Direktur Sales dan Marketing Goodyear Indonesia Herman Kusnadi, mengatakan bahwa pabrik tersebut sedianya berfungsi sebagai dapur pembuatan ban dengan kapasitas 12 ribu per hari.
"Ada tiga jenis komuditi ya, dari ban segmen penumpang, komersial hingga pertanian kaya traktor dan semacamnya," kata Herman saat kunjungan media ke pabrik Goodyear, kemarin (19/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski sudah memiliki pabrik, Goodyear sendiri masih melakukan impor ban guna memenuhi kebutuhan dalam negeri. Herman beralasan, ada beberapa jenis ban yang memang tidak dapat diproduksi di pabriknya itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu segmen tertentu dan hanya sedikit, kaya run flat tyre. Lalu mayoritas jualan kami tetap produksi lokal sekitar 90 persen sisanya, baru impor," ujarnya.
Bersama para pewarta lain, CNNIndonesia.com juga sempat berkeliling melihat dapur pembuatan ban milik Goodyear. Ada berbagai area dalam pabrik, yang mana terdiri dari pengolahan lembaran karet, tempat percetakan sampai dengan proses akhir, yakni pengecekan manual ban oleh karyawan.
Mesin-mesin besar tampak berjejer, terutama untuk melakukan pres dan mencetak ban sesuai ukuran serta model yang diinginkan. Satu kali cetak sebuah ban besar, dibutuhkan waktu sekira lebih 20 menit.
Jangan sesekali memegang ban yang baru saja dicetak, lantaran panas seperti keluar dari mesin pemanggang.
Sebelum pengecekan akhir melalui mesin, ban yang sudah siap wajib melewati proses manual oleh karyawan. Tiap operator akan mengecek tiap sisi menggunakan tangan dan jika ada kesalahan, ban tersebut akan dipisahkan lalu diberi tanda.
"Saya tidak terlalu pasti ada berapa jumlah mesin yang beroperasi. Tetapi untuk jumlah karyasan kami ada 900 orang," kata Herman.
Sayangnya, Goodyear tidak mengizinkan kegiatan selama di pabriknya diabadikan dalam visual apapun. (eks)