Indikasi kesalahan yang ditemukan oleh Kementerian, adalah menggunakan teknisi tidak bersertifikat untuk produksi kendaraan di pasar domestik Jepang.
Pernyataan itu mencuat usai Nissan mengumumkan rencana untuk menarik 1,2 juta unit kendaraan penumpang yang dipasarkan di Jepang dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Honda Mulai Tutup Pabrik di Kampung Halaman |
"Sangat disesalkan, karena hal ini menyebabkan kecemasan pengguna pengguna dan mengguncang dasar sistem sertifikasi. Kementerian akan bekerja untuk mengetahu seberapa luas praktik itu diketahui," ucap Menteri Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Keiichi Ishii seperti dilaporkan Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai inspeksi tersebut, Nissan berencana membuat keputusan untuk menunda pengiriman ribuan unit kendaraan untuk dilakukan inspeksi ulang. Nissan sudah siap dengan keluhan yang akan didapatkan dari pelanggan dan diler.
Penggunaan personel tidak bersertifikat tergolong sebagai kesalahan besar kedua yang melibatkan produsen mobil Jepang dalam waktu kurang dari dua tahun.
Sebelumnya, Mitsubishi Motors juga mengaku pihaknya sempat menjadi 'korban' inspeksi pemerintah. Bedanya, Mitsubishi mengakui bahwa mereka mengacaukan pengujian konsumsi bahan bakar untuk beberapa model yang dipasarkan di Negeri Sakura. (evn)