CNNIndonesia.com yang hadir di acara peresmian menemukan minimnya pencahayaan saat menjajal ruas tol Ngawi-Kertosono-Kediri Segmen Wilangan-Kertosono. Tentu saja apabila kondisi lampu depan mobil tidak baik, maka akan membahayakan pengendara yang hendak menggunakan tol sepanjang 37,9 Km ini.
Pendiri dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Palubuhu menyarankan bahwa agar pengemudi mengurangi aktivitas mengendarai mobil pada malam hari di tol Trans Jawa. Langkah preventif ini dilakukan agar pengendara bisa mencegah bertambahnya risiko kecelakaan akibat terbatasnya visibilitas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jam biologis itu ditakdirkan Tuhan bahwa malam hari kondisi akan menurun. karena oksigen juga mengecil. Sistem pencahayaan atau visibilitas jadi menurun," ujar Jusri.
Jusri menegaskan jika kondisi lalu lintas pada malam hari yang sepi juga membuat otak akan berpikir monoton, sehingga menyebabkan rasa bosan yang berujung ke rasa kantuk.
"Jadi dari keempat poin itu dari segi safety riding malam hari tidak disarankan," ucap Jusri.
Kendati demikian apabila pengemudi terpaksa berkendara pada malam hari di jalan tol dengan alasan tertentu, Jusri menyarankan agar tidak memacu kendaraan lebih dari 80 kpj guna menghindari risiko kecelakaan.
"Kalau misalnya kecepatan ideal di rute sampai 80 kilometer per jam. Kecepatan harus di bawah itu, bisa 70 kilometer per jam atau 60 kilometer per jam," imbuh Jusri.
Jalan Tol Trans Jawa memiliki panjang 736,59 km. Tol tersebut dimulai dari Pejagan-Pemalang, Pemalang-Batang, Batang-Semarang, Semarang-Solo, Solo-Ngawi, Ngawi-Kertosono, Kertosono-Mojokerto, Mojokerto-Surabaya, Gempol-Pasuruan, Pasuruan-Probolinggo dan Probolinggo-Banyuwangi. (mik/jnp/fea)