Angin pada umumnya dipakai buat mendorong sisa-sisa oli bekas yang tertinggal di ruang mesin. Praktek ini biasa dilakukan di bengkel-bengkel pinggir jalan yang ingin ganti oli dengan cepat, setelah disemprot oli baru bisa langsung dimasukkan, konsumen bayar, lantas pekerjaan selesai.
Cara tersebut memang efektif, namun diketahui berdampak negatif bagi mesin kendaraan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ganti oli yang benar saat pengurasan hanya dibiarkan. Dengan gaya gravitasi, oli akan turun sendiri," kata Didi melalui pesan singkat, Selasa (18/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angin kompresor dikatakan bisa menjadi akses air masuk ke ruang mesin. Air dan oli tidak pernah akur, keberadaannya di internal mesin jadi pengganggu.
Jika air sudah masuk ke ruang mesin efeknya cukup banyak, mulai dari selip kopling sampai berisiko menyebabkan mesin jebol.
Tidak hanya uap, tekanan angin pada kompresor juga berisiko membebaskan kotoran yang sudah tersaring pada di saringan oli.
Rata-rata jenis kotoran di mesin berbentuk partikel yang ukurannya kecil. Jika terkena semprotan, kotoran itu justru bisa kembali lepas dan akhirnya menempel ke sela-sela komponen mesin.
Salah satu konsekuensi menguras oli pakai gravitasi yakni butuh waktu lebih lama. Namun, mengingat pentingnya menjaga ruang mesin tetap sehat untuk pemakaian awet kendaraan cara ini patut dipertimbangkan.
"Memang rada lama jika dengan gaya gravitasi," kata Didi. (ryh/fea)