Merek mobil Jepang itu sebenarnya sudah bermimpi bangun pabrik di dalam negeri sejak 7 tahun silam, atau sejak Mazda di bawah kendali Mazda Motor Indonesia (MMI). Namun, rencana tersebut tak kunjung terealisasi akibat penjualan Mazda di Indonesia belum maksimal.
"Jadi mereka (prinsipal Mazda) fokus dan punya rencana nanti kalau capai penjualan sudah mencapai 15 ribu setahun, ya mungkin bisa membangun perakitan di sini (Indonesia)," kata Presiden Direktur EMI Roy Arman Arfandy di Jakarta, kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami lihat ada banyak kebijakan untuk memperkuat mobil bersih. Dan kami lagi nunggu. Kami tidak terlalu buru-buru juga, takutnya ada perubahan kebijakan, kami harus menyesuaikan," ucap Roy.
Lihat juga:Mazda-Toyota Kembangkan Mesin Rotary |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kami tunggu aja. Tapi untuk pasar hibrid atau listrik rasanya (pabrik itu) belum untuk Asean, (pabrik di Indonesia) hanya konvensional (yang ditujukan ke pasar Asean)," kata Roy.
Sementara itu untuk penjualan Mazda di Indonesia selama 2017 tidak mencapai target. Penjualan retail Mazda hanya berjumlah 4.000-an unit, sedangkan target 5.000 unit. Memasuki 2018, EMI percaya diri dengan menaikkan target penjualan menjadi 6.000 unit, di mana tulang punggung penjualan diharapkan datang dari Mazda2.
Wholesales (penjualan dari pabrik ke dealer) Mazda berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) selama 2017 berjumlah 3.861 unit. Dan Mazda2 mendominasi penjualan sebanyak 1.361 unit. (mik)