Maka dari itu setiap produsen otomotif mendesain produknya sedinamis mungkin guna mengejar dua kata tersebut.
Untuk mempermudah benda melewati udara yang berujung pada konsumsi BBM, dalam industri otomotif dikenal istilah coefficient of drag (Cd/koefisien drag/hambatan). Semakin kecil angka Cd suatu kendaraan, maka semakin maksimal gerak mobil dan tentunya meningkatkan efisiensi bahan bakar kendaraan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Mengenal Guna 'Bandul' di Ujung Setang Motor |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya cara mereduksi hambatan dengan memikirkan desain depan, samping, belakang dan bawah. Dari sisi desain, bagian yang paling mempengaruhi hambatan, yaitu bagian depan pada sebuah kendaraan. Desain lekukan atau garis pada sisi samping juga berpengaruh untuk memecah angin.
"Perpaduan antara design (bentuk) dan dimensi. Semakin besar bidang yang menerpa hambatan semakin besar pula beban kendaraan dalam menerpa hambatan, bisa mengakibatkan ketidakstabilan dan boros bahan bakar," kata Didi kepada CNNIndonesia.com, Senin (18/2).
Sementara itu, nilai koefisien drag yang tinggi bisa berdampak saat mobil bergerak pada kecepatan tinggi. Sebab semakin tinggi angkanya, semakin sulit akselerasi mobil, dan berujung semakin banyak bahan bakar yang digunakan.
Head of Brand Development and Marketing Research Suzuki Indomobil Sales (SIS) divisi roda empat Harold Donnel menyampaikan bahwa koefisien drag termasuk ke dalam pengujian untuk mengetahui seberapa besar daya hambatan yang dilalui angin terhadap sebuah mobil.
"Uji tersebut biasanya dilakukan dalam wind tunnel (terowongan tempat pengujian mobil) terhadap sebuah objek (bisa real atau miniatur dengan spesifikasi tertentu). Semakin dinamis desainnya, maka nilainya (Cd) semakin kecil," tutup Harold. (ryh/mik)