Dalam genggaman grup Indomobil, merek Renault seperti 'harimau tanpa taring', meski sekembalinya Renault ke industri otomotif Indonesia secara besar-besaran melalui pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2015.
Sekitar tiga tahun sejak pengumuman tersebut, nyatanya Renault tidak mampu menarik antusiasme konsumen. Mobil-mobil Renault tak sanggup berkompetisi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Komisaris PT Indomobil Sukses Internasional Tbk Subronto Laras tak bisa menyangkal jika anjloknya penjualan Renault disebut imbas dari ketidakseriusan prinsipal dalam mengarungi industri otomotif dalam negeri, salah satunya tidak ada komitmen untuk mendirikan fasilitas pabrik atau strategi merakit lokal mobil di Indonesia.
Dalam catatan CNNIndonesia.com, Renault meresmikan 'butik dealer' di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta dan sekitarnya. Namun konsep 'unik' itu belum bisa meningkatkan selera konsumen pada Renault.
Lihat juga:Indomobil Menjawab Alasan Melepas Renault |
Atas dasar itu Indomobil 'rela' melepas keagenan Renault yang dinilai 'tak ada gunanya'. Pola bisnis Renault kala itu justru dianggapnya menambah beban perusahaan.
"Perkembangan (industri otomotif Indonesia) ke depan sudah berubah. Izin impor tidak gampang, tidak ada gunanya buat kami. Kalau kami enggak punya pabrik (produksi Renault di dalam negeri) buat apa?," kata Subronto.
Di lain sisi, Agen Pemegang Merek (APM) Renault yang baru, Maxindo Renault Indonesia mengaku optimistis Renault bisa kembali bangkit, meski masih merahasiakan target penjualan per tahun.
COO Maxindo Renault Indonesia Davy J Tuilan hanya bisa menyampaikan bahwa pihaknya sudah menyiapkan strategi, salah satunya meluncurkan mobil 'murah' tujuh penumpang. (ryh/mik)