EDUKASI & FITUR
Fortuner Kecelakaan Saat Hujan di Tol: Waspada 'Aquaplaning'
Senin, 04 Feb 2019 13:15 WIB
Hati-hati aquaplaning menyebabkan traksi ban pada permukaan aspal berkurang. (Foto: morgueFile/gracey)
Dalam video tersebut terlihat Fortuner warna putih melaju kencang di lajur paling kanan. Sepersekian detik kemudian, mobil hilang keseimbangan kemudian menabrak pembatas jalan yang berada di sebelah kiri. Mobil terseret dan akhirnya terbalik.
Akun achmad_subechi mengunggah bahwa kamera dasbor merekam insiden pada 25 Januari 2019. Ia juga menulis "Hati2 ngebut di jalan basah, resiko bahaya aquaplaning/hydroplaning sangat besar."
Praktis kecelakaan yang melibatkan SUV berprofil jangkung tersebut mendapat perhatian dari para warganet.
Lihat juga:Potensi Curah Hujan Tinggi |
Untuk diketahui aquaplaning merupakan kondisi traksi ban ke permukaan aspal tidak maksimal karena terhalang lapisan air. Dalam kondisi seperti itu kendaraan cenderung sulit dikendalikan dan bisa berujung kecelakaan.
Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu menjelaskan bahwa faktor-faktor itu misalnya kecepatan yang terlalu tinggi saat melewati genangan air atau kondisi ban tidak sehat.
"Pada saat di permukaan datar sekali pun, genangan air 1 cm saja menjadi lapisan film yang memisahkan permukaan ban dan permukaan jalan. Lapisan film ini yang jelas, secara analogi, akan mengurangi cengkeraman ban dari permukaan jalan," ucap Jusri.
Jusri menganalogikan saat kendaraan ngebut melewati genangan air 1 cm seperti batu tipis yang dilempar ke permukaan danau. Pada kondisi seperti itu sangat sulit sekali mengendalikan kemudi.
"Ketika terlalu cepat, ya selip. Jadi antisipasinya begitu jalan basah, kurangi kecepatan, ada genangan air kurangi kecepatan. Kalau kita lalai, teknik recovery-nya yang pertama jangan mengerem, lalu mengarahkan roda depan ke arah selip," ujar Jusri.
Pada kendaraan manual dikatakan pengemudi harus sigap menekan kopling sementara pada otomatis segera memindahkan tuas transmisi dari posisi D (Drive) ke N (Netral).
"Bila lari ke kiri, setir tekuk ke kiri, baru di-counter ke kanan, ini dilakukan berkali-kali sambil menekan kopling. Tujuannya memutuskan tenaga mesin ke roda dan membuat putaran roda-roda bebas sehingga kecepatan putaran roda akan sama dengan momentum," jelas Jusri.
Pengereman dikatakan bisa dilakukan ketika kendaraan sudah dalam posisi bisa dikendalikan.
"Rem yang dilakukan seketika itu malah bisa berbahaya. Kalau turun gigi (seperti praktek engine brake), dia akan menahan momentum atau kecepatan massa. Kecepatan massa ini kan tidak terlihat," tutup Jusri. (ryh/mik)
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
Lepas Buka Suara Usai L8 Patah Komponen As Roda dan Muncul Getaran
Otomotif • 11 jam yang laluTerbang di Cibubur, ETLE Drone Patrol Rekam 30 Pelanggar Lalu Lintas
Otomotif • 1 hari yang laluMotor Listrik Tak Dapat Insentif Tahun Ini
Otomotif • 1 hari yang laluGaikindo Target Penjualan Mobil Baru 2026 Mencapai 850 Ribu
Otomotif • 1 hari yang laluTak Kalah dari Zenix, Ini Alasan Innova Reborn Masih Laris Manis di RI
Otomotif • 1 hari yang laluLAINNYA DARI DETIKNETWORK