Tanpa mesin pembakaran dalam, kendaraan listrik tidak butuh banyak pelumas. Secara alamiah, bila semakin banyak kendaraan listrik maka permintaan pelumas akan berkurang dan hal itu sudah dipandang serius oleh produsen pelumas besar di Tanah Air, Pertamina Lubricants.
Direktur Penjualan dan Pemasaran Pertamina Lubricants Andria Nusa mengakui industri pelumas hanya punya 5 - 10 tahun di Indonesia sebelum ada penurunan drastis permintaan pelumas otomotif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kementerian Perindustrian saat ini tinggal sedikit lagi menelurkan regulasi Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) yang meliputi Low Cost Green Car (LCGC) jilid dua, kendaraan listrik (murni listrik dan hybrid), serta flexy engine.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menargetkan pada 2025 sekitar 20 persen kendaraan yang diproduksi lokal adalah kendaraan berbasis listrik. Pada 2030 ditargetkan Indonesia menjadi basis produksi kendaraan berbasis listrik buat pasar domestik dan ekspor.
Andria menjelaskan sebagian strategi menghadapi itu dengan diversifikasi bisnis. Salah satu yang diungkap lagi diupayakan adalah masuk ke bidang baterai.
"Sekarang kita ya harus diversifikasi, kalau kami mikir akan bisnis baterai, charging. Dan kita punya SPBU itu banyak, kita bisa, stasiun charging paling tidak bisa kita buat, enggak begitu susah cari lahan," ungkap Andria.
Pertamina diketahui sedang menjajaki kerja sama bisnis untuk menjadi pemasok baterai skuter listrik Gesits, Gesits Technology Indo (GTI). Konsep yang ditawarkan adalah model tukar baterai di jaringan SPBU.
"Kebetulan dari Pertamina sudah ada kerja sama baterai untuk menyediakan baterai Gesits, swap baterai jadi kita yang bisnis seperti tabung LPG. Tapi kan bertahap, kita jualan olinya tetap. Ya harus mulai diversifikasi," ucap Andria.
[Gambas:Video CNN] (fea)