Padahal sebelumnya, secara rutin Suzuki selalu mengekspor sekitar 100-150 mobil per bulan ke Vietnam. Jumlah itu terdiri dari dua jenis low multi purpose vehicle (LMPV) Suzuki, yaitu Ertiga dan APV. Akibatnya Suzuki mengalami kerugian akibat dari penundaan ekspor tersebut.
"Kami tidak bisa estimasi (total kerugian), setiap bulan kirim antara 100-150 unit. Itu juga belum sama ongkos pengiriman unit ke Vietnam," kata Marketing Direktur 4W Suzuki Indomobil Sales (SIS) Donny Saputra kepada CNNIndonesia.com, Selasa (30/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihaknya berharap, penundaan ekspor ke Vietnam tidak akan berlangsung lama. Terlebih, Donny melihat sudah ada upaya dari pemerintah Indonesia agar pemerintah Vietnam kembali membuka impor kendaraan dari Indonesia. "Harapan kami ya secepatnya bisa berjalan lagi. Semoga tidak terlalu lama ya kejadian seperti ini," tegas Donny.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
TMMIN sendiri memproyeksi dana menguap sebesar Rp3 triliun selama satu tahun pengetatan ekspor mobil ke Vietnam. Ini lebih besar dari kerugian SIS dan ADM.
Dikabaran sebelumnya, peraturan Pemerintah Vietnam No. 116/2017IND-CP tanggal 17 Oktober 2017, tentang persyaratan produksi dan impor kendaraan bermotor, yang efektif berlaku mulai tanggal 01 Januari 2018.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) merespon dengan melayangkan surat bernomor 02/PG/XII/2017 yang disampaikan ke Menteri Perdagangan Republik Indonesia Enggartasto Lukita, tertanggal 06 Desember 2017, Gaikindo menyebut jika kinerja ekspor otomotif dari Indonesia mengalami masalah. (mik)