Airlangga menyebut mobil bermesin bakar juga berhak mendapat insentif pembebasan pajak buat masuk ke Australia.
"Terbuka juga, (bea masuk) nol juga," kata Airlangga di Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (25/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pilihan Redaksi |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Airlangga mengatakan Indonesia sangat tertarik memanfaatkan kerjasama itu, terlebih saat ini Australia tidak lagi memiliki produsen otomotif. Selain itu pasar mobil Australia menggiurkan sebab mampu menjual lebih 1 juta unit per tahun.
Airlangga yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar ini menyampaikan, meski CEPA sudah diteken, perjanjian tersebut saat ini masih menunggu tahap ratifikasi antar parlemen kedua negara.
Meski terbuka buat mobil mesin bakar, Airlangga bilang prioritas ekspor menuju Australia dari Indonesia tetap ditujukan kepada mobil listrik yang punya kandungan lokal minimal 35 persen. Nilai kandungan tersebut, kata dia, sudah mendapat insentif nol persen, sementara mobil mesin bakar tidak dijabarkan syaratnya.
"Jadi ini peluang besar bagi electric vehicle (EV) Indonesia. Bukan hanya dalam negeri tapi juga pasar Australia," ungkapnya.
Lebih jauh ia belum dapat memastikan kapan ratifikasi usai, termasuk siapa saja produsen yang telah menyatakan kesiapan membidik Australia dalam waktu dekat.
"Ya kalau ekspor ini masih tunggu ratifikasi, terus bangun basis produksi, ketiga EV harus melakukan pre marketing dulu di Indonesia," kata Airlangga. (ryh/fea)