Pemerintah menjelaskan implementasi biodiesel B20 bisa mengurangi impor Solar sebanyak US$2,3 miliar hingga Desember mendatang. Namun kebijakan itu dianggap menimbulkan efek negatif, di mana cairan di dalamnnya disebut-sebut dapat merusak komponen mesin mobil penumpang, sebab mobil diesel yang beredar atau dipasarkan saat ini didesain tidak untuk 'meneguk' biodiesel B20.
Seperti dikatakan Head Dealer Technical Support PT Toyota-Astra Motor (TAM) Didi Ahadi bahwa mobil-mobil penumpang bermesin diesel yang 'dihantui' seperti Fortuner dan mobil sekelas yang telah menggunakan teknologi common-rail.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan Didi tidak sebanding dengan Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohanes Nangoi yang menyatakan bahwa penggunaan bahan bakar biodiesel B20 tidak akan memberi dampak negatif pada kendaraan mesin diesel, dengan syarat pemiliknya harus menguras tangki dan mengganti saringan bahan bakar lebih cepat dari biasanya.
Lihat juga:Cara Hindari Efek Buruk Solar B20 |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bisa (pakai B20), tapi berkaitan dengan kualitas mesin. Jadi itu kan juga dipengaruhi sama iklim di sini kondisi panas karena Indonesia negara tropis," ucap Jodie.
Dari hasil uji internal MMKIS menggunakan Pajero Sport dan Triton, ternyata mereka tidak menemukan adanya masalah. Penggunaan B20 kemungkinan akan memperpendek usia filter bahan bakar dan masa servis kendaraan lebih cepat dari sebelumnya.
"Kami sudah melakukan pengetesan bahan bakar diesel B20 pada produk yang kami pasarkan dan sejauh ini kami tidak menemukan masalah signifikan. Jadi kesimpulannya kami support program B20 yang dicanangkan oleh pemerintah," tutup Imam. (mik)