Menurut Bambang semakin macet pada ruas jalan yang menerapkan ERP, praktis tarif ERP per mobil yang dikenakan bakal semakin mahal.
Namun Bambang mengaku belum mengetahui besaran tarif untuk ERP Jakarta. Ia menjelaskan di sejumlah negara sekali melintas tarifnya mulai Rp5 ribu hingga Rp20 ribuan per mobil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Timbang-timbang Rencana Tarif MRT Rp8.500 |
"Tarif progresif. Ini sistemnya orang yang membuat kemacetan akan dikenai cash. Itu dilihat semacet apa kondisi jalannya. Makin macet ya makin mahal. Kalau jalan kosong dan lancar biaya makin murah," kata Bambang dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (19/3).
Bambang menjelaskan saat ini BPTJ tengah mendorong agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera merestui sistem tersebut, terutama penerapan di daerah 'Ring 1' meliputi kawasan MH Thamrin-Sudirman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi tidak ada lagi alasan mana angkutan massalnya. Nah ini sudah ada angkutan masal, supaya berpindah semua. Jadi BPTJ mendorong untuk segera karena kewenangan ada di Pemprov DKI," kata Bambang.
Bambang menambahkan bahwa memang seharusnya ERP segera diterapkan juga karena sistem ganjil genap dinilai tidak lagi cocok mengawal kemacetan Ibukota. Kemacetan terpantau terus meningkat meski ganjil genap berlaku saat ini.
"(Siap atau tidak) Ya kami dorong (Pemprov DKI). Kalau enggak makin parah ini," tutup Bambang. (ryh/mik)