Sejak Ford Motor Indonesia (FMI) berhenti beroperasi pada 2016, RMA Indonesia berperan sebagai pihak yang mengawal layanan purna jual buat para konsumen. Pada tahun pertama bekerja, RMA Indonesia sudah mengungkap keinginannya tidak hanya berbisnis purna jual tetapi juga menjual mobil merek Amerika.
Awal tahun ini RMA Indonesia sempat dikabarkan ingin memulai penjualan mobil Ford pada Juli. Namun diketahui rencana itu tertunda sebab pihak RMA Indonesia mengatakan masih butuh waktu.
Presiden Direktur Auto Kencana Group Andee Yoestong menjelaskan sudah berbicara dengan RMA Indonesia tentang penjualan kembali mobil Ford. Dia mengatakan sudah menyiapkan dua dealer untuk melakukan itu, yakni di Jakarta dan Medan.
Lihat juga:Penjualan Mobil Ford di Indonesia Tertunda |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nostalgia
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Andee hal itu tidak masalah. Buat dia itu seperti nostalgia saat masa awal FMI berdiri di Indonesia pada 2000 kemudian mulai menjual model pertama, Ranger, pada 2001.
"Awalnya masuk ke Indonesia kan juga begitu, yang bikin ada pasar double cabin itu kan Ford, sebagai pelopor. Jadi enggak masalah karena sudah pernah," ucap Andee.
"Jadi ya tergantung harga, masalahnya harga kan belum tahu. Kalau kualitas barang, (Ranger) masih banyak dicari, tambang masih banyak yang cari," ungkap Andee.
"Ya mesti bersaing, mungkin Rp300 juta sampai Rp400 juta mestinya, tapi mungkin berat. Saya bilang berat, karena dia (RMA Indonesia) masih impor semua. Saya belum tahu posisinya RMA Indonesia sebagai apa, kalau distributor kan dapat keuntungan perdagangan bebas, nol persen. Tapi kalau bukan sebagai distributor, kalau dia tidak dapat itu dari pabrik, makin mahal," kata Andee lagi.
Pusat produksi Ranger di ada di Thailand, Afrika Selatan, dan Argentina. Ranger yang pernah dijual di Indonesia diimpor dari Thailand. Indonesia dan Thailand merupakan Negara yang termasuk dalam Asean Free Trade Area (AFTA). Salah satu isi perjanjian AFTA yaitu tidak ada hambatan pajak bea masuk alias bisa nol persen sesama negara di Asean. (mik)