Menurut dia, harapan merek Mercedes-Benz terdaftar kembali menjadi anggota bisa terealisasi pada periode semester satu tahun ini. Namun lebih spesifik soal itu tidak disebutkan.
"Maunya sih tahun ini ya, ya segeralah semester satu ini," kata pria yang karib dipanggil Kari ini di Senayan, Jakarta, Kamis (7/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan Mercedes-Benz, ketentuan Gaikindo bertolak belakang dengan aturan prinsipalnya di Jerman. Sementara itu Gaikindo berdalih aturan aturan tersebut merupakan permintaan langsung dari pemerintah Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi ini kami tidak minta pengecualian. Maunya masuk ke sana ikuti aturan di sana tapi tidak bertentangan dengan aturan yang lain," ucap Kari.
Kari melanjutkan walau penjualan terus melonjak tanpa Gaikindo, Mercedes-Benz tetap butuh asosiasi. Diketahui pasca dipecat, pada 2018 penjualan retail Mercedes-Benz naik menjadi 3.859 unit dari 2017, 3.386 unit.
Kari menjelaskan pihaknya butuh asosiasi untuk memperkuat masukannya kala berdiskusi dengan pemerintah terutama soal regulasi otomotif. Kendati demikian, menurutnya bukan berarti tanpa Gaikindo, Mercedes-Benz tidak bisa menyampaikan usulan sendiri.
"Karena memang banyak manfaatnya. Istilahnya kami di komunitas kan, saling update kebijakan, terus kami bisa menyuarakan kebijakan ke Pemerintah kan ada wadah yang terstruktur. Misalnya pengambilan kebijakan untuk otomotif pasti pemerintah ajak Gaikindo berdiskusi, itu lebih efektif dibandingkan satu persatu," katanya.
"Usulan (kami) banyak, tergantung topiknya. Sekarang sedang dalam proses penggodokan CO2 tax session, adjustment luxury tax, kemudian harmonisasi. Jadi banyak topik, jadi memang banyak stakeholder," ungkap Kari. (ryh/fea)