, jadi saya hadapi. Pelan-pelan saya mencoba total untuk berusaha paling tidak ganda Indonesia bisa bersaing di level atas dunia.
Saat Antonius datang, Fajar/Rian jadi ganda putra paling senior di Pelatnas Cipayung. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Lalu soal kejenuhan prestasi di nomor ganda saat anda datang karena prestasi sedang stagnan. Bagaimana situasi yang anda rasakan di awal?
Ada perbedaan pelatih, pasti gaya melatihnya berbeda. Saya, Aryono, atau Herry IP, itu kan pasti beda gaya kepelatihannya.
Mereka sudah lama tuh sama Aryono, pernah juga sama Herry IP. Di situ yang awal-awal sangat berat buat saya.
Maksudnya mengubah kebiasaan yang sudah berjalan lama dalam pola latihan keseharian?
Iya dong. Walaupun kurang lebih sama ya kayak stroke, drilling, pola main. Tapi dengan gaya saya, dengan cara saya, tujuan saya untuk menaikkan standarnya pemain, kan beda-beda. Gayanya beda, caranya beda. Itu yang buat saya selama 1-3 bulan awal jadi tantangan bagi saya saat itu.
Dari pendapat sejumlah orang yang beredar, ganda Indonesia kini disebut punya defense yang lebih solid. Apakah anda memang memberi perhatian lebih pada penguatan defense sehingga ganda Indonesia tidak hanya terkenal karena serangannya saja?
Ya itu tadi, makanya saya bilang gayanya beda. Saya selalu melihatnya dari kekurangan atlet. Oh, atlet ini kurangnya di defense. Oh dia lebihnya di sini. Jadi porsinya saya bedakan. Secara individu, tergantung kebutuhan masing-masing atlet.
Kayak Fikri, Fajar, Leo, Daniel, dan lain-lain kan punya kelemahan dan kelebihan yang berbeda. Di situ porsi yang saya tingkatkan. Jadi misal saya merasa pemain defensenya kurang nih, mungkin bisa hampir tiap hari saya latih pola defense.
Waktu tawaran jadi pelatih ganda putra Pelatnas Cipayung ini datang, apakah anda langsung mengiyakan?
Saya ditawari Pak Waketum [Taufik Hidayat], istilahnya disuruh bantu di dalam PBSI. Terus saya merasa saya kan juga dibesarkan di PBSI. Saya rasa tidak ada salahnya saya membantu, mencoba di Pelatnas Cipayung. Tetapi kan pada saat itu saya belum tahu mau ditaruh di mana.
Berarti tidak langsung dibilang posisi pelatih ganda putra secara detail?
Enggak, tidak tahu saya. Tidak tahu ditaruh di mana. Tetapi ya masa saya ditaruh di tunggal putra? Kan gak mungkin, ya? Hahahaha
Jadi langsung mengiyakan tawaran tersebut?
Saya tidak langsung, saya bilang kasih saya waktu untuk berpikir. Karena saya butuh konsultasi dengan keluarga, sama klub PB Djarum, pimpinan klub. Saya juga harus izin, pamitan, diskusi juga sama keluarga.
Antonius menilai sukses di Asian Games berpengaruh besar terhadap sektor ganda putra. (Arsip PBSI)
Apakah anda sebelumnya pernah jadi pelatih di Pelatnas Cipayung?
Saya belum pernah. Setelah Thomas Cup tahun 2000, saya resign. Lalu saya kembali ke klub PB Djarum. Di sana saya melatih pemain-pemain junior kayak Ribka [Sugiarto], Ana [Febriana Dwipuji Kusuma], Masita [Mahmudin], terus Leo/Daniel, banyaklah. Anak didik saya semua itu.
Apa target terbesar anda sebagai pelatih ganda putra?
Pastinya saya ingin memastikan atlet saya bisa main di Olimpiade 2028 mendatang di Los Angeles. Saya berharap kalau sudah masuk Olimpiade, pasti targetnya juara, dapat medali. Target terbesar ya itu.
Seberapa besar pengaruh prestasi di Asian Games terhadap keyakinan anda dan tim ganda putra untuk menatap Olimpiade 2028?
Momen Asian Games ini sangat positif bagi atlet, agar supaya bisa dijaga. Prestasi di Asian Games bisa menambah motivasi, agar saya juga semakin banyak belajar lagi, semakin fokus lagi, dan saya juga lebih meningkatkan kualitas saya sebagai pelatih.