Blue Bird menyediakan 25 unit e6 dan lima unit Model X sebagai tahap awal. Operasional mobil listrik yang masuk dalam divisi e-Taxi ini bakal mulai melayani masyarakat pada 1 Mei 2019 atau tepat saat Blue Bird berusia 47 tahun.
Mobil listrik BYD e6 resmi jadi taksi Bluebird. (Foto: Dok. Istimewa) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Blue Bird penggunaan mobil listrik ini berkaitan dengan program ketahanan dan bauran energi listrik nasional serta program mengurangi penggunaan dan subsidi bahan bakar minyak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mobil listrik Tesla Model X 75D A/T resmi jadi taksi Silverbird. (Foto: Dok. Istimewa) |
Blue Bird memulai bisnis dengan mengoperasikan taksi pertama Holden Torana bermesin 6-silinder 2.834 cc karburator pada 1972. Pada zamannya, taksi ini belum punya power steering dan pendingin kabin serta menggunakan 'argo jewer' dan alat komunikasi radio konvensional.
Sejak saat itu Blue Bird sudah pernah gonta-ganti jenis mobil berbagai merek, mulai dari Nissan, Toyota, Hyundai, hingga Hyundai, termasuk juga mengoperasikan taksi berbahan bakar gas pada 1990an. Bisnis juga telah berkembang hingga melahirkan Golden Bird, Big Bird, dan Silver Bird.
Direktur Blue Bird Tbk Adrianto Djokosoetono menjelaskan sebelum ada upaya perusahaan menghadirkan taksi listrik, dirinya ditanya oleh pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Kementerian Perhubungan, "Apa yang perusahaan taksi bisa lakukan untuk mengurangi emisi?"
"Selama setahun kemudian kami menghadap ke lebih dari lima instansi ... untuk membuat rencana yang pada hari ini kami selesaikan menjadi realisasi," kata Adrianto.
"Kami harap ini dapat diikuti pelaku transportasi lainnya. Kami masih perusahaan taksi terbesar, 36 ribu unit, sehingga kami mempunyai tanggung jawab menjadi katalis dan membuat kendaraan listrik dalam skala ekonomi sehingga bisa membuat dampak pada industri kita," ucap Adrianto lagi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mengatakan pihaknya bakal mendukung pengoperasian taksi listrik. Jonan bahkan bilang mempersilakan Blue Bird berkordinasi dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk memasang stasiun fast charging di markas Blue Bird di kawasan Mampang, Jakarta Selatan.
"Berunding saja dengan PLN, bisa 25 menit. Kalau fast charging-nya 6 jam, ini baru 30 unit, nanti kalau 3 ribu unit setengah mati," kata Jonan.
Jonan juga bilang agar usaha baru ini dikembangkan. Dia menyoroti kemudahan pengadaan taksi listrik karena tidak kena bea masuk dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). (fea)

