WAWANCARA EKSKLUSIF

Antonius Budi: Melatih dengan Melihat Kekurangan Atlet

Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Jumat, 09 Okt 2026 15:30 WIB
Pelatih ganda putra, Antonius Budi Ariantho. (Arsip PBSI)
Antonius Budi Ariantho punya tugas berat di nomor ganda putra. (Arsip PBSI)

Bagaimana penampilan Fajar/Fikri di Asian Games kemarin?

Bagus, mereka mainnya bagus. Cuma memang ada sedikit penurunan saat main di perorangan karena kondisi tubuh mereka. Sebelum berangkat, Fajar sempat kena virus, jadi lima hari tidak latihan. Tapi dengan waktu yang mepet kami maksimalkan agar dia bisa mengembalikan kondisi.

Tentu ada pengaruhnya hal itu tetapi secara keseluruhan, saya rasa penampilan mereka cukup baik. Cuma agak turun powernya saat main di semifinal lawan Liang Weikeng/Wang Chang. Kan memang bolanya agak berat, jadi mereka kehabisan power di situ.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Liang/Wang tidak mau main adu drive dan adu cepat di depan. Mereka mainnya buka terus, lalu defense.

Berarti saat Fajar/Fikri kalah di gim ketiga, mereka memang sudah kehabisan tenaga karena main dari beregu lalu lanjut perorangan secara beruntun dari hari ke hari?

Iya. Karena kan dari beregu langsung main perorangan. Tidak ada istirahat, langsung main.

Asian Games - Aichi-Nagoya 2026 - Badminton - Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Ichinomiya, Japan - September 29, 2026Gold medallists Indonesia's Leo R. Carnando and Daniel Marthin celebrate during the Men's Doubles Medal Ceremony along with bronze medallists Indonesia's Fajar Alfian and Muh. Shohibul Fikri REUTERS/Eloisa LopezFajar/Fikri merebut medali perunggu di nomor perorangan dan meraih emas di nomor beregu putra. (REUTERS/Eloisa Lopez)

Apakah Fajar/Fikri itu duet yang tercipta secara kebetulan atau memang ada rencana dari anda? Karena saat itu mereka main karena Rian sedang ada urusan keluarga dan Daniel sedang cedera.

Jujur, itu sebetulnya jalan Tuhan. Itu sudah jalannya, bukan kebetulan, jalannya memang ke situ. Memang pada saat itu Rian seperti kamu bilang ada urusan keuarga. Terus Daniel ada masalah cedera. Itu mau tidak mau dicoba supaya si Fikri tidak kehilangan suasana bertanding.

Karena Daniel kan agak lama istirahatnya. Kalau menunggu Daniel terus kan suasana bertanding, touch-nya Fikri hilang nanti.

Sementara kami coba di Jepang dan China, hasilnya baik. Ya, kami teruskan, coba. Mau tidak mau kan di PBSI targetnya juara, harus cari yang terbaik. Persaingannya seperti itu, secara individu atlet pun seperti itu, harus siap semua. Siapa tahu diganti atau cari pasangan yang terbaik, kan harus siap.

Berarti kalau saat itu Fajar juga tidak kosong, Fikri juga akan tetap dicarikan pasangan di periode akhir 2025?

Pasti, tidak mungkin saya biarkan menganggur. Karena masa mau menunggu Daniel selama setahun, nanti touch-nya hilang, suasana bertanding, feel-nya hilang. Makanya saya cari pasangan yang lain.

Tapi bila nanti Daniel kembali pulih, ya kami lihat, pasti bisa dicoba lagi sama Daniel. Tapi akhirnya kan memang jalannya Fikri sama si Fajar.

Anda membicarakan kesiapan dan fleksibilitas tukar pasangan. Apakah pasangan papan atas di Pelatnas Cipayung saat ini masih ada kemungkinan bongkar-pasang atau saat ini sudah tetap karena Race to Olympic sudah dekat?

Menurut saya, kalau sudah hampir sampai Race to Olympic, pasti saya tidak berani tukarf-tukar lagi karena waktunya tidak keburu. Kalau menurut saya, saya meyakini pasangan Fajar/Fikri, Leo/Daniel, terus Raymond/Joaquin [Raymond Indra/Nikolaus Joaquin], dan Ali/Devin [Ali Faathir Rayhan/Devin Artha Wahyudi] harus kami pertahankan. Dengan hasil-hasil seperti ini, masa kami mau bongkar pasangan lagi?

Di tahun depan, ada perubahan sistem poin jadi 15. Sejauh mana hal itu bakal mempengaruhi persaingan?

Pasti ada perubahan ya. Semakin poinnya sedikit, apalagi dengan sistem rally point, berarti pemain harus mengurangi kesalahan sendiri. Ini yang harus disiasati.

Contoh kayak servis, itu kan penting sekali. Servis, terima servis, tidak boleh melakukan kesalahan sendiri. Ini yang perlu kami perhatikan, kami latih di area itu.

Pelatih ganda putra, Antonius Budi Ariantho. (Arsip PBSI)Tim pelatih harus mempersiapkan formula menghadapi sistem poin 3x15 di awal tahun 2027. (Arsip PBSI)

Dari segi beban mental berarti otomatis bakal lebih berat?

Mental pasti, akan mendorong pemain harus lebih berani lagi menghadapi poin-poin yang semakin cepat.

Jadi kalau pemain salah saja sedikit, atau kalau pemain tidak bisa menebak arah bola, gampang mati, error sendiri, semakin rugi. Karena semakin tertinggal poinnya, semakin terbebani. Kalau selisihnya lima poin bagaimana? Misal 0-5 di awal, tiba-tiba semakin panik pastinya.

Apakah berarti berpengaruh juga pada segi fisik yang tidak akan selelah sekarang saat masih sistem 21 poin?

Daya tahan saya rasa tetap perlu, tetapi yang lebih penting diasah itu kekuatannya, power-endurance, reaksinya. Itu yang penting. Karena dengan sistem poin 15, memerlukan kecepatan, daya serang.

Tantangan Antonius Melatih Ganda Putra BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2 3