John Herdman dan Lintang Kemukus Timnas Indonesia
Setuju atau tidak, John Herdman kini setara Anatoli Polosin. Dua pelatih ini adalah yang memberi gelar juara mayor kepada Timnas Indonesia.
Polosin memberi gelar juara cabang olahraga sepak bola SEA Games 1991 dan Herdman kampiun FIFA ASEAN Cup 2026. Tak perlu dicari perbedaannya, yang pasti, dua-duanya memberikan medali emas.
Setelah mengembalikan status 'King of Asia Tenggara' kepada skuad Garuda, Herdman bersafari. Ia bertamu ke kantor media massa dan siniar. Sebagai seorang juara, ini sah-sah saja. Perlu, bahkan.
Bukan untuk menyombongkan pencapaian, tetapi untuk menyampaikan isi pikiran, meluapkan gagasan, juga melayangkan kritik; sudut pandang yang dimarinasi selama sembilan bulan berada di Nusantara.
Mau membedah rumus sukses, membongkar detail-detail kecil dalam latihan, juga mimpi-mimpi besar yang ingin diraih, bukan soal. "Juara, mah bebas." Begitu kata anak-anak sekolah sepak bola (SSB).
Herdman telah menjadi pria sejarah. Luis Milla dan Shin Tae Yong, sebagai contoh, begitu dicinta oleh fan Timnas Indonesia pada masanya, tetapi kisahnya tidak abadi. Herdman akan kekal seperti Polosin.
Secara hiperbola, Herdman telah menjadi lintang kemukus Timnas Indonesia. Dalam mitologi Jawa atau ilmu titen, lintang kemukus diartikan sebagai tetenger (tanda) akan datangnya kejadian besar.
Kejadian besar yang dimaksud lebih berkonotasi negatif, seperti pageblug (wabah penyakit), bencana, atau kekacauan. Namun, lintang kemukus juga bisa diartikan sebagai pertanda baik.
Lintang kemukus, yang dalam istilah astronomi disebut komet, kalau datang dari arah barat, dominan diartikan sebagai pertanda hadirnya pemimpin yang mampu membawa ke arah lebih baik.
Dan, Herdman datang dari barat, bukan utara, selatan, atau timur. Ya, ini cuma cocokologi; konfirmasi bias; apofenia. Sama sekali tidak ilmiah dan bukan fakta. Ini cuma bunga-bunga usai Indonesia juara.
Kalau Herdman adalah lintang kemukus dari barat, akan jadi apa, seperti apa, dan bagaimana Timnas Indonesia pada masa-masa mendatang? Lolos Piala Dunia 2030? Yakin? Mari kita bedah.