Jelang MotoGP Qatar, Bagnaia Lebih Takut Bandara Ditutup Ketimbang Bom
Pembalap Ducati Francesco Bagnaia mengungkapkan lebih takut bandara ditutup ketimbang bom menjelang MotoGP Qatar 2026 di sirkuit Lusail, 6-8 November.
Pelaksanaan MotoGP Qatar 2026 menjadi kontroversi karena digelar di tengah krisis di Timur Tengah. Dorna Sports selaku penyelenggara ngotot menggelar seri ke-20 MotoGP 2026 ini.
Sementara sejumlah pembalap memiliki kekhawatiran mengenai situasi di Qatar dan Timur Tengah. Muncul rumor sebagian pembalap memilih menolak membalap. Yamaha dan Pramac jadi tim beserta pembalapnya yang menolak hadir di MotoGP Qatar.
Namun pada akhirnya, banyak pembalap terpaksa datang ke Qatar dan melakoni balapan. Francesco Bagnaia jadi salah satu pembalap yang memiliki ketakutan saat tampil di MotoGP Qatar 2026.
"Persis seperti yang saya harapkan. Memang benar, saya sedikit khawatir. Saya tidak bisa menyembunyikan apa yang saya rasakan sebelum tiba di sini, namun saya memutuskan untuk mempercayai sepenuhnya Dorna, penyelenggara, IRTA dan Pemerintah," kata Bagnaia dikutip dari Motosan.
"Saya pikir semua orang bekerja demi keselamatan kami dan telah memberikan hampir semua yang kami minta," ucap Bagnaia menambahkan.
Bagnaia berharap suasana di paddock saat MotoGP Qatar berlangsung sama seperti balapan sebelumnya. Meski begitu, Bagnaia juga mengungkapkan ketakutan yang dirasakannya sejak tiba di Qatar.
"Kami harus bekerja sama, lebih baik melakukannya dengan cara ini dan saya pikir itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Saya berharap suasana di paddock seperti akhir pekan biasa," tutur Bagnaia.
"Saya merasa di sini kita tidak boleh takut dengan bom. Satu-satunya ketakutan yang kita miliki adalah mereka akan menutup bandara. Tapi saya percaya mereka dan saya ingin terus melakukan itu," ujar Bagnaia melanjutkan.
(sry/jun)